Dengan menjalani kesibukan dunia yg penuh persaingan dan problematika dgn kesabaran dan kesadaran ikhlas dan ridho, insya Allah hati kita menjadi tenang. Fikiran kita menjadi tenang. Tenang, karena tidak diliputi oleh pernik rintangan keduniaan yg menghijab seorang hamba, dari melakukan penghambaan (ubudiyah) kepada Allah subhanahu wata’ala.
Dalam perspektif tasawuf dalam Islam, yg menghijab seorang hamba tsb, berbentuk penyakit hati, yg sering diidentikkan dgn beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.
Syaikh Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi, membagi penyakit hati dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).
Dalam relevansi kontekstual, dari sembilan penyakit hati diatas, mungkin ada empat jenis penyakit hati yg menonjol, yaitu: riya’, marah, membanggakan diri, iri hati dan dengki. Beberapa sifat tercela di atas masuk kategori negatif sbg penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat2 tsb, merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa, salah satunya ditandai oleh sifat2 buruk tsb. Terutama, penyakit iri hati, hasud atau dengki.
Syaikh As-Syarqawi, selanjutnya menjelaskan, bahwa emosi iri, hasud atau dengki ini secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua macam:
1. Iri dengki yg melahirkan kompetisi sehat (al-munafasah);
2. Iri dengki yg melahirkan kompetisi tidak sehat (al-hiqd wal hasad).
Iri dengki jenis pertama, merupakan kompetisi sehat untk meniru hal2 positif yg dimiliki orang lain, tanpa didasari oleh interes jahat, dalam rangka “fastabiqul khairat”. Iri dalam jenis ini, merupakan sesuatu yg diharuskan bagi setiap muslim, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala : “Maka berlomba2lah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua kembali, lalu diberitahukannya kepadamu apa yg telah kamu peraselisihkan”. (Q.S. al-Maidah: 48).
Sementara, iri dalam jenis kedua, lebih didasari oleh rasa benci terhdap apa2 yg dimiliki oleh orang lain, baik yg berkaitan dgn materi, maupun yg berhubungan dgn jabatan/kedudukan. Iri dalam kategori ini, menurut Syaikh As-Syarqawi, cenderung memunculkan sikap antipati, dan bahkan melahirkan sikap permusuhan, terhadap orang lain. Kemunculannya, lebih disebabkan oleh rasa sombong, bangga, riya’, dan rasa takut kehilangan kedudukan dan status kehormatan.
Mari kita simak potongan hadits yg sangat berguna untuk mengembalikan “kesesatan jiwa” kita. Beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yg diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik bin an-Nadhr bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundab bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin Malik bin Taimullah bin Tsa’labah bin ‘Amr bin al-Khazraj atau Anas ibn Malik radliyallahu ‘anhu (612 M, Madinah – 709 M, Basra, Irak) :
كَادَ الْحَسَدُ أَنْ يَغْلِبَ اْلَقَدُر …
“Hampir2, penyakit hasud (iri hati) mengalahkan derajat/pangkat yg dimiliki seseorang ..”
Penyakit2 tsb menimbulkan kekalutan, kegelisahan dan ketidaktenangan, karena merupakan buah dari terhijabnya seseorang dari menghamba kepada Allah, disebabkan mementingkan kehidupan duniawi, pangkat, jabatan, status sosial dan penghormatan. Seolah, dunia bagaikan tuhan yg kedua baginya. Itulah sebabnya disebutkan sbg “hampir-hampir” oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Untungnya, ada kejadian dunia yg tidak mampu ditahan oleh seorang hamba. Penyakit, menurunnya daya penglihatan, pendengaran, kekuatan, adalah bagian dari dunia yg tidak mampu dihalangi oleh seorang hamba. Sehingga suatu keharusan, bahwa Allah subhanahu wata’ala tetap menjadi yg paling utama dan diutamakan dalam penghambaan seseorang.
Suatu keniscayaan hidup dan dampaknya, harus dihadapi dan tetap bertahan, dgn keyakinan, ikhtiar dan doa, disertai rasa syukur dgn kualitas ikhlas dsn ridho kepada Allah terhadap kenyataan.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, jangan lah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakan lah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْث
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak memerlukan segala sesuatu, dgn rahmat-Mu aku meminta pertolongan.”
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yg merasa tenang kepadaMu, yg yakin akan bertemu denganMu, yg ridho dgn ketetapanMu, dan yg merasa cukup dgn pemberianMu.”
اللهُمَّ لا سَهْلَ إلا مَا جَعَلتَهُ سَهْلا وَ أنتَ تَجْعَلُ الحزْنَ إذا شِئْتَ سَهْلا
“Wahai Tuhanku, tiada kemudahan melainkan apa yg Engkau jadikan mudah dan perkara yg susah boleh Engkau jadikan mudah apabila Engkau mengkehendakinya.”
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yg mengarahkan hati, arahkanlah hati2 kami untuk selalu taat kepada-Mu.” (HR. Muslim).
رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
Wallahu a’lam .. semoga bermanfaat
Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet