Tiada kemuliaan yang eksis kecuali bersumber dari kemuliaan Allah. Itulah kenapa segala bentuk pujian kepada mahluk bersifat sementara. Karena suatu ketika bisa jadi kita akan kecewa kepada sang penyandang kemuliaan tersebut dan berubah jadi membencinya. Sebab itulah jika kita mendapat  pujian dari mahluk, “diwajibkan” kita mengucap Alhamdulillah. “Segala puji hanya bagi Allah”. Kita tak memiliki sedikitpun kepantasan menyandang pujian tersebut. Apalagi menikmati pujian itu sebagai sebuah kebanggaan yang berlebihan yang menjadikan tumbuhnya rasa sombong dan merasa hebat. Sebab setitik kesombongan yang tumbuh dalam hati kita. Itu laksana setitik nila yang bisa merusak (keberkahan) susu sebelanga. Kesombongan akan merusak semua nilai amal kita. Tak akan masuk sorga jika masih ada setitik kesombongan dalam diri manusia, begitulah konon nabi Muhammad mengingatkan ummatnya. . Karena sombong adalah baju kebesaran bagi yang Maha Pengasih dan Penyayang. Penguasa hari di mana setiap amal yang nyata dan rahasia akan dibalas dengan adil. 

Begitu lemahnya kita sebagai seorang hamba, maka kesadaran yang harus ditumbuhkan adalah kesadaran penghambaan total secara “berjamaah”. Karena hakekatnya manusia tidak mungkin hidup tanpa jama’ah. Karena itu setiap kali kesadaran menghamba itu hadir, maka do’a terbaik kita adalah do’a keselamatan bersama atau jama’ah. Dengan meminta petunjuk menuju jalan kebenaran bagi semua jama’ah. Itulah kenapa meskipun kita sholat munfarid (sendirian), kita dianjurkan berniat sebagai imam. Sebab kita adalah imam bagi diri kita sendiri dan juga Qorin yang konon selalu mengikuti kita. Inilah salah satu hikmah kenapa Allah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya kesadaran berjamaah tersebut. Bahwa setiap tindakan kita baik atau buruk pasti berpengaruh kepada jama’ah (lingkungan) kita. Maka jadilah seorang hamba Allah yang baik dan penuh rasa kasih sayang kepada lingkungan sosial dan alam dimana kita berada. 

Kita bisa belajar dari sejarah kaum yang terdahulu. Belajar dari mereka yang mendapatkan dan menjalankan petunjuk dengan baik dan benar. Sehingga menjadi kaum yang dibanggakan Allah. Kaum yang bisa  memperbaiki keadaan masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang bertakwa. Kita juga bisa mengambil hikmah  dari mereka yang menolak dan menutupi kebenaran Ilahiyah. Yaitu dengan mengkaji sejarah kaum terdahulu lewat firman Allah (ayat qauliyah) ataupun (ayat qouniyah)  yang begitu terang benderang diperlihatkan dalam kehidupan kaum terdahulu. Yaitu kaum yang selalu membuat kerusakan di dunia dan akhirnya hanya mendapatkan bencana diujung kehidupan mereka. 

Kehidupan berjamaah yang harmonis dalam keragaman latar belakang etnis, budaya dan agama adalah sebuah keniscayaan. Allah sudah memberikan kunci utamanya berupa kalimat  bismillahirrahmanirrahim dan petunjuk  besarnya berupa surah Al Fatihah. Sedangkan rinciannya kita bisa terus mendaras dan mentadaburi Al Qur’an di setiap ayatnya yang bisa kita tautkan dengan semua fenomena kehidupan di alam dunia. Begitulah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan gambaran tentang kebesaran Diri Nya. Allah selalu mendahulukan Cinta Nya dibandingkan dengan hukuman Nya. Maka kita juga wajib meniru Nya. Kita harus membiasakan mendahulukan Cinta dari amarah. Sebab cinta itulah yang akan mengantarkan kita pada keabadian “nikmat” sorga. Sedangkan amarah hanya akan mengantarkan kita pada “keabadian” siksa neraka. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *