Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas sosial keagamaan memegang teguh prinsip bermazhab. Dalam akidah, NU mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Dalam Fiqih, NU mengikuti salah satu dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan dalam Tasawuf, NU mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi.
Tulisan ini secara khusus akan mengulas posisi Imam Junaid di NU. Dalam Khazanah Aswaja disebutkan empat faktor mengapa al-Junaid dijadikan jujugan dalam Tasawuf oleh ulama Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyah.
Pertama, konsistensi terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah. Beliau membangun tasawufnya di atas fondasi kaedah-kaedah al-Qur’an dan as-Sunnah yang disepakati sebagai sumber primordial syariat Islam. Hal ini sebagai pengaruh dari latar belakang almamaternya, dimana sebelum memasuki dunia sufi, beliau telah mendalami bidang Fiqih dan lain-lain terutama dalam bidang ilmu tafsir dan hadits.
Imam al-Junaid berkata “Ilmu kami ini (Tasawuf) dibangun dengan fondasi al-Kitab dan Sunnah. Sesiapa yang belum hafal al-Quran, belum menulis hadits dan belum belajar ilmu agama secara mendalam, maka ia tidak bisa dijadikan panutan dalam Tasawuf.” Di kemudian hari, dawuh al-Junaid ini dijadikan kaidah oleh kalangan sufi.
Kedua, konsistensi terhadap Syariat. Ulama’ mengakui, belum pernah ditemukan diantara isyarat-isyarat al-Junaid dalam bidang Tasawuf yang bertentangan dengan syariat. Menurut beliau, Sunnah Rasulullah harus mengatur kehidupan seorang sufi dalam setiap saat. Orang yang melenceng dari Sunnah Rasulullah maka pintu kebaikan akan tertutup baginya.
Imam al-Junaid berkata “Semua jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah, mengikuti sunnahnya dan menetapi jalannya karena semua jalan menuju kebaikan terbuka bagi sunnahnya.”
Ketiga, kebersihan Akidah. Beliau membangun mazhabnya di atas pondasi Akidah yang bersih, yaitu Akidah Ahlussunah wal Jamaah.
Bila kita perhatikan Akidah yang diajarkan dalam Tasawuf al-Junaid, kita mendapati Akidah yang simpel, mudah dicerna, bersih dari akidah tajsim, tasybih, hulul dan ibahi, serta sesuai dengan akidah Ahlussunah wal Jamaah. Beliau berkata “Tauhid ialah membedakan Dzat yang tidak mempunyai permulaan dari menyerupai makhluk-Nya yang baru.” Perkataan ini mengisyaratkan akidah Ahlussunah wal Jamaah dalam hal tanzih (menyucikan Tuhan dari menyerupai makhluk-Nya), dan jauh dari akidah tajsim dan tasybih.
Keempat, tasawuf moderat. Beliau membangun mazhabnya di atas fondasi ajaran moderat yang merupakan ciri khas ajaran Ahlussunah wal Jamaah. Dalam hal ini, beliau berkata “Makhluk yang paling utama kedudukannya menurut Allah dan paling agung derajatnya di setiap waktu dan masa, di setiap tempat dan negeri adalah mereka yang paling menyempurnakan kewajibannya terhadap dirinya, paling terdahulu melakukan apa yang dicintai Allah dan paling bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya.”
Rasulullah bersabda “Sebaik-baik perkara adalah yang moderat.” Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga mengatakan “Ikutilah kelompok yang bersikap moderat, yang dapat diikuti orang-orang di belakangnya dan menjadi rujukan orang-orang yang berlebih-lebihan (ekstrim).”
Dalam Tarekat Naqsyabandiyah, sebagai bagian dari Tasawuf, Imam al-Junaid juga menempati posisi istimewa karena berada dalam silsilah emas. Beliau mendapat didikan dari pamannya, Syaikh as-Sirri as-Saqathi (w. 253 H.), yang juga seorang pembesar sufi di zamannya dan penerus beliau adalah Syaikh Abu Ali ar-Rudzbari.
Pada akhirnya, Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat al-Makkiyah memberinya laqab ‘Sayyid Para Sufi.’ Hal ini tidaklah berlebihan jika melihat kontribusi besar Imam al-Junaid pada Tasawuf.
Dalam kitab-kitab Tasawuf, banyak ditemukan perkataan Imam al-Junaid yang dikutip oleh para sufi pasca beliau. Diantara karya tulis beliau yang sampai pada kita saat ini adalah as-Sirr fi Anfas as-Shufiyah.
Wallahu a’lam.
Kambingan Barat
Kamis, 03 Dzul Qa’dah 1441 H. / 25 Juni 2020 M.

No responses yet