Seringkali di bulan suci Ramadhan ini kita mendengar ustadz menasehati kita agar banyak membaca sholawat kepada Kanjeng nabi Muhammad. Sebab konon pahalanya kontan dibalas dengan 10 kebajikan dan 10 penghapusan dosa. Bukan hanya itu saja, sholawat bisa mendatangkan keberkahan lain yang tiada henti di antaranya adalah datangnya rejeki. Begitu semangatnya tidak sedikit para jama’ah kemudian membentuk group sholawat dan melantunkannya setiap Selasa dan atau malam Jum’at. Bahkan tidak jarang dilantunkan dengan pelontar suara, alias speaker di mushola dan masjid yang suaranya bahkan bisa didengar dalam radius kilometer. Begitu kerasnya suara toa tersebut sehingga jika kita berbincang atau katakanlah menyimak bacaan Al Qur’an di sekitar mushola dan atau masjid tak akan terdengar. Jadilah ibadah-ibadah lain yang dilakukan orang lain jadi terganggu karena kerasnya suara Toa. Padahal nabi dengan tegas menasehati Umar agar melirihkan bacaannya yang keras dan meminta Abu Bakar untuk sedikit menaikkan volume bacaan yang terlalu lirih. Begitulah “ahlaq” nabi dalam hal suara dalam beribadah yang harus mempertimbangkan etika dan kondisi lingkungan.
Banyak di antara kita orang yang memahami hadist dan juga ayat Al Qur’an sebatas terjemah dan melupakan konteks dan latar belakang teks ketika muncul. Apalagi mengaitkan dengan ayat dan hadist yang lain untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh. Bahkan yang umum dilakukan adalah memperlakukan ayat dan atau hadist tersebut sebatas sebagai “sumber pahala”. Bukan sumber inspirasi memahami hikmah di dalamnya. Sama dengan ayat dan hadist perintah bersholawat ini. Padahal kalau kita renungkan bagaimana mungkin sebuah aktivitas bersholawat tersebut bisa memiliki kemuliaan di atas ibadah lainnya. Bahkan untuk bersholawat kepada nabi Muhammad Allah sendiri yang “memimpin” para malaikat, sambil memerintahkan manusia khususnya mereka yang beriman untuk bersholawat.
Mari kita baca perlahan perintah sholawat ini dalam perspektif iqra’. Membaca sholawat kepada nabi Muhammad memerlukan syarat iman, syarat ini sangat penting agar kita punya kesungguhan untuk membaca pribadi nabi sebagai manusia “terpilih”. Membaca sejarah hidup nabi tanpa iman yang cukup, hanya sebatas melahirkan pengetahuan sejarah saja. Padahal tujuan kehadiran nabi adalah sebagai teladan baik nan mulia atau uswah Hasanah. Dalam bahasa lain nabi adalah sumber nilai spiritual dan ideologis yang mutlak. Itulah sebabnya kenapa persaksian keimanan dan keislaman kita harus menyandingkan Nama Allah dan sekaligus nabi Muhammad. Atau yang kita kenal dengan persaksian dua kalimat syahadat. Kalimat suci inilah yang menjembatani Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan hamba Nya (manusia) yang dalam hal ini diwakili sosok pribadi mulia Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Dalam konteks inilah Sebagai orang yang beriman, sudah seharusnya kita meneladani ahlaq nabi dalam segala aspeknya.
Setelah memahami perintah sholawat dengan melihat kehadiran Rasulullah dalam bingkai keimanan yang utuh, kita juga harus memahami ekspresi keimanan dan keislaman nabi dalam kesehariannya. Ekspresi keimanan dan keislaman beliau inilah yang harus kita jadikan cermin hidup. Bagaimana kita seharusnya memahami dan mengamalkan rasa iman dan Islam dalam kehidupan keseharian kita. Terutama dalam berhubungan dengan Allah dan mahluk ciptaan Nya. Kita tentu ingat dengan firman-Nya yang arti sederhananya adalah “Dan tidaklah Aku utus engkau Muhammad kecuali sebagai sebuah Rahmat bagi seluruh alam.” Kita tentu juga tahu akan ucapan Rasulullah: ” Aku diutus (oleh Allah) hanya untuk menyempurnakan ahlaq.” Itulah kenapa kita disuruh bersholawat (mendoakan) kepada nabi Muhammad yang merima tugas Maha Berat sebagai nabi akhir zaman. Nabi yang harus menjaga kemuliaan iman dan Islam dalam ekspresi yang ramah dan penuh Rahmat atau kasih sayang.
Terakhir bersholawat itu adalah sebuah jembatan untuk meraih puncak spiritualitas manusia yang beriman, berislam untuk mencapai maqam Ihsan. Sebuah derajat yang mengharuskan kita bukan saja taat dalam memegang teguh prinsip iman dan Islam, tetapi juga melahirkan keduanya dalam ekspresi ahlaq hati, ucapan dan perbuatan yang paling Fitra dan mencerminkan sifat-sifat Allah yang mulia. Di antaranya lembut, pemaaf dan mengayomi semuanya dengan penuh rasa keadilan. Bersholawat ternyata bukan sekedar perbuatan lisan semata, lebih dair itu sholawat adalah totalitas keimanan, keislaman dan keihsanan. Sehingga setiap sholawat yang bernilai pahala agung itu harusnya lahir dari ketulusan hati dalam beriman, kecerdasan berislam dengan akal pikiran dan kemuliaan ahlaq dalam berihsan. Allah-lah yang Maha Tahu. #SeriPaijo

No responses yet