Tangerang Selatan, jaringansantri.com – Kekayaan intelekual Islam di Nusantara yang terekam salam naskah-naskah atau manuskrip kuno, salah satunya bisa didapatkan di kesultanan-kesultanan Islam. Salah satunya di Kesultanan Siak yang masih menyimpan arsip-arsip dokumentasi Kesultanan.

Hal ini dibahas dalam kajian turats ulama Nusantara di Islam Nusantara Center (INC) dengan tema “Arsip-arsip & Manuskrip Kesultanan Siak Sri Inderapura : Permata Peradaban Melayu yang Tercampakkan”. Menjadi pemateri kajian ini adalah A. Ginanjar Sya’ban dan Zainul Milal Bizawie (Gus Milal).

Kesultanan Siak didirikan tahun 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Syah (Raja Kecik), Pangeran Johor dan besar di Pagaruyung (Minang). Menjadi Kesultanan yang berdaulat, kaya, kuat, dan strategis.
Wilayahnya meliputi Riau saat ini dan Sebagian Semenanjung.

A. Ginanjar menyebutkan beberapa sumber sejarah Kesultanan Siak, antara lain :
1) Hikayat Siak, manuskrip tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia (PNRI) (nomor kode?). Ditahqiq dan diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Melayu, Malaysia, 1992. 2) Syair Perang Siak, manuskrip tersimpan di Perpustakaan Leiden. Ditahqiq oleh Donald J Gouide. 3) Syair Raja Siak 4) Hikayat Hang Tuah, ManuskripKoleksi PNRI JakartaML 207.

“Arsip-arsip Kesultanan Siak sangat banyak. Kita mestinya dapat meneliti dan mengetahui apa isinya, bagaimana sistem dan pengelolaan Kesultanan,” kata filolog santri ini.

“Sayang, untuk membukanya harus izin resmi ke pemda. Harus dengan surat dan ribet sekali. Perlu kerjasama dengan pemerintah setempat untuk melakukan kerja besar ini,” imbuhnya.

Ketika berkunjung ke Riau, cerita Ginanjar, ia bertemu bertemu cucu dari supir pribadi sultan Siak. Banyak cerita menarik tentang Siak. “Tetapi ketika ditanya, apa ada manuskrip peninggalan ulama Siak? Ia tidak tahu,” ujarnya.

Santri Lirboyo ini menduga akan ada banyak informasi terkait manuskrip ulama Nusantara yang menjadi mufti, jika arsip-arsip Kesultanan bisa diakses. “Karena jika membaca tradisi keberagamaan Islam di Siak, ya Islam tradisional seperti kita, Islam NU,” tandasnya.

Ginanjar Sya’ban meyakini ulama-ulama Kesultanan Siak tergabung dalam jaringan ulama Nusantara di Timur Tengah. “Terkait ini mungkin bisa dibaca dalam bukunya Gus Milal, Masterpiece Islam Nusantara,” terang direktur INC ini.

Sedangkan Gus Milal menambahkan bahwa penelitian pada naskah dan manuskrip di kesultanan itu penting sekali. “Dalam rangka untuk mengetahui seperti apa produk hukumnya, seperti apa sistem ketatanegaraannya. Ini adalah bagian dari identitas kebanggaan nasional yang harus dibangkitkan,” tandasnya.

Sehingga, lanjut Gus Milal, kita bisa melakukan perbandingan bahwa perjalanan sejarah bangsa ini begitu panjang untuk mendapatkan sebuah formulasi untuk sistem negara yang kuat. Inilah yang menjadi titik tengah berdirinya Indonesia raya ini.

Terakhir, ia mengatakan bahwa nasionalisme itu harus berawal dari kebanggaan dari sebuah bangsa. Bukan kebanggaan pada sebuah bangsa yang dijajah. Tapi kebanggaan pada sebuah bangsa yang punya peradaban. Sebuah bangsa yang memiliki akar peradaban yang kuat, dengan khasanah keilmuan yang kaya.(Damar Pamungkas)