Siapa guru ngaji Qur’an anda? Saya, meski awam, merasa beruntung karena sejak kecil sudah bersinggungan dengan lingkungan yg punya tradisi kuat dlm urusan ngaji Qur’an.

Ayah adalah orang pertama yg mengenalkan dan mengajarkan Al-Quran kpd saya. Ia waktu kecil sempat sebentar berguru ke kiai Munawwir, saat awal ngabdi di rumah kiai Ali Maksum, menantu sang guru. Setelah kiai Munawwir wafat, ayah melanjutkan ngaji ke Kiai Raden Abdul Qodir Munawwir.

Paska ayah wafat, saya yg masih berusia 7 tahun melanjutkan belajar Quran kpd pakde yg juga alumni krapyak. Saat mondok di Tremas, lagi2 saya ngaji Qur’an di bawah bimbingan pakde dari ibu, Kiai Harist yg juga berguru Quran di krapyak kpd Den Dul Qadir. Sesekali saya ngaji ke Nyai Hafshah Dimyathi, yg pernah berguru langsung kepada ayahnya, Kiai Dimyathi.

Sepulang dari Tremas, saya ngaji kpd Kiai Muhsin, murid kiai Ahmad Baedhowi kedungloteng Purworejo, yg seangkatan kiai Habib Tremas waktu ngaji di Krapyak.

Guru saya ini (Kiai Muhsin) juga ngaji tabaruk ke Kudus dengan Kiai Arwani dan Kiai Hisyam. Dari Kiai Hisyam beliau mendapat ijazah sanad Al Qur’an.

Saya juga sempat belajar kepada Kiai Khobir, Tulungagung. Beliau ini ngajinya juga ke Krapyak dan beberapa kiai yg sanadnya sambung ke Kiai Munawwir. Di Tulungagung saya juga belajar kepada Kiai In’am yg lulusan Al Muayyad, di bawah asuhan Kiai Umar.

Artinya, meski saya masih awam dalam urusan ngaji Qur’an, hati ini merasa ayem pernah belajar dari guru2 yg mumpuni dan sanad qira’atnya sambung hingga Rasulullah.

Jadi bukan kebetulan bila kemudian saya bertemu jodoh yg orangtuanya juga pernah nyantri kepada Kiai Arwani dan Kiai Hisyam, Kudus.

Semoga kita semua kelak dikumpulkan dengan guru2 kita dan diakui sebagai murid mereka dunia akhirat…

Lahumul Fatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *