Kata ini begitu populer dalam dua dasawarsa terakhir.  Puncaknya terjadi ketika pemilihan gubernur DKI lalu yang melibatkan Ahok. Calon gubernur yang di stigma dengan kata kafir, oleh para politikus yang menjual agama. Maka jadilah istilah kafir begitu viral dimana-mana disematkan kepada semua pendukung Ahok yang bahkan konon membuat jenazahnya ditolak untuk disholatkan di masjid yang mendukung lawan Ahok. Sebuah proses pengkafiran yang benar-benar sesat menyesatkan. Maka lengkaplah “penderitaan” ummat Islam akhir zaman yang hanya tinggal buihnya saja. Sementara kejernihannya hanya tersisa di sudut-sudut kesunyian. Tak terdengar, tak terlihat dan menjadi sesuatu yang antik dan sangat “ekslusif”. 

Siapakah yang disebutkan sebagai kafir? Sesungguhnya orang kafir adalah mereka yang jika kamu serukan hakekat kebenaran dan keadilan, mereka akan tutup telinga. Mereka tak mau mendengarkan.  Bahkan mereka akan menolak kebenaran dan keadilan tersebut dengan cara menutup-nutupi kebenaran dan keadilan itu dengan simbol-simbol agama seolah merekalah yang paling beriman. Hati mereka begitu tertutup sehingga tega tidak menjalankan perintah Allah agar lebih mengedepankan sifat Maha Pengasih dan Penyayang Nya. Padahal sifat ini  adalah pegangan utama dan ukuran keimanan seorang Muslim sejati. Alih-alih mengimplementasikan nilai Rahmatan Lil Alamin dan berkeadilan. Mereka justru tampil dengan penuh kesombongan, arogan dan memaksakan kehendak. Karena merasa lebih besar sebagai mayoritas, mereka merasa berhak berbuat apa saja, sekalipun menginjak-injak rasa keadilan. Hilang dan tertutup lah semua hakekat ajaran Islam yang tersimpan dalam Bismillahirrahmanirrahim. 

Keimanan dan keislaman serta keihsanan adalah satu kesatuan  yang harusnya tak terpisahkan. Tapi seringkali kita lupa, mereka kita pisahkan secara sengaja agar mudah dijadikan barang dagangan. Apalagi jika sudah “ditunggangi” kelompok politik tertentu yang sengaja ingin merusak Islam dari dalam. Mereka teriak-teriak setiap saat atas nama agama, tapi agenda ekonomi dan politik begitu besar pengaruhnya. Inilah yang menjadikan ormas dan parpol mulai tampil religius dalam berkampanye. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *