Al-Ghazâli dan Positivisme Sains
Demikian sekilas perjalanan panjang humanisme yang memunculkan human science sebagai salah satu produk humanistic periode(Era Humanis)di Eropa. Saya sengaja memaparkannya agak panjang karena saya meyakini bahwa suatu teori harus terbangun dan teranalisis dari dua sisi minimal; pertama, bagaimana kita menyorot lika-liku sejarah kemunculannya, faktor-faktornya, dan bagaimana teori itu bermetamorfosa sebagai sebuah produk zaman yang sah. Paradigma ini berangkat dari konsensus umum ilmu pengetahuan bahwa teori apapun tak akan muncul dari ruang hampa, melainkan itu buah hasil pengalaman manusia yang terikat ruang-waktu. Dan kedua, bagaimana kita mendedahkan inti, metodologi, ide, dan gagasan-gagasan dari sebuah teori, dan bila memungkinkan, mengkritiknya baik dari dalam, ataupun objektivikasi, autentivikasi, dan kevalidan datanya.
Berangkat dari sebuah imajinasi dasar—kata Albert Einstein (1879-1955), “Imagination is more important than knowledge”—bahwa objek humanisme dan human science sangat klasik: manusia. Manusia telah muncul sejak dulu, dan fakta ini mengusik saya untuk menemukan dan membuktikan bagaimana kecenderungan, atau tepatnya gagasan dan ide, human science dan spirit humanisme telah terpatri pada para sarjana klasik. Ini mendorong saya berandai-andai: mungkinkah gagasan dasar ini saya temukan di teks-teks turats klasik, atau lebih spesifiknya, pada karya-karya al-Ghazâli (1058-1111) sebagai concern utama saya.
Proyek saya ini tentu tak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa ada fenomena borrowing and influence(pengaruh dan mempengaruhi)—konsepsi ini jika diaplikasikan secara radikal menimbulkan pengkaburan orisinalitas—dan fenomena pencurian ide dari sarjana satu ke yang lain. Ya, memang ada fenomena semacam itu dalam beberapa kasus, namun ini terjadi saat objek-objek suatu teori tak universal, dan tak merata. Saat kita mengetahui bahwa objek humanisme dan human science demikian universal, yakni manusia, dan ada kemiripan, bahkan kesamaan, pola-tingkah manusia secara umum dan di semua zaman, tentu konsepsi di atas tak dapat dipertanggungjawabkan karena menimbulkan monopoli kebenaran, spesifikasi pengetahuan universal, dan, secara psikologis jika berkaitan dengan relasi Islam dan Barat, akan memunculkan sikap superioritas, dominasi kebenaran universal, dan eksklusifitas yang justru ditentang Islam itu sendiri.
Tepatnya, ada pengembangan ide dasar dari sebuah teori. Saat era Yunani tak mengenal beragam teori rumit—semisal kimia Jâbir bin Hayyân (721-815), musik al-Fârâbi (872-951), aljabar Khwârizmi (780-850), kedokteran Ibn Sina (980-1037), dan masih banyak lagi—maka peradaban era Islam di masa kejayaannya mengenalnya. Ide dasarnya jelas telah ada, yakni logika Aristoteles, dan teori-teori filsafat Yunani yang lainnya. Demikian pula, ilmu biologi, fisika, kimia, atom, ekonomi, antropologi, sosiologi, dan ilmu modern lain yang belum ditemukan secara sempurna di era Islam, mengalami perkembangannya di era Barat. Dan dari premis-premis ini saya ingin membangun proyek saya. Demikianlah.
Kepastian atau yang disebut positivisme sains—yang bercirikan rasional-empirik dan diantaranya matematika—dapat kita temukan dalam Maqashid al-Falasifah karya al- Ghazâli. Ia berujar:
“Adapun matematika (riyadliyyat), yakni bahasan seputar penghitungan dan teknik bangunan, maka sama sekali tak mengandung unsur yang bertentangan dengan akal. Juga tak pula bisa diingkari.”[10]
“Ketahuilah bahwa akal tak akan benar kecuali dengan syariat, sedang syariat tak akan jelas kecuali dengan akal. Akal bagaikan dasar sedang syariat seperti bangunan. Selamanya dasar tak akan cukup tanpa ada bangunan, sedang bangunan tak akan kokoh selama tak ada dasar.. Syariat adalah akal dari luarnya, sedang akal adalah syariat di dalamnya. Keduanya sanling menguatkan, bahkan menyatu. ”[11]
Saat al-Ghazâli mengatakan bahwa matematika adalah ilmu yang tak pantas diingkari, juga mengandung kepastian, ia berargumen bahwa selamanya matematika tak mengandung unsur yang bertentangan dengan akal. Artinya, konsepsi, prosedur, dan rumus-rumus matematika sepenuhnya positif: pasti benar. Ini yang disebut positivisme sains, atau lebih spesifiknya, matematika dalam konteks ini.
Jika demikian, dari mana akal mendapat legitimasinya dalam menyuarakan kebenaran? Al-Ghazâli berdalih bahwa sejatinya syariat dan akal itu menyatu, dan saling menguatkan. Keduanya benar. Keduanya tak mungkin saling tubruk. Saat kita mengakui bahwa syariat Tuhan sepenuhnya benar, kita juga harus mengetahui bahwa ternyata akal pun sepenuhnya benar karena itu anjuran Quran. Allah berfirman, “Dan sungguh datang kepada kalian dari Allah cahaya dan kitab yang jelas. Allah menunjukkan dengannya orang-orang yang ikut keridla’annya, jalan-jalan kedamaian dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izinNya dan kepada jalan yang lurus.” [QS. Al-Mâidah: 15-16]. Allah berfirman menceritakan karakter akal, “Itu fitrah Allah yang ia tancapkan pada manusia di atasnya. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus.” [QS. Ar-Rûm: 30].
Mungkin ada yang menyangsikan ini karena dalam Al-Munqidz min al-Dhalal al-Ghazâli sempat mengalami ekstase dan saat itu ia “dikenal” sedang mengingkari akal karena nyatanya akal tak menjamin kebenaran. Ujarnya bahwa kekuatan akal terbesar bersumber dari pandangan, sedang mata sering menipu. Kita sering melihat bulan tampak kecil, padahal itu sejatinya jauh lebih besar. Kita sering bermimpi sesuatu, namun setelah terbangun kita baru menyadari bahwa semua itu tak nyata. Demikian batasan akal. Demikian al-Ghazâli dikenal.
Saya pikir, anggapan ini berawal dari kekurangcermatan memahami redaksi al-Ghazâli sekaligus tak mampu mengkompromikan satu karya dengan karya yang lain. Al-Ghazâli sebagai seorang pemikir sering kali menyebarkan ide-idenya berserakan di pelbagai karyanya, bukan hanya di satu karya. Karena itu, menangkap al-Ghazâli seharusnya dilakukan dengan membaca seluruh, atau sebagian besar, karyanya yang tersisa. Dalam Al-Munqidz ia menulis mengenai ambisinya dalam menggapai hakekat sekaligus menerapkan standar hakekat kebenaran menurut dia:
“..maka harus menggapai hakekat ilmu apakah itu. Lantas tampak padaku bahwa ilmu hakekat adalah ilmu yang mampu menyingkap objek dengan tanpa meninggalkan keraguan sedikitpun; tak disertai kemungkinan salah dan dugaan; dan hatipun tak akan menerima kemungkinan salah itu. Bahkan sepi dari kesalahan seharusnya disertai keyakinan yang andaikata ditantang untuk menampakkan kesalahannya misalnya oleh orang yang mampu merubah batu menjadi emas, tongkat menjadi ular, hal itu tak menimbulkan keraguan sedikitpun. Aku sungguh telah tahu bahwa bilangan sepuluh lebih banyak daripada tiga. Andai ada orang berkata padaku, ‘Tidak, tetapi tiga lebih banyak daripada sepuluh dengan dalih bahwa aku mampu merubah tongkat ini menjadi ular.” Ia pun merubahnya menjadi ular, dan aku menyaksikannya. Namun aku sama sekali tak ragu akan kepercayaanku karena memandang itu. Aku hanya mungkin takjub bagaimana dia mampu melakukan keajaiban itu. Adapun ragu terhadap keyakinanku sebelumnya, maka tak mungkin.”[12]
Ini standar kebenaran menurut al-Ghazâli. Jika kita cermat memahami redaksi ini dan mengkompromikannya dengan redaksi yang seolah dia mengingkari akal, maka kita akan menemukan kebenarannya. Al-Ghazâli memisalkan bahwa kebenaran yang sejati adalah seperti kita meyakini bahwa bilangan sepuluh pasti lebih besar dari bilangan tiga. Ini kata kuncinya. Oleh para ahli mantiq keyakinan semacam ini disebut sebagai badahi. Yakni tanpa melakukan pemikiran kita telah meyakini kebenarannya karena itu sama sekali tak terbantahkan.
