Maulana Al Habib Umar bin Ahmad Al Muthohar Semarang menjelaskan salah satu keistimewaan Habib Ja’far yang terjadi pada tahun 1992 saat menyampaikan mauidzah hasanah di Gebyog Mejobo Kudus memperingati tujuh hari wafatnya Habib Ja’far Al Kaaf (9 Januari 2021). Kisah ini saat Habib Umar perjalanan ziarah ke Kudus, Pati hingga Surabaya.

Perjalanan di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur sudah jam 02.30 tengah malam. Habib Ja’far tidur di mobil Jimmi. Sesampai di perbatasan Jawa Timur, Habib Ja’far bangun dan njawil Sayid Umar Al Mutahar .

“ente due konco opo ora neng kene?

Ono Bib, jenenge Habib Agiel Baagil

“Mampir”

“Habib Agiel iku ora bongso awak dewe melek bengi, iki bongso tukang buka toko. Awak arep mampir tengah wengi. Ora enak Bib”

“Ora, wes angger mampir”

Hingga masuk Kota Tuban, Habib Ja’far masih dawuh: “Mampir” sampai tiga kali.

Habib Umar paham, jika Habib Ja’far sudah dawuh berulang-ulang pasti ada sesuatu.

Akhirnya Habib Umar mampir ke rumah temannya di Tuban.

Bidznillah. Pekarangan rumah Habib Agiel terbuka dan bel rumah dibunyikan. Tidak ada lima menit, pintu terbuka.

Begitu melihat Habib Umar datang, rasa bahagia Habib Agiel jelas sekali.

“Alhamdulillah, alhamdulillah. Mburimu sopo?…” tanya Habib Agiel ke Habib Umar.

“”Iki Habib Ja’far” jawab Habib Umar.

Melihat ada Habib Ja’far hadir ke rumah, sang tuan rumah berteriak keras “Alhamdulillah”. Istrinya juga keluar dan mengucapkan “Alhamdulillah”.

Habib Umar makin penasaran kok tuan rumah sangat bahagia kalau dirinya hadir bersama Habib Ja’far.

Ternyata, Habib Agiel mencari nomor Habib Umar dan telpon berkali-kali ke Tanah Mas (rumah Habib Umar) tidak sambung. Tujuannya adalah ada hajat penting dan ingin minta do’a Habib Ja’far. 

“Giel, yang ngajak kesini bukan saya. Yang ngajak kesini itu Habib Ja’far” tegas Habib Umar.

“La ilaha illallah, Masya Allah, Allahu Akbar” teriak Habib Aqiel.

Ketika Habib Ja’far dan Habib Umar dipersilahkan duduk, subnanallah. Habib Ja’far itu sudah seperti kenal berpuluh tahun. Padahal Habib Ja’far tidak mengenal sebelumnya.

“Aku arep turu neng kamarmu” kata Habib Ja’far kepada tuan rumah.

Subhanallah. Sprei kamar masih bagus tertata rapi, pertanda belum dipakai tidur. Dan tuan rumah memang belum tidur karena memikirkan punya masalah. Akhirnya jam 03.00 Habib Ja’far tidur pulas.

Pada saat masjid dan musholla itu mulai ngaji, Habib Ja’far bangun dan minta dibuatkan kopi dua gelas, untuk Habib Ja’far dan Habib Umar.

Habib Ja’far memanggil tuan rumah bersama istrinya. Tanpa dikasih pengantar oleh tuan rumah, Habib Ja’far langsung bertanya: “Koe nduwe masalah opo?…”

Akhirnya tuan rumah bercerita hingga menangis. Dan minta putusan dari Habib Ja’far karena pagi hari jam 07.00 harus ada keputusan. Akhirnya Habib Ja’far yang membuat keputusan. Dan habis membuat keputusan minum kopi lagi dan berdo’a.

“Wes yuk mlaku neng Surabaya” ajak Habib Ja’far untuk melanjutkan ziarah.

Jadi Habib Ja’far minta ke rumah Habib Agiel adalah mencarikan solusi permasalahan yang dihadapi teman Habib Umar. Subhanallah. Allahu Akbar Allahu Akbar.

“Kulo nyekseni kados ngoten niku pun bolak-balik, ping piro-piro mawon” tegas Habib Umar Muthohar.*)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *