_”Jika kamu durhaka pada tuhanmu kemudian dipagi hari engkau masih temui nikmat-nikmat-Nya yang banyak untukmu maka takutlah! Sesungguhnya yang demikian adalah istidraj.”_
Hatim Al-Asham
Sebaik-baik budak adalah yang patuh pada tuannya. Begitu pula sebaik-baik hamba adalah yang patut pada Tuhannya. Semakin seorang mukmin takut pada tuhannya maka semakin tinggi derajat ketakwaannya. Sebab itulah mukmin yang sejati sangat takut melakukan hal-hal yang dilarang. Termasuk di antaranya melakukan kemaksiatan.
Bagaimanapun kemaksiatan atau kedurhakaan sesorang mukmin adalah sesuatu yang buruk nilainya di sisi Allah Swt. Apalagi Allah tidak mengurangi rizki seorang mukmin yang ia berikan semata-mata maksiat. Sebab itulah, maka agak janggal jika seorang mukmin–dengan segala fasilitas yang ia terima–kemudian mendurhakai Tuhan dengan kemaksiatan yang ia lakukan.
Boleh jadi dengan keberlangsungan rizki Allah pada hamba-Nya, namun si hamba tadi tidak kunjung berhenti melakukan kemaksiatan, maka itulah jebakan yang nyata. Jebakan yang kemudian disebut dengan _istidraj._ Hal ini mirip dengan ungkapan sufi besar Hatim Al-Asham, yang mengatakan, “Jika kamu durhaka pada tuhanmu kemudian dipagi hari engkau masih temui nikmat-nikmat-Nya yang banyak untukmu maka takutlah! Sesungguhnya yang demikian adalah _istidraj_.”
Penjelasan Hatim Al-Asham di atas, cukup terang kiranya untuk menggambarkan bahwa maksiat yang disertai dengan terus menerusnya nikmat yang diberikan adalah _istidraj_ atau jebakan. Jebakan yang kemudian dapat menjadi alasan hukuman atau siksaan dikemudian hari. Jika yang demikian mungkin terjadi pada diri kita, maka sepatutnya harus kita harus waspada dan berhati-hati. Sebelum kelak kita merasakan penyesalan yang tiada guna.
Kehati-hatian seperti ini sangat perlu. Sebab sedikit sekali orang yang kemudian lolos dari _istidraj_ ini. Dapat nikmat namun konsisten masiat, pada akhirnya ditimpa laknat.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 15-02-2021.

No responses yet