Oleh:
Viani Iryanti
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka
Al-Qur’an adalah risalah yang diturunkan oleh Allah swt, sebagai pedoman bagi ummat manusia dalam berkehidupan,, bersosialisasi, melakukan jual-beli, dan lainnya. Al-Qur’an didedikasikan untuk manusia sebagai acuan dalam berpengetahuan, penelitian, sehingga kebenaran-kebenaran didalamnya menjadikan al-Qur’an diakui sebagai wahyu Tuhan.
Dalam berkehidupan, setiap masalah pasti akan terjadi, entah disebabkan karena ulah manusia itu sendiri atau memang sudah pasti akan terjadi. Kendati demikian, al-Qur’an telah memberikan segenap solusi bagi manusia yang sedang mengalami masalah, kepayahan, ataupun yang sedang membutuhkan bantuan dalam berkehidupan. Salahsatu solusi terbaik yang Allah swt, berikan kepada manusia adalah keikhlasan.
Ikhlas dalam Islam wajib ditumbuhkan bagi setiap insan untuk menjalani setiap kegiatannya dalam bersosialisasi, bertujuan untuk menggapai ridha Allah swt,. Dengan menjiwai ikhlas tersebut akan menjadikan diri seseorang menemukan titik kesuksesan yang berujung dapat memberikan efek positif pada dirinya sebagai seseorang yang berprestasi karena secara tidak langsung menghubungkan dengan dua tali penting; tali pertama adalah tali kepada Allah swt, yakni dengan melakukan segala pekerjaan hanya mengharap pahalaNya, menginginkan balasan dan imbalan dariNya. Tali yang kedua adalah tali yang menghubungkan kepada manusia yakni dengan melakukan pekerjaan dengan semangat, dan disiplin tanpa memikirkan imbalan yang ada.
Ketika berbicara tentang ikhlas maka tidak akan lepas dengan pembahasan niat yang lurus serta tulus dari hati. Untuk membentuk kepribadian ikhlas, perlu metode Ibadah, yakni ritual sakral yang menghubungkan manusia kepada Sang Pencipta, Allah swt, dan wujud dalam bentuk kebaikan kepada sesama manusia yang tentunya akan kembali berujung kepada niat awal yaitu melakukan hal-hal tersebut hanya untuk Allah swt, semata.
Hakikat ikhlas menurut Imam Al-Ghazali didalam kitab ihya’ ulumuddin (2005) adalah semua benda berpotensi dapat ternoda oleh benda lainnya. Jika benda itu bersih serta terhindar dari kotoran dan noda, maka disebut dengan khalish(benda yang bersih) dan pekerjaan untuk membersihkannya disebut ikhlashan. Lawan dari ikhlas adalah syirik. Orang yang tidak ikhlas adalah musyrik(pelaku syirik), hanya saja syirik itu ada beberapa tingkatan. Tempat ikhlas adalah di dalam hati, yang berarti berkaitan dengan niat dan tujuan. Hakikat niat itu sendiri mengacu kepada respons dari berbagai hal. Bila faktor pembangkitnya hanya satu, maka perbuatan itu disebut ikhlas(dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan).
Untuk menggapai tali pertama yaitu keridhaan Allah swt, perlu memperhatikan ibadah kita agar tetap murni dan bersih dari faktor-faktor yang dapat mengurangi bahkan memutuskan tali pertama ini dari perbuatan syirik.
Apabila perbuatan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah(taqarrub) akan tetapi ternodai oleh beberapa keinginan lainnya seperti ingin mendapatkan kehormatan atau pujian dari orang lain, dan faktor itu membuat pekerjaannya menjadi ringan, maka ia telah menodai keikhlasannya dengan perbuatan syirik, kecuali jika dalam tujuannya yang lain itu terdapat niat yang baik sehingga masih diharapkan mendapat ganjaran terhadap amal perbuatan yang pertama dan yang kedua. Bahkan, sebagian orang menjadikan satu amal perbuatan dengan beberapa niat agar pahalanya bertambah banyak. Akan tetapi, terkadang mereka lalai sehingga perbuatan itu tercemari dengan nilai-nilai yang dapat mengurangi pahalanya, bahkan membatalkannya. Oleh karena itu, setiap orang yang mengerjakan ibadah seharusnya memperbarui niatnya dan memerhatikan perbuatan mereka hingga tidak tercemar hal-hal yang merusaknya.
Singkatnya adalah setiap kepentingan duniawi yang disenangi nafsu dan dicenderungi hati, baik sedikit maupun banyak, ketika mewarnai ibadah yang dilakukan, maka akan dapat menodai keikhlasannya, sedangkan manusia senantiasa terkait dengan kepentingan-kepentingan dirinya dan tenggelam dalam berbagai syahwatnya, sehingga jarang sekali amal perbuatan atau ibadahnya dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan sejenis seperti yang disebutkan diatas.
Berdasarkan penuturan dari Imam Al-Ghazali dalam kitab ihya’ ulumuddin terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keikhlasan. Pertama, pengetahuan. Karena untuk mengetahui hakikat ikhlas dibutuhkan keilmuan dan pemahaman yang mendalam. Ikhlas pada dasarnya sangat mudah diucapkan akan tetapi sangat sulit direalisasikann dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, nafsu. Hawa nafsu memiliki potensi terbesar dalam menghancurkan seseorang untuk berbuat ikhlas, karena dengan hawa nafsu dapat mendorong manusia untuk melakukan aktifitas kesenangan syahwat.
Ketiga, godaan iblis. Jikalau keikhlasan sudah menjadi asas dalam beribadah kepada Allah swt, maka iblis akan sulit untuk menggoda seseorang dengan segala tipu daya nya.
Wallahu’alam

No responses yet