Haul Pangeran Diponegoro, Gus Milal Ziarah ke Makam KH Imam Puro Purworejo

0
746

Purworejo, jaringansantri.com – KH Imam Puro adalah salah satu sosok ulama besar yang merupakan guru para kiai Purworejo. Ia hidup pada zaman perang Diponegoro dan dimakamkan di lereng Bukit Geger Menjangan Desa Candi, Kecamatan Baledono Purworejo, Jawa Tengah.

Dalam agenda “Jelajah Nusantara”, Makbaroh Kyai Imam Puro menjadi salah satu tujuan Zainul Milal Bizawie. Saat ia berziarah pada pada Ahad 7 Januari 2018, makam Kyai Imam Puro tampak sepi. Tidak seperti biasanya yang selalu ramai oleh para peziarah dari berbagai daerah.

Peziarah dapat memilih dua akses menuju makam. Naik ojek akan menempuh jarak 1,5 km atau ditempuh dengan jalan kaki, bisa melalui jalur manual sekitar 5 menit. Tangga jalur ini cukup lebar dan tidak terlalu menanjak, sehingga peziarah tidak gampang capek.

Menurut Gus Milal sendiri, Kyai Imam Puro adalah bagian penting dari jejaring ulama Nusantara dari pasukan Pangeran Diponegoro di wilayah selatan.

Kunjungan ziarah ke sini, terang Gus Milal, bertepatan dengan haul Pangeran Diponegoro. “Hari ini bertepatan dengan haul Pangeran Diponegoro, saya ingin napak jelas di makam-makam pasukan Diponegoro di wilayah Jogja dan Jateng,” tutur sejarawan dari kalangan santri ini.

Selain makam kyai Imam Puro, Gus Milal juga mengunjungi makam dan situs sejarah yang berhubungan dengan perjalanan Pangeran Diponegoro. Khususnya di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta termasuk di Bukit Prigi Kebumen, tempat Pangeran dirayu Kapt Clerens untuk berunding yang berujung penangkapan.

Kepada jaringansantri.com Gus Milal mengatakan “Syaikh Imam Puro akan masuk dalam buku Masterpiece Islam Nusantara edisi 2”, katanya.

Siapakah KH. Imam Puro ?

Nama aslinya ialah Khasan Benawi. Namun tidak banyak warga mengenal nama tersebut. Tidak banyak juga masyarakat memahami perjuangan KH Imam Puro menyebarkan Islam.

Khasan Benawi merupakan putra dari Joko Umbaran yang merupakan kerabat dekat Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam. Setelah belajar agama Islam, Khasan Benawi hijrah ke Purworejo dan menetap di Dusun Ngemplak Desa Sidomulyo Kecamatan Purworejo, kemudian dikenal sebagai KH Raden Imam Puro.

KH Imam Puro menyebarkan Islam dan mendirikan pondok pesantren. Murid sang kyai mulai dari Purworejo hingga luar daerah, bahkan luar Jawa. Sepulang menimba ilmu di Ngemplak, para santri kembali ke kampung halamannya kemudian menyebarkan Islam.

Menyebarkan Islam pada masa kolonial, bukan perkara mudah. Tantangan datang dari penjajah Belanda yang tidak ingin Islam dan rakyat Indonesia maju. “Kesewenang-wenangan itu dilawan, selain ilmu agama yang tinggi, KH Imam Puro juga digdaya, punya kesaktian lebih dari manusia lainnya,” tuturnya.

Khasan Benawi merupakan keturunan ke 8 dari Joko Umbaran atau Pangeran Purbaya yang merupakan kerabat dekat Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam. Setelah belajar agama Islam, Khasan Benawi hijrah ke Purworejo dan menetap di Dusun Ngemplak Desa Sidomulyo Kecamatan Purworejo, kemudian dikenal sebagai KH Raden Imam Puro.

KH Imam Puro menyebarkan Islam dan mendirikan pondok pesantren. Murid sang kyai mulai dari Purworejo hingga luar daerah, bahkan luar Jawa. Sepulang menimba ilmu di Ngemplak, para santri kembali ke kampung halamannya kemudian menyebarkan Islam.

Kyai Imam Poero yang akrab dipanggil Mbah Kunawi adalah keturunan ke sembilan dari Sultan Agung, Raja Mataram terbesar. Kyai Imam Poero yang hidup di kurun tahun 1800-1900an ini merupakan ulama termashur lain yang di miliki Kabupaten Purworejo. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Sidomulyo, Ngemplak, Purworejo yang sekarang bernama Al-Islah. Kyai Imam Poero juga dikenal sebagai pembawa pertama Tarekat Syattariyah di Purworejo. Tarekat ini diperoleh dari Kiai Guru Loning atau Syekh Mansyur Rofi’i, adik darik Kiai Taftazani (Guru utama Pangeran Diponegoro).

Dalam mengembangkan Tarekat Sattariyah yang pengikutnya kian hari kian banyak, Kyai Imam Poero pernah ditahan Belanda karena pondok pesantrenya dicurigai melakukan kegiatan keagamaan yang memusuhi Belanda. Tapi entah bagaimana, Kyai Imam Poero lalu dibebaskan lagi dalam beberapa hari kemudian.

Memiliki Karomah Setingkat Wali ?

Dalam penuturan Gus Milal, Kyai Imam Poero terlibat juga dalam Perang Diponedoro yang punya tujuan mengenyahkan Belanda dari Tanah Jawa. Sebagai Ulama yang memiliki jumlah santri melimpah, Kyai Imam Poero banyak memberikan bantuan bagi Laskar Diponegoro.

Di sisi lain, Kyai Imam Poero disebut-sebut memiliki drajat setara Wali karena beberapa kelebihanya yang ada pada dirinya. Dari kisah yang diyakini kebenaranya, semasa hidupnya dulu, Kyai Imam Poero senantiasa melakukan Sholat Jum’at di Mekah walaupun jasadnya tetap berada di Purworejo.

Kisah ini dibuktikan lewat penuturan seorang jamaah haji Kebumen yang tertinggal oleh rombonganya di Tanah Suci. Saat itu, untuk pergi haji harus lewat kapal laut yang memakan waktu sangat lama. Jamaah haji yang “ketinggalan kapal” ini akhirnya bisa kembali pulag ke Kebumen dengan hanya digandeng tanganya (seperti terbang) oleh Kyai Imam Poero yang ditemui saat sholat Jum’at di Mekkah. Padahal di hari Jum’at yang sama, beberapa orang lain juga mengaku bertemu Kyai Imam Poero di Purworejo.

Selain Kiai Imam Puro, Gus Milal juga mengunjungi Kyai Banjar, Kyai Guru Loning, Bukit Prigi, Panembahan agung Kajoran, Pangeran Trunojoyo, Benteng Van Der Wich dan lain sebagainya. (Ahmad Ridho).