Categories:

Oleh: Akhmad Khazim (Pernah Nyantri di Perguruan Islam Mathaliul Falah, PMH Putra, dan al Azhar Mesir)

Dalam tataran hirarki keilmuan Islam, ilmu usûl fikih menempati urutan awal. Selain ia berperan sebagai satu disiplin ilmu keislaman, sebagaimana keilmuan keislaman lainnya, ia juga merupakan sebuah metodologi berfikir seorang pakar ilmu keislaman. Peran signifikan ini cukup untuk mengangkat namanya sebagai satu ilmu harus dimiliki oleh seorang alim. Melihat hal itu, sudah sepantasnya kita sebagai pembaca mengetahui istilah mendasar dalam kajian ilmu tersebut.

Dalam kajian ilmu Usûl fikih terdapat beberapa istilah yang kerap kali dianggap mafhûm bagi sebagian penulis, tetapi menjadi hal yang terlewatkan bagi sebagian yang lain. Sebut saja Mabâdi’ Asyroh Ilmu Usûl Fikih, pembahasan seputar pionir ilmu Usûl fikih dan lain-lain. Hanya saja, pada kesempatan kali ini, saya tidak sedang ingin membahas hal itu, mungkin saya akan membahasnya di lain kesempatan. Adapun hal yang ingin saya ketengahkan adalah istilah tarîqah dalam ilmu Usûl fikih. Istilah ini menjadi penting dikarenakan ia menjadi basic dalam mendalami ilmu ini.

Usûl Fikih sebagai sebuah ilmu, ia tidak muncul dan langsung besar begitu saja. Ia muncul pertama kali dari seorang alim, pendiri mazhab fikih, ia adalah Al Imam Muhammad Ibn Idriz asy Syâfi’î (w.204 H), atau yang kerap kita kenal dengan Imam asy Syafi’î. Dalam perjalanannya, ilmu ini mendapat klaim miring dari beberapa pihak, terkait siapa pencetusnya. Hal ini tidak lepas dari sebuah keadaan, dimana Imam Syafi’i bukanlah merupakan pendiri mazhab fikih generasi pertama. Sebagai mana kita tahu bahwa Imam asy Syafi’î merupakan murid dari Imam Mâlik (w. 179 H), pendiri mazhab Mâlikiyah. Sebelumnya juga terdapat Imam Nu’man ibn Tsâbit, yang lebih akrab dikenal dengan Imam Abu Hanifah (w. 150 H), pendiri mazhab Hanafiyah. Klaim tersebut mungkin di latarbelakangi adanya asumsi yang mengatakan: “Kalau memang Usûl fikih dicetuskan oleh Imam asy Syafi’î, lantas apakah para imam sebelumnya berijtihad tanpa sebuah metodologi?”.

Hal diatas ternyata berdampak pada produktifitas para ulama kala itu untuk menuliskan buku seputar metodologi ijtihad. Jelas sekali disini ulama Hanafiyah berlomba untuk menciptakan metodologinya sendiri. Mereka tidak mau kalah untuk mengatakan bahwa Imam mereka berijtihad dengan menggunakan sebuah metodologi. Dari sinilah awal mula kemunculan istilah tarîqah dalam dunia Usûl fikih.

Tarîqah sendiri memiliki makna harfiyah sebagai sebuah jalan. Adapun secara terminologi, ia dapat diartikan sebagai satu corak metodologi dan kepenulisan karya Usûl fikih.

Pada awal pergolakan, Ûsul fikih dapat diklasifikasikan setidaknya menjadi tiga tarîqah. Pertama, Tarîqat al Fuqâha. Tarîqah ini digawangi oleh ulama-ulama Hanafiyah. Oleh karenanya  ia kerap juga disebut Tariqat al Hanafiyyah. Ia memiliki keistimewaan berupa penentuan serta penggalian kaidah Usûl fikih yang dihasilkan dari fikih-fikih imam mereka. Hal ini dikarenakan imam mereka tidak meninggalkan karya seputar metodologi ijtihad yang komprehensif. Benar, memang ada potongan metodologi dalam beberapa karya imam mereka, akan  tetapi itu masih berserakan dan tercampur dengan karya-karya fikih imam mereka. Atas dasar itu, ia lebih cenderung menjadi kajian yang bersifat terapan. Namun, justru hal ini menjadi sebuah keistimewaan tersendiri dikarenakan kajiannya lebih akrab kaitannya dengan fikih. Adapun kelemahan dari tarîqah ini adalah keadaan kaidah Usûl fikih yang diusung cenderung tidak berdikari. Ia harus segera diluruskan ketika terdapat kaidah usûliyah yang berseberangan dengan hasil hukum fikih sang imam. Konsekwensinya adalah kerap kali tarîqah ini terjebak pada ta’assub mazhabî (fanatisme kemazhaban).

