Setelah kita mbahas hakikat niat dan elemen2 penting dalam niat, maka kita mbahas gimana hakikat niat ikhlas itu. Imam Ghozali dawuh bahwa hakikat ikhlas itu

تجرد الباعث الواحد

“Memurnikan tujuan amal pada satu tujuan”

Dan semua usaha untuk membersihkan distraksi yg bikin gak fokus pada satu tujuan disebut kholis.

Lawan ikhlas adalah menduakan atau isyrok. Yaitu bila tujuan amalnya itu dua atau lebih. Segala sesuatu yang tidak fokus pada satu tujuan adalah isyrok. Pelaku isyrok disebut musyrik. Makanya pelaku riya’ itu disebut musyrik sughro atau pelaku syirik kecil.

Ikhlas ini perlu diharapkan agar bisa termasuk anggota rombongan orang2 beriman yg diridhoi Gusti Allah. Kalo udah masuk rombongan, pasti dalam lindungan-Nya.

Gusti Allah berfirman

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah hanya milik Gusti Allah lah agama yang bisa memurnikan hati” (Az Zumar 3)

Gusti Allah berfirman

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Mereka hanya disuruh supaya menyembah Gusti Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus” (Al Bayyinah 5)

Gusti Allah berfirman

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“Kecuali orang-orang yang taubat dan memperbaiki dirinya dan hanya memandang pada Gusti Allah dan tulus ikhlas melaksanakan perintah agama mereka karena Allah. Maka mereka di akhirat akan satu rombongan dgn para waliyullah yg punya hakikat iman”

Ikhlas itu sesuatu yang tidak bisa disadari, tidak bisa dingat-ingat dan tidak bisa disebut oleh semua makhluk. Hanya Gusti Allah yang mengetahuinya. Namun ikhlas bisa diharapkan kalo udah punya rasa senang. Kalo kita senang dan amal seakan jadi hobby, kita tidak terbebani amal itu. Kita merasa tidak beramal saking senangnya. Kadang amal remeh yg berulang-ulang dilakukan, sehingga gak pernah diingat-ingat, tapi karena merasa itu hobby dan kesenangannya, maka hal itu yg bisa jadi indikasi ikhlas.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh dalam hadits qudsi

الإخلاص سر من سري، استودعته قلب من أحببته من عبادي، لا يطلع عليه ملك فيكتب، ولا شيطان فيفسد

“Ikhlas adalah rahasia dari rahasia-Ku yang Aku letakkan di dalam hati setiap orang yang Aku cintai dari semua hamba-Hamba-Ku، tidak ada malaikat yang melihat untuk mencatatnya dan tidak pula setan melihat untuk merusak niatnya”

Kanjeng Nabi SAW dawuh pada Sayyidina Mu’adz

أخلص العمل، يجزيك القليل منه

“Murnikan amalmu, maka yang sedikit akan bikin kamu senang”

Kanjeng Nabi SAW dawuh

ما من عبد يخلص العمل أربعين يوما إلا ظهرت ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه

“Tanda hamba yang beramal secara ikhlas selama 40 hari adalah tercurahnya hikmah dari hatinya dan keluar melalui lisannya”

Imam Hasan Al Bashri dawuh

علامة الحقيقة ترك ملاحظة العمل لا ترك العمل

“Tanda pencapaian hakikat (ikhlas) adalah tidak mengingat-ingat amal baik yang sudah dikerjakan, bukan meninggalkan amal baik”

Kepada Gusti Allah sajalah kita letakkan cinta kita. Maka, kita kudu seneng pada Gusti Allah, biar dalam beramal, cuma memandang Gusti Allah. Kalo udah seneng dan hobby bercengkrama dgn Gusti Allah, perasaan punya amal itu akan hilang.

Setelah membahas bagaimana niat yang ikhlas itu, Imam Ghozali kemudian membahas tentang buahnya ikhlas, yaitu kemuliaan ikhlas yang disebut shidqun.

Dalam ihya’ Ulumiddin, shidqun itu maqom khouf yang tertinggi. Jadi menurut kitab tersebut, khouf itu ada tiga derajat maqom :

  1. Derajat takut yang paling minim adalah menahan diri dari hal-hal yang dilarang, yang dinamakan maqom wara’. 
  • Jika kekuatan takut bertambah, maka akan menahan diri dari hal-hal yang tidak diyakini keharamannya, hal ini dinamakan maqom takwa. 
  • Jika pada rasa takut tergabung dengan usaha untuk memurnikan waktunya hanya semata untuk melayani Gusti Allah, sehingga tidak membangun rumah yang tidak akan ditempati selamanya, tidak mengumpulkan harta yang tidak akan dimakan, dan tidak menoleh kepada kesenangan dunia karena mengetahui bahwa dunia itu akan berpisah dengannya, sehingga tidak mempergunakan satu nafaspun selain untuk Gusti Allah, maka hal ini dinamakan maqom shidqun atau pembenaran dan pengakuan secara jujur atas ajaran Gusti Allah dan Kanjeng Rosul SAW. Orang yang shidqun dinamakan shiddiq.

Jadi, takwa bagian dari shidqun, wara’ bagian dari takwa, dan iffah (meninggalkan yang haram) bagian dari wara’.

Dawuh Gusti Allah dalam AL Ahzab 23

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا

“Dan di antara orang2 mukmin itu ada orang yang shiddiq yang menepati janji mereka kepada Gusti Allah, lalu di antara mereka ada yang gugur, dan ada di antara mereka yang menunggu-nunggu kematiannya namun mereka tidak pernah ingkar janji”

Menurut jumhur ulama, maqom shiddiq ini lebih tinggi dari maqom syuhada. Hal itu bisa dilihat dari gelar orang terdekat setelah Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu Sayyidina Abu Bakr yang bergelar Ash Shiddiq. Sementara setelah Sayyidina Abu Bakar, diberi kenikmatan Asy Syahid.

Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya shiddiq itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang beperilaku shiddiq, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang shiddiq. Sementara bohong akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku bohong, hingga ia dikatakan sebagai pembohong”

Artinya, orang shiddiq ini lahir batinnya sama. Ngomong iman, ya iman beneran gak kaleng-kaleng. Disebut pembohong kalo ngomong iman, tapi masih masih suka nggosip misalnya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *