Categories:

Oleh: Risalatul Hanifah*

            Novel Alfialghazi, mungkin bisa terbayang isi ceritanya yang berupa sangat memotivasi untuk bertahan dan terus berjuang mengejar tujuan serta banyak nilai yang dapat diambil, karena kisah yang diangkatnya menceritakan realita kehidupan orang yang sering dialaminya. Tema yang diangkatnya pun dalam novel bergenre romance ini biasanya genre yang sebenarnya mengangkat kehidupan sehari-hari. Di dalam romace ada unsur keseharian yang belakangan ini disebut slice of life. Di dalam genre romance terdapat ciri khas dimana diksi-diksi yang tertulis di dalamnya terbaca begitu puitis dan romantis sehingga mampu menciptakan suasana hati yang mengakibatkan pembacanya dapat menikmati keindahannya.

            Dalam novel Alfialghazi menulis cerita begitu singkat per bagiannya dari sub-sub bab yang dibuatnya pun ceritanya singkat namun membuat pembaca penasaran dan cerita di dalamnya juga membuat menyentuh karena cerita di dalamnya sangat realita dengan kihidupan sehari-hari. Buku Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah menceritakan arti kehidupan, ketakukan akan masa depan, berdamai dengan takdir, ketaatan yang butuh kesabaran, hingga surga menjadi akhir kehidupan. Pada bab awal buku tersebut mengangkat tema permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan setiap orang. Dapat dijelaskan dalam kutiapan:

Seperti impian, harapan, dan keinginan yang tak menemui kenyataan, serta yang paling menguras adalah ketika kita samapi pada kisah cinta yang harus mengalah pada takdir Sang Pemilik Semesta.

“ Tak jodoh,” ucap kita sambil menyeka air mata.

“Tuhan tidak adil “ adalah kalimat yang mungkin paling sering kita utarakan, seperti kitalah manusia yang paling dirugikan di dunia ini, seperti kita sendiri yang hidup dalam kesakitan ini. Lantas, beberapa pertanyaan melayang-layang dalam pikiran kita,” (hlm 2).

 Kemudian pada bab pertengahan  merupakan istirahat dari bab yang pertama karena pada bab pertama sangat menguras emosi dimana bab ini mengenai hal-hal yang lebih dekat dengan perasaan, seperi cinta. Tedapat pesan juga yang menjelaskan bahwa:

“Setelah kesedihan berlalu akan datang kebahagiaan, tetapi ada iman yang tetap harus dijaga. Karena terkadang manusia ingkar terhadap janji kepada Tuhan-Nya dan tanpa sadar kemunafikan hadir. Manusia menjadi agamis saat terluka dan mendadak lupa ketika bahagia. Panggilan adzan mulai diabaikan dan shalat sering tergesa-gesa dengan raga yang menyembah namun pikiran tidak khusuk. Rasa malas menjadi pemenang utama di saat bahagia.

Dan dalam bab akhir yaitu tentang solusi untuk kembali pada tujuan awal hidup dan menyinggung kematian yang berpengaruh pada keimanan, digambarkan oleh kisah sahabat nabi yaitu Bilal bin Rabah dan Utsman bin Affan. Dijelaskan dalam kutipan:

“Sesehat apa pun tubuh kita hari ini, sekaya apa pun kita saat ini, sebahagia apa pun kita di dunia ini, kita tetap sedang berjalan menuju kematian. Terlena bukan pilihan bagi orang-orang yang menginginkan surga sebagai akhir pencariannya. Karena sejatinya kita semua sedang berada di ruang tunggu, menanti-nanti giliran datang. Siapa yang tahu ternyata esok adalah hari terakhir kesempatan kita hidup di dunia ini” ( hlm 243).

Bab terakhir ini terdapat pesan tersurat yaitu apabila Allah hadirkan hidayah untuk mengetuk pintu hati, sambut hidayah itu, karena hidayah adalah bentuk cinta kasih Allah terhadap makhluknya. Kumpulan pahala sebanyak-banyaknya untuk eraih ridha- Nya. Pada dasarnya kebahagiaan yang abadi adalah surga yang tidak bisa kita banyangkan keindahan di dunia ini.

            Tokoh pilihan yang diambil oleh penulis yang begitu kuat sehingga membuat kekuatan karakter yang ditonjolkan begitu sejalan dengan ceritanya. Konflik batin terus menerus diceritakan dimana akan membuat pembaca penasaran dan terus penasan. Selanjutnya hal yang kalah di mata saya yaitu pemilihan alur cerita yang sangat kompleks. Dari buku Alfialghazi yang luar biasa ini dapat disimpulkan bahwa sesulit apapun keadaan, jangan mudah berputus asa. Tentunya Allah akan hadir kepada makhluknya yang senantiasa meminta berdoa dengan ikhlas, sabar, dan diiringi dengan hati yang ikhlas dengan takdirnya. Kita harus tetap istiqomah dengan ketaatan dan jadilah surga sebagai akhir kita yang istimewa. Buku ini juga kita dituntut agar terus maju kedepan. Melewati keterbatasan dan banyaknya kemungkinan kecewa dalam dunia yang fana, dunia yang luas namun menyesakkan. Hal ini dilakukan untuk menuju satu dunia baru, yang disebut keabadian.

            Ada hal yang membuat menarik dari penulis, Alfialghazi berhasil membawakan novel ini dengan apik yang berbeda dengan novel lain. Dengan menyuguhkan sudut pandangan yang berbeda dan lebih luas tentang dunia. Karena buku “Maaf Tuhan, Aku Hampir menyerah” akan memeluk rasa sedih kita dan menyadarkan untuk segera bangkit.

BIODATA PENULIS

*) Risalatul Hanifah, lahir di Purbalingga, 30 Mei 2000. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Berdomisili di Pekiringan, Karangmoncol. Ia dapat dihubungi melalui posel: risalatulhanifah30@gmail.com dan instagram: risalatulhanifah

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *