Abu Zakariyya Yahya bin Abi Yahya Syarf bin Mira bin Hasan Bin Husein al-Hizami an-Nawawi. Yang terkenal dengan Imam an-Nawawi. Pemiliki karya-karya yang manfaat nya mendunia. Cahayanya terpancar dari timur ke barat. Sang wali yang Zuhud dan wara’. Dilahirkan dipertengahan bulan Muharram tahun 631 H.

Al-Hizami merupan nisbat kepada pendahulunya. Sedangkan an-Nawawi merupakan nisbat kepada tempat tinggal nya, yang bernama Nawa.

Salah satu muridnya; syekh Ibn al-Aththar mengatakan: bahwa ayahnya Imam Nawawi pernah bercerita tentang imam Nawawi ketika masih berumur 7 tahun pada saat malam ke 27 bulan Ramadhan. Pada malam itu, imam Nawawi terbangun pada tengah malam dan membangunkan ayahnya. Imam Nawawi berkata: “Wahai ayahku, cahaya apa yang telah menerangkan rumah kita ini?. Ayahnya yang merasa heran kemudian membangun semua penghuni rumah. Semua nya telah bangun, dan tak ada satu pun yang melihat cahaya yang dilihat oleh imam Nawawi. Akhirnya, ayahnya sadar. Malam itu adalah Lailatul Qadar.

Wali agung pada masa nya; syekh Yasin bin Yusuf (W. 687 H) juga pernah bercerita tentang imam Nawawi kepada muridnya: “Suatu hari, aku melihat Imam Nawawi kecil yang masih berumur 10 tahun. Tidak ada teman sebaya nya yang ingin bermain bersamanya. akibat perlakuan buruk teman-temannya, imam Nawawi pun asik dengan Al-Qur’an. Aku pun jatuh hati melihat imam Nawawi.

Ayahnya selalu membawa Imam Nawawi ke toko yang dimiliki ayahnya. Imam Nawawi tidak menyibukkan dirinya dengan jual beli, dia hanya membaca Al-Qur’an disana. Aku pun datang ke toko tersebut dan membawa sekaligus menyarankan seorang guru Al-Qur’an untuk imam Nawawi. Aku berkata kepada ayahnya: “Anak ini sangat diharapkan akan menjadi ulama besar di zamannya, dan para manusia akan mengambil manfaat darinya”.

Ayahnya terkejut. “Apakah kamu peramal?” Tanya ayahnya. Aku menjawab: “tidak, hanya saja Allah menginginkan aku untuk mengucapkannya”. Setelah pertemuan itu, ayahnya mempersilahkan imam Nawawi untuk menyibukkan diri dengan Al-Qur’an hingga khatam menghafalnya.”

Imam Nawawi bercerita kepada muridnya; syekh Ibn al-Aththar: “Ketika aku sampai pada umur 17 tahun, ayah ku membawa ku ke Damaskus. Pada tahun 649 H. Aku pun tingal di Madrasah Ar-Rawahiyyah. Selama 2 tahun disana, aku tidak pernah meletakkan perutku di bumi ( Imam Nawawi tidur dalam keadaan duduk). Aku menghafal kitab at-Tanbih karya imam asy-Syirazi selama 6 bulan. Aku juga menghafal kitab ibadah dari al-Muhazzab selama 6 bulan.”

Al-Badr bin Jama’ah pernah bertanya kepada imam Nawawi tentang tidurnya. Imam Nawawi menjawab: “Jika suatu waktu aku begitu ngantuk, aku bersandar kehadapan kitabku sejenak, kemudian aku segera bangun dengan cepat”.

Pada tahun 651 H, awal bulan Rajab. Imam Nawawi dan ayahnya pergi untuk menunaikan haji. Kemudian menetap di Madinah selama satu bulan setengah. Setelah usai haji, imam Nawawi dan ayahnya pun kembali ke Damaskus. Mulai sejak itu, Allah curahakan Imam Nawawi ilmu yang banyak, dan imam Nawawi mulai menapaki jalan guru nya dalam beribadah; mulai dari zuhud, wara’, dan puasa terus menerus.

Kesungguhan imam Nawawi dalam belajar tidak perlu diragukan. Dalam satu hari, imam Nawawi membaca 12 pelajaran kepada guru-gurunya. 2 pelajaran dalam kitab al-Wasith, satu pelajaran dalam kitab al-Muhazzab, satu pelajaran dalam Shohihain, satu pelajaran dalam shahih Muslim, satu pelajaran dalam al-Luma’ karya imam al-Junni dalam ilmu nahwu, dll.

Tidak hanya sebatas itu. Imam Nawawi pun tak pernah menyia-nyiakan waktunya siang dan malam. Waktu nya hanya habis dalam belajar. Bahkan, ketika dalam perjalanan, imam Nawawi sibuk dengan mengulang hafalan yang ia miliki, hingga hafalan nya tertancap tak terlupakan.

Dalam kitab al-Mathalib al-‘Aliyah fi Thabaqat asy-Syafi’iah; imam Muhammad bin al-Hasan al-Wasithi menerangkan; bahwa ketika ada seseorang yang bertamu kerumah beliau, imam Nawawi hanya akan membalas salam nya, dan menjawab apa yang harus dijawab dalam masalah ilmu. Jika orang tersebut masih berada disisi beliau, imam Nawawi akan menyerahkan nya kitab untuk dibaca, dan supaya tidak menggangu beliau.

Dalam kitab Tuhfah al-Asyraf jilid 1 hal 91 diriwayatkan: ketika imam Nawawi sedang mengulang pelajaran dan lentera lampunya mati, maka ibu jari imam Nawawi akan mengeluarkan cahaya. Sedangkan imam Ar-Rafi’i jika terjadi hal yang sama, maka pohon yang ada didekat nya akan bercahaya.

Dengan kesungguhan yang imam Nawawi miliki, beliau tak lupa dengan mujahadah. Imam Nawawi hanya makan satu kali dalam sehari ketika waktu isya akhir, dan hanya minum satu kali ketika waktu sahur. Minuman nya tidak pernah didinginkan. Imam Nawawi juga tidak pernah memakan buah-buahan yang ada di Damaskus.

Sifat kehati-hatian yang ada pada diri imam Nawawi juga hebat. Tidak pernah berbuat zhalim kepada orang lain. Juga tidak pernah menerima apapun dari orang kecuali sudah diketahui asal harta nya dan amanahnya dalam agama.

Semua apa yang dilakukan imam Nawawi tergambarkan dalam karya-karyanya. Semua yang ditulis imam Nawawi telah tersebar ke penjuru dunia. Dimana pun ada penuntut ilmu, disitu ada kitab karya imam Nawawi. Siapa yang tidak mengenal karya imam Nawawi dapat saya pastikan, ia bukan lah seorang penuntut ilmu!.

2 bulan sebelum wafat nya imam Nawawi, beliau memulai menziarahi guru-gurunya baik yang masih hidup seperti syekh Yusuf al-Faqa’i atau pun yang sudah wafat. Beliau juga menziarahi Baitul Maqdis dan maqam nabi Ibrahim as.

Setelah pulang dari Baitul Maqdis beliau sakit. Mendengar kabar imam Nawawi sakit, murid kesayangan imam Nawawi: syekh Ibn al-Aththar pun menjenguk gurunya. Setelah selesai, imam Nawawi pun memerintahkan murid nya untuk pulang.

Pada tanggal 20 Rajab tahun 676 H beliau kembali sehat. Hanya 3 hari berada dalam kondisi sehat, imam Nawawi menghembuskan nafas terakhir nya pada tanggal 24 Rajab tahun 676 H pada hari Rabu. Dimakamkan di Damaskus keesokan harinya.

Dalam ath-Thabaqat al-Wushta jilid 8 hal 399, imam Taj ad-Din as-Subki menerangkan bahwa ketika waktu wafatnya imam Nawawi sudah mendekat, seolah mengerti, imam Nawawi langsung mengembalikan kitab-kitab yang beliau pinjam pada perpustakaan wakaf.

Semua nya merasakan kehilangan matahari Islam, yang telah menghabiskan hidupnya untuk menerangi umat dan menuntunnya kejalan yang sebenarnya. Imam Zahabi mengatakan bahwa; lebih dari 20 ulama pada masanya yang meratapi kepergian imam Nawawi dengan lebih dari 600 bait syiir mengantar kepergian beliau.

رضي الله عن النووي و أرضاه و أعلا في المقربين نزله و مثواه، و نفعنا و المسلمين بعلمه و سيرته.

____________

Keterangan diatas diringkas dari kitab tuhfah ath-thalibin fi tarjamah imam an-Nawawi karya muridnya imam Nawawi; syekh Ibn al-Aththar. Dan beberapa dari kitab lainnya.

17 Agustus 2020, Kairo.

Gambar: makam imam Nawawi. Disebelah kiri, makam setelah dibom oleh Wahabi. Disebelah kanan, sebelum dibom.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *