Karena kemarin saya bicara burung (burung puter), maka sekarang saya menyinggung doa (hizib) yang berasal dari burung. Pada penggalan lain dari doa ini berasal dari hadis Nabi.
Ringkasnya, dari Ibn Bisykuwal dengan transmisi dari Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Attar dari ayahnya, beliau memiliki tetangga yang ditawan dan dipenjara di Romawi selama dua puluh tahun. Tetangga itu sudah tidak berharap bisa menemui keluarganya.
Pada suatu malam, tetangga itu memikirkan anaknya yang berada nun jauh si sana, lalu menangis.Tidak diduga, ada burung yang hinggap di atas tembok penjara dan berdoa dengan doa yang kemudian dikenal oleh para kiai dengan sebutan hizib thayr atau wirid thair.
Selanjutnya, tetangga itu berdoa dengan hizb tersebut selama tiga malam berturut-turut. Lalu dia tertidur. Saat bangun, dia sudah berada di negaranya dalam posisi berada di atas atap rumahnya. Tentu mula pertama keluarganya “pangling” dengannya.
Suatu saat, tetangga itu menunaikan haji sambil berdoa membaca hizbut thair di sekeliling Ka’bah. Ada seorang lelaki tua yang menggamit tangannya dan bertanya, “Dari manakah Anda mendapatkan doa ini? Karena doa ini hanya digunakan oleh seekor burung di negara Romawi.”
Tetangga itu lalu menceritakan kisahnya saat dipenjara di Romawi. Selanjutnya tetangga itu ganti bertanya kepada lelaki tua itu siapa namanya? Lelaki tua menjawab, ‘Saya Al-Khidr (Nabi Khidr).”
***
Faedah lain dari hizib thair adalah sebagai benteng diri dari orang zalim. Dalam penggalan doa ini terdapat redaksi “nggegirisi” bahwa siapa saja yang memusuhi, atau mau menghancurkan atau mau menjebak dan sejenisnya, maka upaya-upaya buruk itu akan kembali kepada yang punya rencana.
Alhamdulillah beberapa santri selama masa pagebluk ini telah nirakati hizib thair sebanyak 31 kali 3 hari. Nampak mereka masih antusias untuk tirakat lagi. Saya cukup nggandoli sarung santri yang nirakati berharap lumeber berkahnya.
Terakhir, dulu di Indonesia pengamal hizib ini antara lain adalah dua pahlawan nasional, yakni Kiai Wahab Chasbullah (Tambakberas Jombang) dan KH. Masykur, Malang. Hizib yang kadang disebut hizib perjuangan ini memang cocok untuk para pembela rakyat di masa penjajahan. Nampaknya namanya “penjajah” dan antek plus centengnya masih ada di era modern walau berubah wajah dan strategi.
*** Ada 5 jalur matan (redaksi) yang kita peroleh terkait hizib tersebut. Mayoritas redaksinya sama hanya sedikit bedanya.

No responses yet