Diantara beberapa karya Usûl fikih yang menggunakan metode ini adalah:

  1. Usûl Abi Bakr al Jassâs (w. 370 H)
  2. Ta’sis an Nadzar karya Abi Zaid ad Dabûsi (w. 430 H)
  3. Usûl Bazdawî (w. 482 H)
  4. Usûl Syarkhosî (w. 483 H)
  5. Al Manâr karya Al Hafidz an Nasafî (w. 710 H) (lihat: Abdul Wahhab Khallâf, Ilmu Usûl Fikih, hal 83)

Kedua, Tarîqah Mutakallimîn, atau yang kerap disebut dengan Tarîqah Jumhur, Tarîqah Ghoir al Hanafiyah juga disebut pula dengan Tarîqah Syâfi’iah. Masing-masing penyebutan ini memiliki dasarnya masing-masing. Disebut tarîqah jumhur dan tarîqah ghoir al hanfiyah dikarenakan tarîqah ini banyak diikuti oleh hampir semua ulama dari berbagai kalangan mazhab, khususnya selain kalangan Hanafiyah. Disebut tarîqah syâfi’iyah dikarenakan Imam Syafi’i adalah pencetus utama tarîqah ini.

Tarîqah ini memiliki corak khusus berupa pengambilan kaidah Usûl fikih yang sama sekali terlepas dari hukum fikih. Apa yang dikatakan oleh petunjuk dan dalil yang bersifat universal, maka ialah yang akan dijadikan kaidah. Ia lebih bersifat kajian teoritis yang jauh dari kata fanatisme kemazhaban. Berbeda dengan tarîqah pertama yang lebih banyak menampilkan hasil hukum fikih dalam karya-karya mereka, tarîqah ini justru sangat sedikit mengutip hasil fikih. Adapun ketika memaparkan hasil hukum fikih, maka itu murni hanya sebagai contoh, bukan sebagai landasan pengambilan kaidah Usûl seperti halnya yang terjadi pada tarîqah pertama (lihat: Ali Jum’ah Muhammad, Târîkh Usûl Fikih, hal 33).

Dari beberapa karya yang mengikuti metode ini, ada karya-karya monumental yang sekiranya perlu saya sebutkan disini.

  1. Al ‘Umad karya Al Qodhi Abdul Jabbâr al Muktazili
  2. Al Mu’tamad karya Abi al Husain al Bashry al Muktazili (w. 413 H)
  3. Al Burhân karya Imam al Haramain (w. 478)
  4. Al Mustashfâ karya Imam al Ghazali (w. 505 H)
  5. Al Mahsûl karya Imam Fahr ad Din ar Râzi (w. 606 H)
  6. Al Ihkâm fi Usûl al Ahkâm karya Saif ad Din al Âmidî (w. 631 H)

Ketiga, Tariqat al Jam’i yang muncul pada abad ke tujuh Hijriah. Disebut dengan nama itu dikarenakan tarîqah ini menggabungkan kedua tarîqah sebelumnya, Tarîqah Hanafiyah dan Tarîqah Mutakallimîn. Harapannya adalah mengambil keistimewaan masing-masing tarîqah untuk menutup kekurangan yang dimiliki oleh salah satu dari ke-dua tarîqah sebelumnya.

Adapun karya dan  ulama yang menulis mengikuti metode ini antara lain:

  1. Tankîh al Usûl karya Shadr asy Syarî’ah al Hanafi (w. 747 H)
  2. Jam’u al Jawâmi’ karya Ibnu as Subki (w. 771 H), begitu pula dengan ringkasannya, Ghoyat al Wusûl karya Syeh Zakariâ al Anshâri (w. 926 H)
  3. At Tahrîr karya Kamâl ibn Humâm al Hanafi (w. 861 H)
  4. Musallam as Subût karya Muhibbullâh ibn Abdi asy Syakûr (w. 1119 H).

Itulah beberapa corak metodologi yang berkembang di kalangan Usûliyyin (ulama ahli Usûl fikih) lintas masa. Ini tidak menutup kemungkinan masih adanya corak lain selain yang telah disebut, seperti corak maqâshid yang diusung oleh Imam asy Syâtibî dalam karyanya Al Muwâfaqât fi Usûl asy Syarî’ah. Akan tetapi tiga corak yang telah disebutkan diatas adalah corak yang sudah selayaknya diketahui oleh pembaca ilmu Usûl fikih, khususnya para pemula.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *