Jam 3 malam kemarin saya kedatangan tamu, Mbah Ali Mashudi, seorang pendekar  yang banyak terlibat dalam merintis dunia kependekaran di Kalimantan. 

Mbah Ali yang  berambut panjang bersama orang yang juga berambut panjang, dan baru saya kenal, namanya Mas Wid. Menarik perjalanan hidupnya. 

Mas Wid dulu pernah ikut halaqah semasa SMA dan akrab dengan Bahrun Naim (mantan orang HTI yang meninggal di Suriah). Bahrun Naim adalah adik kelasnya di sebuah pesantren di Solo yang setelah lulus sering runtang runtung. Semisal keliling Solo sambil membawa pedang di saat ada isu penculikan para ustadz mereka, dimana rumah para ustadz itu ada yang menandai dengan kode tertentu yang isunya akan diculik. 

Kalau belum tahu Bahrun Naim, berikut riwayat singkatnya. Dia kelahiran Pekalongan dan dibesarkan di Solo, lulus teknik informatika UNS, serta pernah bergabung dengan HTI. Dia  ditangkap Densus 88 pada November 2010 karena memiliki amunisi di rumahnya. Akhirnya divonis oleh Pengadilan Negeri Surakarta dengan dua setengah tahun penjara pada Juni 2011. Polisi juga menyita 547 rangkaian peluru untuk AK-56, 32 rangkaian peluru 9 mm. 

Terkait peluru, Mas Wid pernah ditawari Bahrun Naim untuk membeli dan Bahrun Naim juga bilang ada proyek 1 miliar untuk membuat kerusuhan di Solo serta Semarang. Mas Wid menyaksikan  kepandaian Bahrun Naim dalam meracik bom. Bahrun Naim kata Mas Wid memang orang cerdas. Dia selain bisa meracik bom juga menjadi hacker. Tidak hanya itu, Bachrun Naim  juga bisa mengetahui segitiga jaringan narkoba, Magelang, Semarang dan Surabaya. 

Sekalipun dekat dengan Bahrun Naim, beruntungnya dia tidak sampai ditangkap Densus karena memang tidak ada indikasi melakukan terorisme. 

Selanjutnya Mas Wid yang asalnya adalah Sragen “hijrah” ke Kalimanatan. Nah, di Kalimantan ini dia “alih profesi”. Di sana ada tambang batubara yang ternyata para preman berseliweran di sekitar tambang. Di sinilah Mas Wid kenal dengan para preman dan akhirnya menjadi “deket” dengan preman saat butuh negosiasi dengan pihak lain. 

Setelah tobat dari pergaulan dunia preman, Mas Wid merintis menanam kelapa sawit dan mengelola tempat wisata. Di saat alih profesi ini dia kenal dengan beberapa kiai di Kalimantan yang menurutnya punya “pandangan awas”. Semisal, saat Mas Wid bertanya kepada seorang kiai atas jumlah hutang almarhum ayah mas Wid kepada kiai tersebut. Ternyata jawabannya tepat dengan apa yang disampaikan familinya di Sragen. 

Hal ini menjadikan Mas Wid kagum. Dia mengulangi lagi dengan ganti bertanya berapa jumlah hutang almarhum kakaknya yang ada di Kalimantan, jawabnya tepat sesuai informasi keluarganya di kalimantan. 

Di Kalimantan ini juga Mas Wid bertemu dengan Mbah Ali Mashudi. Dia semakin dekat dan cinta dengan amalan para santri dan kiai. Baginya, dia telah menemukan “Islam yang dhohiron wa bathinan”. 

Dengan semangat Mas Wid dalam membina masyarakat, Mbah Ali Mashudi berinisiatif mempromosikannya menjadi ketua Pagar Nusa di sebuah kabupaten di Kalimantan. Tentu harapan kita Mas Wid bisa mengabdi di manapun posisi yang dia terima. Saat mau pamit pulang, Mas Wid berpesan bila ada santri kami yang siap mengabdi ke Kalimantan akan dicarikan lahan plus penggajian

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *