Alasan klise Wahaby menolak Maulid : kalau Maulid itu baik, mengapa para sahabat tidak merayakannya?
Inilah bukti keblingeran mereka. Para sahabat itu hidup&berjuang bersama Rasul. Rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad Saw langsung diwujudkan dengan kerelaan mengorbankan apa saja baik harta, tenaga, pikiran, waktu bahkan jiwa sekalipun demi tegaknya kalimat ALLAH yang tinggi. Sedangkan kita yang mengaku cinta Rasulullah Saw dan hidup sangat jauh terpisah belasan abad dari masa hidup beliau, maka kita perlu menunjukkan cinta kepada Nabi dengan berbagai cara antara lain dengan menyelenggarakan Maulid sebagai wasilah ekspresi kecintaan kepada ALLAH dan UtusanNya yang sangat menyayangi umatnya dari dunia hingga akhirat.
Sekaligus pula ungkapan syukur atas kelahiran beliau yang menjadi rahmat bagi semua alam serta menjadi sebab keberadaan alam semesta (ashlul wujud) termasuk keberadaan kita di alam dunia ini. Seluruh makhluk bergembira saat kelahiran Nabi Muhammad Saw kecuali Iblis yang justeru menjerit. Ia kecewa berat atas turunnya petunjuk, rahmat, ampunan dan keberkahan yang merata ke seluruh alam berkat kelahiran seutama-utamanya makhluk, Baginda Rasulullah Saw. Jika demikian, golongan yang kecewa bahkan membenci maulid adalah anak buah dari siapa coba?
Lalu, kalau kelahiran anak sendiri saja sudah sangat gembira, sehingga ulang tahunnya selalu diperingati, mengapa perayaan kelahiran Nabinya sendiri justeru dimusuhi? Di sinilah keblingeran kaum Wahaby berikutnya.
Kaum Wahaby juga berdalih pula Nabi Muhammad Saw tidak merayakan hari kelahirannya, sehingga yang memperingati Maulid tergolong melakukan bid’ah. Pada sisi ini juga mereka kurang baca hadits. Padahal dalam hadits riwayat Muslim dijelaskan bahwa saat Nabi Muhammad Saw berpuasa hari Senin, lalu ditanyakan alasannya oleh sahabat. Maka Nabi Saw menjawab : “karena di hari itu aku dilahirkan.” Dengan kata lain, beliau merayakan kelahirannya dengan berpuasa. Jadi tidak disalahkan jika umatnya merayakan Maulid dengan cara-cara yang baik pula seperti pembacaan Al-Qur’an, sholawat, ceramah, membaca biografi Rasulullah Saw yang terangkum dalam aneka kitab maulid (Syaroful Anam, al-Barjanzy, Burdah, Diba’i, Simtud Duror, Dhiyaul lami’ dan semacamnya).
Alasan lain yang sering dipakai sebagai senjata oleh kaum celana cingkrang adalah kalau yang tidak dilakukan Nabi, berat kita terlarang untuk melakukannya. Sekali lagi statement ini menegaskan kebodohan mereka akan hadits-hadits dan sejarah sahabat. Dalam banyak hadits dijelaskan bahwa adzan didapatkan lafadznya dari Abdullah bin Zaid r.a melalui mimpinya, sholat Sunnah wudhu yang digagas oleh Bilal r.a. dan justru dipuji Nabi, tidak disalahkan. Kemudian penambahan dalam doa iftitah dan i’tidal, serta sahabat yang selalu membaca Al-Ikhlas pada setiap roka’at, semuanya malah diapresiasi baik oleh Nabi, tidak dituduh melakukan bid’ahAlasan klise Wahaby menolak Maulid : kalau Maulid itu baik, mengapa para sahabat tidak merayakannya?
Inilah bukti keblingeran mereka. Para sahabat itu hidup&berjuang bersama Rasul. Rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad Saw langsung diwujudkan dengan kerelaan mengorbankan apa saja baik harta, tenaga, pikiran, waktu bahkan jiwa sekalipun demi tegaknya kalimat ALLAH yang tinggi. Sedangkan kita yang mengaku cinta Rasulullah Saw dan hidup sangat jauh terpisah belasan abad dari masa hidup beliau, maka kita perlu menunjukkan cinta kepada Nabi dengan berbagai cara antara lain dengan menyelenggarakan Maulid sebagai wasilah ekspresi kecintaan kepada ALLAH dan UtusanNya yang sangat menyayangi umatnya dari dunia hingga akhirat.
Sekaligus pula ungkapan syukur atas kelahiran beliau yang menjadi rahmat bagi semua alam serta menjadi sebab keberadaan alam semesta (ashlul wujud) termasuk keberadaan kita di alam dunia ini. Seluruh makhluk bergembira saat kelahiran Nabi Muhammad Saw kecuali Iblis yang justeru menjerit. Ia kecewa berat atas turunnya petunjuk, rahmat, ampunan dan keberkahan yang merata ke seluruh alam berkat kelahiran seutama-utamanya makhluk, Baginda Rasulullah Saw. Jika demikian, golongan yang kecewa bahkan membenci maulid adalah anak buah dari siapa coba?
Lalu, kalau kelahiran anak sendiri saja sudah sangat gembira, sehingga ulang tahunnya selalu diperingati, mengapa perayaan kelahiran Nabinya sendiri justeru dimusuhi? Di sinilah keblingeran kaum Wahaby berikutnya.
Kaum Wahaby juga berdalih pula Nabi Muhammad Saw tidak merayakan hari kelahirannya, sehingga yang memperingati Maulid tergolong melakukan bid’ah. Pada sisi ini juga mereka kurang baca hadits. Padahal dalam hadits riwayat Muslim dijelaskan bahwa saat Nabi Muhammad Saw berpuasa hari Senin, lalu ditanyakan alasannya oleh sahabat. Maka Nabi Saw menjawab : “karena di hari itu aku dilahirkan.” Dengan kata lain, beliau merayakan kelahirannya dengan berpuasa. Jadi tidak disalahkan jika umatnya merayakan Maulid dengan cara-cara yang baik pula seperti pembacaan Al-Qur’an, sholawat, ceramah, membaca biografi Rasulullah Saw yang terangkum dalam aneka kitab maulid (Syaroful Anam, al-Barjanzy, Burdah, Diba’i, Simtud Duror, Dhiyaul lami’ dan semacamnya).
Alasan lain yang sering dipakai sebagai senjata oleh kaum celana cingkrang adalah kalau yang tidak dilakukan Nabi, berarti kita terlarang untuk melakukannya. Sekali lagi statement ini menegaskan kebodohan mereka akan hadits-hadits dan sejarah sahabat. Dalam banyak hadits dijelaskan bahwa adzan didapatkan lafadznya dari Abdullah bin Zaid r.a melalui mimpinya, sholat Sunnah wudhu yang digagas oleh Bilal r.a. justru dipuji Nabi, tidak disalahkan. Kemudian penambahan dalam doa iftitah dan i’tidal, serta sahabat yang selalu membaca Al-Ikhlas pada setiap roka’at, semuanya malah diapresiasi baik oleh Nabi, tidak dituduh melakukan bid’ah. Begitu juga Sahabat-sahabat utama (Abu Bakar, Umar, Utsaman dan Ali r.a) yang dijamin masuk surga dan kita disuruh untuk mengikuti mereka, semua juga pernah melakukan bid’ah, meski bid’ahnya bid’ah hasanah (baik), seperti pengumpulan Al-Qur’an, sholat tarawih 20 roka’at secara berjamaah di satu tempat, adzan Jum’at 2x dan memerangi para pemberontak negeri (bughot). Jadi sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tidak semua yang tidak pernah dilakukan Nabi itu terlarang dan terkategori bid’ah. Jika prakarsa itu baik, tidak mengandung maksiyat, bahkan justeru melahirkan kemaslahatan, boleh dikerjakan dan terkategori bid’ah hasanah, bukan termasuk bid’ah sayyi’ah (buruk) yang sesat dan dilarang.
Begitu juga Sahabat-sahabat utama (Abu Bakar, Umar, Utsaman dan Ali r.a) yang dijamin masuk surga dan kita disuruh untuk mengikuti mereka, semua juga pernah melakukan bid’ah, meski bid’ahnya bid’ah hasanah (baik), seperti pengumpulan Al-Qur’an, sholat tarawih 20 roka’at secara berjamaah di satu tempat, adzan Jum’at 2x dan memerangi para pemberontak negeri (bughot).
Jadi sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tidak semua yang tidak pernah dilakukan Nabi itu terlarang dan terkategori bid’ah. Jika prakarsa itu baik, tidak mengandung maksiyat, bahkan justeru melahirkan kemaslahatan, boleh dikerjakan dan terkategori bid’ah hasanah, bukan termasuk bid’ah sayyi’ah (buruk) yang sesat dan dilarang.

No responses yet