Benar, bahwa dalam Al-Munqidz al-Ghazâli juga selanjutnya berdialog imajiner dengan al-mahsusat(alam terindera)yang telah terbukti tak kuat. Al-mahsusat berkata, “Kenapa kamu mendustakanku dan mempercayai akalmu? Sedangkan akal tak lebih baik dariku. Coba kamu rasakan. Kamu pernah bermimpi, dan nyatanya setelah terbangun kamu yakin bahwa itu tak nyata. Itu titik kelemahan akalmu!” Namun perlu dicatat, setelah dialog imajiner itu, al-Ghazâli tak menyebutkan bahwa dirinya pun tak yakin dengan kepercayaannya bahwa bilangan sepuluh lebih besar dari tiga. Tapi ia hanya mencapai ekstase yang membuatnya sakit parah selama dua bulan, sehingga meragukan banyak hal yang dianggapnya dulu yakin. Apa yang terjadi setelahnya? Al-Ghazâli menuturkan bahwa setelah itu dia disembuhkan oleh Allah karena cahaya yang tercampakkan oleh-Nya dalam hati sehingga ia pun kembali meyakini banyak hal yang dharuri.[13]
Di poin ini jelas, al-Ghazâli tak meragukan akan al-badihah semisal bilangan sepuluh lebih besar dari tiga. Melainkan ia hanya mengalami ekstase sehingga mengaburkan seluruh keyakiannnya pada pancaindra. Dengan kata lain, al-Ghazâli tak mampu meragukan al-badihah karena bukan hanya itu fitrah dari Allah, melainkan juga itu mengandung kepastian, positivisme sains yang tak layak untuk diragukan.
Sampai sini berarti kita mampu membangun argumen bahwa akal, atau tepatnya al-badihah, mencapai titik kepastian yang absolut. Ini pula yang menginspirasikan saya bahwa al-Ghazâli pun sejak dini mengindikasikan adanya positivisme sains. Dan al-badihah adalah istilah klasik dan paling dasar dari positivisme ini.
Perlu dicatat bahwa saya tak bermaksud mengatakan bahwa semua yang diklaim para ilmuwan sebagai sains yang positif, itu juga mengandung kepastian yang absolut; banyak sekali teori sains yang memang terbukti salah. Tapi yang ingin saya katakan bahwa di alam raya ini ada sebuah kepastian, positivisme sains yang juga telah disinggung al-Ghazâli.
Pertanyaannya: mengapa matematika menurut al-Ghazâli tak layak diingkari karena itu tak bertentangan dengan akal? Menjawabnya, saya akan mendedahkan karakter dasar dan kinerja matematika.
Matematika, oleh para pakar, dianggap sebagai ilmu yang paling pasti; ia memberikan keyakinan yang sempurna dalam perhitungan. Sejatinya, ini berawal dari karakter dasar matematika yang bersifat al-badihah menurut istilah klasik, atau a priori dalam bahasa Immanuel Kant. Dalam Critique of Pure Reason, ia menegaskan bahwa elemen-elemen dasar matematika sepenuhnya a priori: tak bisa diingkari kebenarannya karena merupakan pengetahuan awal dan paling mendasar dari ilmu. Meski, ujarnya, dalam pengembangan matematika selanjutnya ke level yang lebih tinggi, ada banyak bagian yang tak a priori. Namun intinya matematika dalam karakter dasarnya sama sekali a priori.[14]
Secara analitik, matematika bisa disebut a priori karena konsep dasarnya memang demikian. Level-level kelanjutan dalam matematika, jika bisa mempertahankan sifat a priori-nya dalam tiap tingkatan levelnya, akan membuat semua struktur dan bangunan matematika pun a priori, positif, dan menemukan kepastiannya. Ini karena dalam kaedah mantiq dikatakan bahwa al-murakkab min al-yaqin yaqin: tiap yang tersusun dari sesuatu yang pasti akan menimbulkan kepastian pula. Level-level tinggi matematika yang oleh Kant disebut tak lagi a priori sejatinya karena tiap tingkatannya status a priori-nya diabaikan, atau ada beberapa kesalahan dalam menyusun, dan mendaki tiap tingkatan dalam matematika. Tegasnya, matematika memang tetap berkecenderungan positivisme, pasti, a priori, al-badihah, dan memberikan keyakinan.
Perlu dicatat bahwa sejumlah kritikan ilmuwan yang mengusung post-positivisme sains sejatinya mengkritik bangunan-bangunan sains yang tak mencapai standar positivisme, atau karena bidang garapan sains tertentu melewati medan yang sewajarnya. Fenomena ilmu biologi yang menurut postpositivisme tak mampu memberi kepastian dalam fenomena kematian sejatinya di antara contoh terapan sains yang melewati medan. Dalam teologi agama, kematian di antara hal yang tak diketahui manusia, di samping rizki dan jodoh.
Atau, jika lebih ilmiah, saya katakan: kematian dipercaya sebagai fenomena tercerabutnya ruh dari tubuh. Padahal, mulai era klasik sampai sekarang, para ilmuwan masih memperdebatkan di mana posisi ruh sejatinya. Ada yang berpendapat di aliran darah, urat, jantung, hati, atau menyebar ke seluruh bagian tubuh. Tegasnya, biologi tak mampu menjawab secara memuaskan fenomena kematian karena sampai sekarang pun belum ditemukan kata akhir yang meyakinkan soal ruh. Namun, jika kita memakai standar possibilities of mathematicization, atau sebutlah sebagai de-mathematicization menurut istilah Foucault, biologi pun mampu memberikan jawaban seputar kemungkinan-kemungkinan umur manusia. Ketika seorang menderita penyakit kronis yang tak mungkin disembuhkan, semisal AIDS, dokter yang ahli bisa saja memperkirakan sampai berapa kira-kira orang itu akan bertahan hidup. Ya, memang tak bisa memberikan kepastian mutlak, tapi dipandang dari sisi bahwa sains terus berkembang dan sampai sekarang belum mencapai titik kesempurnaan dalam semua bidang, hasil ini pun bisa dianggap kemajuan yang berarti dalam sains. Dan ini tak mengharuskan mengeliminasi biologi dari sains tentunya karena belum memberi kepastian terukur.
Demikian bagaimana revitalisasi konsep al-Ghazâli dan didialogkan dengan konsep modern sungguh memberikan konklusi yang sangat menarik.
[1] Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, diinggriskan oleh M. D. Meiklejohn, Adelaide: University Press, tnp thn & cet.,hlm. 1.
[2] Corlis Lamont, Philosophy of Humanism, New York: Humanist Press, th. 1997, cet. VIII, hlm. 3-4.
[3] Michel Foucault, The Order of Things, New York: Vintage Books, th. 1994, hlm. 318-319.
[4] Christopher Fox, Inventing Human Science, London: University of California Press, tnp. Cet., 1995, hlm. 2.
[5] Michel Foucault, op., cit., hlm. 343.
[6] Donald Polkinghorne, Methodology for The Human Sciences, New York: State University of New York Press, tnp cet, 1983, hlm. Ix-x & 1-3.
[7] Michel Foucault, op., cit., hlm. 348-349.
[8] Ibid, hlm. 349.
[9] Ibid, hlm. 349.
[10] Al-Ghazali, Maqâshid al-Falâsifah, Cairo: Dâr al-Ma’ârif, tnp thn & cet.,hlm. 31-32.
[11] Al-Ghazali, Ma’ârij al-Quds, Cairo: Mathba’ah al-Istiqâmah, tnp thn & cet., hlm. 46.
[12] Al-Ghazali, Al-Munqidz min Al-Dhalal, ditahqiq Dr. Jamîl Shalîbâ & Dr. Kâmil ‘Iyâd,Beirut: Dâr al-Andalus, cet. VII, tnp thn,hlm. 64.
[13] Ibid. hlm. 28-29.
[14] Immanuel Kant, op., cit., hlm. 50.

No responses yet