Beberapa kali saya menonton video klip lagu Lathi. Alunan suara saron memang mengetuk pintu estetis saya sebagai penikmat musik, dan tentu juga pelahap sistem pengetahuan tempatan. Sayangnya, di balik lagu beraroma emo-rock dan berbau suasana Evanessence itu, saya masih melihat penggambaran jawa yang identik dengan hantu, horor, mistik, klenik, gaib, seksis. Mulai dari adegan jaran kepang, perempuan penari bermata hitam mirip kuntilanak, tukang makan kaca, makan-sembur api. Wayang, yang seharusnya menjadi gambaran suluk atau perjalanan hidup lahir-batin manusia jawa sebagaimana diracik oleh Sunan Kalijaga dan wali-wali lainnya, juga tercitrakan demikian dan hanya sambil lalu. Adegan-adegan milenial memang ada. Tapi itu bumbu pinggiran saja saya kira.
Jawa yang digambarkan di sana mengingatkan saya pada film-film Suzanna tahun 70-80-an. Di sana, setiap hantu pasti bersanding dengan dukun atau seseorang penghayat ilmu gaib yang sedang mencari kekayaan, kesuksesan, lalu bersekutu dengan setan. Ketika hantu-hantu ini berkeliaran, orang-orang lalu datang kepada dukun. Tahu sosok dukun di film itu? Biasanya diperankan oleh Bokir. Tapi bukan di situ perhatian saya. Melainkan di busana yang ia pakai: blangkon, lurik, jarik. Busana khas jawa. Lengkap dengan keris dan sesajen berkemenyan yang kemudian dirapalkan mantra-mantra.
Dapat ditebak kemudian. Dukun itu takluk di bawah ketiak Kuntilanak atau hantu-hantu dari masing-masing film. Di bagian akhir, ketika dendam si kuntilanak sudah terbalaskan, datanglah pemuda hijrah berjubah, bersurban, tangannya menenteng dan memutar-mutar tasbih, sambil membacakan surat alfathihah, alfalaq, annas, terkadang ayat kursi. Tapi yang membaca tentu bukan dia, melainkan suara entah siapa. Soalnya si pemeran pemuda hijrah itu tidak bisa membaca alquran. Apa yang terjadi? Kuntilanak atau hantu-hantu itu hangus terbakar. Dengan terlebih dahulu pamitan pada keluarganya yang datang ke lokasi bersama polisi. Coba saja keluarga itu datang tanpa polisi, maka mereka tidak akan terlambat.
Jawa yang dukun, klenik, mistik kalah oleh islam syar’i, jubah, surban, dan hijrah. Begitu kira-kira kesimpulan film itu. Kesimpulan ini kelak diperkuat oleh film-film horor 2000-an. Sama saja. Malah lebih parah. Nyaris tidak ada guyon di sana. Horor, klenik, mistik.
Sampai hari ini, jawa yang mistis, gaib, klenik masih dipelihara di dalam film-film horor. Ditambah oleh sinetron-sinetron di televisi yang memasukkan orang berbusana jawa sebagai pemeran seorang pembantu, orang rendahan, orang bodoh, pengemis. Di iklan malah lebih parah. Orang jawa ditampilkan sebagai jin matre yang setiap kali ada permintaan, ia akan menjawab: wani piro. Di youtube juga demikian. Santri-santri digdaya mendatangi dukun-dukun santet yang pakai blangkon atau iket, surjan, memegang keris, punya jenglot, rantai babi, pelihara jin, makan kembang melati dan kantil, makan beling, dan lain semisalnya.
Di dunia nyata, orang jawa, bahasa jawa, dan pernak-pernik kebudayaan jawa juga kerap menjadi simbol poliklenik. Keris, akik, blangkon, surjan, tumpeng, kemenyan, dupa, ramalan, primbon, dan sepersaudaraannya. Semuanya selalu dikaitkan dengan kegaiban. Sayangnya para pengkait itu tidak memahami definisi masing-masing. Seperti halnya definisi seorang warga maya menyebut tokoh itu liberal, tapi ia tidak tahu apa maksud liberal itu. Sama halnya dengan keadaan di satu sisi para penghayat jawa hanya mengambil dimensi mistik yang secuil dan di sisi lain para penghayat agama hanya menyerap dimensi mistik jawa yang secuil.
Semoga ini hanya citra yang saya tangkap. Bukankah jawa yang sampai pada kita hari ini adalah jawa yang telah dibentuk-ulang oleh para wali? Sayang sekali, sulit menemukan wali songo di zaman ini. Kecuali bagi kodok ngorek yang berkenan naik ke darat, nyemplung, naik lagi, nyemplung, naik lagi. Saya pernah merekam seorang simbah sepuh yang tinggal di seputaran kawasan Pengok mengenai tembang dolanan anak-anak “kodok ngorek”. Dulu saya pernah merekam suaranya. Tapi rekaman itu hilang bersama HP saja. Tapi saya ingat bait akhir syairnya yang ketika kecil dulu ia nyanyikan lengkap, yang berbunyi:
Kodok ngorek-kodok ngorek
Ngorek pinggir kali
Teot teblung-teot teblung
Teot teot teblung
Kodok ngorek-kodok ngorek
Ngorek pinggir kali
Kul ingkuntum tukibunalla
Patbinguni yukbibkumullah….. uwa….uwa….huwa
Kodok ngorek, dalam khazanah jawa sebagaimana termaktub dalam “wangsit sunan kalijaga ing jaman karahamtullah”, disebut sebagai kayun ing dalem muhammad hakiki. Wallahu a’lam.

No responses yet