Saat ada satu peristiwa yang menimpa kita berulang kali, kita terbawa perasaan di dalamnya, entah senang atau sedih. Atau saat kita terkagum-kagum melihat megahnya antariksa di jagat raya lewat You Tube. Atau saat kita membaca Qur’an lalu ada ayat yang sederhana tapi sangat berkesan mendalam bagi kita. Percayalah bahwa Gusti Allah sedang berbicara pada kita dan berkehendak memberitahukan sesuatu pada kita lewat ciptaan-Nya dengan sifat Kalam-Nya yang Azali dan Qodim.
Kalam sebagai sifat Gusti Allah adalah sifat yang pasti adanya (wajib) secara akal. Tidak mungkin Gusti Allah bisu (bukmu). Andai bisu, maka tidak ada akan ada kitab suci dan tidak ada sistem yang teratur yang menjadi hukum-Nya. Tidak ada sistem artinya makhluk akan kacau balau.
Sifat ini jadi pelengkap kesempurnaan sifat-Nya. Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Berbicara tentang hal terkecil (dzarroh) hingga hal yang terbesar (arsy).
Sifat Kalam Gusti Allah sifatnya Azali (tanpa permulaan), Qodim (terdahulu) dan Baqo’ (kekal), tanpa suara, tanpa bahasa, tanpa organ dan tanpa alat bantu. Kalam Gusti Allah bukan huruf, bukan kata, buka bahasa, bukan pula suara. Kalam-Nya memenuhi seluruh alam semesta dari yang terkecil hingga yang terbesar, lahir dan batin.
Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan Rosul pun berupa Kalam Munazzal dan Kalam Dzati sekaligus. Kalam Munazzal yang terdiri dari bahasa, huruf, lafadz yang bisa dibaca makhluk dan sifatnya terbatas, hanyalah ungkapan global Kalam Dzati yang sifatnya tidak terbatas dan bukan makhluk. Sehingga isi mushaf Al Qur’an yang berupa Kalam Munazzal ini tidak cukup dibaca literal. Perlu penggalian lebih dalam lewat ilmunya para ulama. Sehingga tampak relevansi Al Qur’an di sepanjang jaman sebagai representasi Kalam Dzati yang abadi.
Hikmah mengetahui sifat Kalam Gusti Allah adalah :
1. Mengakui kenabian dan tingginya derajat Kanjeng Nabi Muhammad SAW di sisi Gusti Allah, yang telah diberi wahyu Kalam Munazzal dan mampu merepresentasikan akhlaq Al Qur’an sebagai Kalam Dzati secara sempurna. Sehingga menjadi role model akhlaq Qur’ani.
2. Mengetahui hukum, larangan dan perintah Gusti Allah. Sebagai Titah Agung Gusti Allah dan jadi pedoman hidup manusia.
3. Memperbesar rasa haus akan ilmu untuk mengetahui dan mencicipi luasnya Kalam Gusti Allah.
4. Memperbesar takut dan harapan kepada Gusti Allah, sehingga ada rasa mau mendekatkan diri pada ridho Gusti Allah.
Kalo masih ngeyel tentang adanya sifat Kalam Dzati Gusti Allah yang tanpa suara dan tanpa kata, maka kita coba lihat sekitar. Banyak hal yang tanpa kata, tanpa wujud konkrit, tapi kita langsung paham isyarat yang ditunjukkan, walau kadang kita gak bisa mendefinisikannya dgn detail. Seperti bau tanah basah sebelum hujan, rasa gundah saat ada yang salah, rintangan hidup yang susah dimengerti, rasa sedih atau bahagia yang datang tiba-tiba, ironi dan paradoks yang bikin kita emosi. Semua itu termasuk bukti adanya Kalam Gusti Allah yang tanpa ada kata atau bahasa, tapi udah bisa membawa emosi kita bersama hal itu.
Semua makhluk adalah ayat-Nya yang berasal dari sifat Kalam-Nya. Harus kita hadapi sebagai realita dan kita terima sepenuhnya sebagai ketetapan-Nya.

No responses yet