Oleh: Selfia Darmawati, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hikayat Nabi Wafat adalah naskah yang tersebar di berbagai belahan dunia. Naskah ini sangat populer pada masanya, sehingga banyak yang menyalin dan menulis ulang cerita tersebut. Naskah yang tersebar memiliki corak masing-masing. Judul dari hikayat ini pun berbeda-beda, seperti Ceritera tatkala Bagnda Rasul Allah akan Pulang ke Rahmat Allah ta’ala, Hikayat Peri Menyatakan Nabi Wafat, Hikayat tatkala Nabi Pulang Ke Rahmat Allah, dan sebagainya.
Di era teknologi seperti sekarang, tidak sulit untuk mengakses keragaman naskah tersebut. Aktivitas digitalisasi naskah mulai banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga yang fokus pada bidang manuskrip dan penaskahan. Begitupun dengan naskah ini yang dapat diakses di Perpustakaan Universitas Leiden, yakni Royal Institute for Linguistics and Anthropology Leiden, atau digitalisasi oleh SOAS University of London, dan tak ketinggalan, Perpustakaan Nasional juga mendigitalisasi hikayat ini dalam perpustakaan digital mereka.
Ragam Variasi Hikayat Nabi Wafat
Di nusantara sendiri, manuskrip Hikayat Nabi Wafat hadir dengan berbagai versi. Pada temuan di perpustakaan digital SOAS University of London, hikayat ini diikuti dengan beberapa rangkaian cerita lain, seperti Hikayat Raja Jumjumah, Syair Ikan, Hikayat Sitti Zubaidah, Hikayat Nabi bercukur, Hikayat Sitti Fatimah Berkahwin dengan ‘Ali, hingga Hikayat Nur Muhammad. Naskah yang ditemukan di sini ditulis menggunakan aksara jawi yang ramah untuk dibaca. Tulisannya rapi dan kondisi naskahnya pun baik.
Lain cerita dengan Hikayat Nabi Wafat yang terdapat di Perpusatkaan Nasional Jakarta. Hikayat ini dituangkan dalam beberapa bagian, yakni Hikayat Nabi Wafat I, Hikayat Nabi Wafat II, Hikayat Nabi Wafat III, Hikayat Nabi Wafat IV, dan Hikayat Nabi Wafat V. Setiap bagian ini berada di halaman-halaman yang berbeda, dengan rangkaian cerita yang berbeda pula. Ada yang turut menyatut cerita Raja Khaibar, ada pula yang hanya hanya menuliskan Hikayat Nabi Bercukur dan Hikayat Nabi Wafat saja. Tetapi, ciri khas yang terdapat pada digitalisasi perpusnas adalah adanya bagian yang berisi pujian-pujian disertai pemberian nomor oleh penyalin. Sayangnya, naskah yang disimpan oleh perpusnas merupakan naskah yang kondisinya tidak terlalu baik. Terdapat beberapa sobekan dan terdapat tanda bekas air pada sebagian besar naskah.
Alur cerita pada setiap naskah pun berbeda. Pada koleksi perpusnas, ada yang dibuka dengan nama hikayat dan bacaan bismillah, dan adapun yang tidak. Sedangkan, pada koleksi di digital SOAS University of London, cerita dibuka dengan ratapan sedih akan ditinggalkan Nabi. Begitu pula dengan isi cerita, ada yang menyertakan kisah nabi berpamitan ke masjid, ada yang tidak. Ada yang menyatut kisah Akasa dan hutang nabi, ada yang tidak. Ada yang menulis pertemuan jibril dan malaikat maut dengan nabi, ada pula yang tidak.
Akasah, Cemeti Kuda, dan Kecintaan Sahabat Terhadap Nabi
Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, hikayat ini ditulis dengan ragam versi dan corak masing-masing. Alur ceritanya pun beragam. Tetapi, satu hal yang tetap nampak pada setiap naskah adalah bukti kecintaan sahabat yang mendalam terhadap nabi.
Gambaran kecintaan sahabat terhadap nabi muncul pada peristiwa ketika nabi memberi khutbah Jumat dan berpamitan kepada Jemaah di masjid. Jemaah sontak menangis dan meledaklah suasana haru. Dalam hikayat tersebut ditulis, kepada siapa kami akan lari, kepada siapa kami akan mengadukan nasib kami, dan kepada siapa kami akan mengadukan hal ihwal kami.
Dalam hikayat tersebut, diceritakan bahwa ketika memberi khutbah Jumat, nabi bertanya apakah ia masih memiliki utang atau pernah menyakiti seseorang? Kemudian berdirilah Akasah. Ia menyatakan bahwa saat perang badar, nabi pernah memalunya dengan cemeti kuda. Maka, mendengar itu, Rasulullah menyuruh Bilal untuk mengambilkan cemeti kuda di rumahnya.
Sesampainya di rumah Fatimah, Fatimah enggan untuk memberikan cemeti kuda itu kepada Bilal. Fatimah tidak tega ayahnya yang uzur dan akan segera pulang ke rahmatullah harus dipalu dengan cemeti kuda. Fatimah meminta agar dirinya saja yang menggantikan Rasulullah untuk dipalu. Rupanya, tak hanya Fatimah, melainkan Abu Bakar dan Ali juga memohon kepada Akasah untuk menggantikan Rasulullah. Tetapi, Rasulullah menolak. Rasul berkata, ia malu jika di hari kiamat nanti terlihat masih memiliki utang pernah menyakiti orang lain.
Kemudian, diambillah cemeti kuda dari tangan Bilal. Rasulullah melepas pakaiannya, karena Akasah berkata, saat itu ia dipalu dengan pakaian terbuka. Lalu, setelah itu, Akasah bukannya memalu nabi dengan cemeti kuda, melainkan ia memeluk dan mencium nabi. Ia berujar, Ya Rasulullah, ya junjunganku, telah hamba perolehlah seperti kehendak hati hambamu. Sontak wajah Akasah bercahaya dan Jemaah pun terkagum-kagum. Lagi-lagi, suasana haru kembali merebak.
Sepenggal peristiwa Akasah dalam Hikayat Wafat Nabi ini menjadi bukti kecintaan sahabat terhadap Nabi. Betapa para sahabat, seperti Abu Bakar, Ali, hingga Fatimah sampai rela menyerahkan diri untuk menggantikan Rasulullah dipalu. Begitupun Akasah, sebagai seseorang yang pernah tidak sengaja disakiti oleh nabi, ia bukannya membalas hal yang sama, melainkan malah memeluk dan mencium nabi. Sungguh merupakan kecintaan yang mendalam terhadap Rasulullah.
Hikayat ini begitu populer dan ditulis berulang-ulang, karena selain memuat cerita keagamaan, nilai-nilai yang disampaikan juga begitu baik. Hikayat ini mengajak pembacanya untuk berefleksi, sudah sedalam apakah kita mencintai nabi? Selain itu, hikayat ini juga menceritakan salah satu sifat teladan rasul, yakni betapa rasul tidak mau memiliki utang sebelum ia meninggal, bahkan di usianya yang udzur, rasulullah rela untuk dipalu oleh Akasah agar di hari akhir nanti, ia tidak memiliki hutang dan tanggungan pernah menyakiti orang lain.
Gambar: Manuskrip Hikayat Nabi Wafat Publikasi Digital SOAS

No responses yet