Silaturahim Hadratussyeikh Hasyim Asyari ke Pondok Tremas, menemui sejawat dan adik gurunya, Kiai Dimyathi Abdullah, bukanlah kunjungan biasa.
Di usianya yang belum genap lima tahun, NU, yang lahir sebagai reaksi dan gerakan Wahabi yang hendak memberangus tradisi Aswaja, butuh dukungan banyak pihak, utamanya para kiai sepuh dan pondok pesantren yang memiliki basis kuat keilmuan dan tradisi keagamaan aswaja.
Apa yang menjadi harapan besar hadratussyeikh tidak sia-sia. Pada penyelenggaraan Muktamar NU ke 5 di
Pekalongan, 1930, Mbah Kiai Dimyathi hadir. Diceritakan dalam buku biografi Wahid Hasyim, karangan sejarawan Abubakar Atjeh, beliau hadir bersama para kiai senior dan tokoh-tokoh muda berpengaruh lainnya, seperti Kiai
Faqih Maskumambang, Kiai Ilyas, Kiai Wahid Hasyim dll.
Kehadirannya tentu memberi makna penting bagi NU, terlebih pada awal-awal berdiri kehadiran Mbah Dimyathi baru melalui utusan, seperti terdokumentasi dalam daftar hadir peserta Muktamar kedua tahun 1927 di Surabaya.
Kehadiran langsung Mbah Guru Dimyathi dalam muktamar semakin mempertegas sikap Pondok Tremas atas berdirinya Jamiyyah para kiai tersebut. Sisi menarik dari kunjungan Hadratussyeikh Hasyim Asyari dalam membangun simpul jaringan kekuatan NU
tidak sebatas menghadirkan dan melibatkan Mbah Dim dalam muktamar. Ada misi dan perbincangan khusus diantara keduanya yang tidak diketahui publik. Sesuatu yang baru terungkap 25 tahun kemudian saat Kiai Badrus Sholeh Arif, pengasuh Pondok Al Hikmah, Purwoasri, Kediri, salah satu menantu Mbah Hasyim, sowan ke Tremas, diutus Mbah Nyai Hasyim menyampaikan pesan wasiat mertuanya, agar Kiai Haris, bungsu dari Mbah Kiai Dimyathi bersedia menikah dengan putri Mbah Hasyim yang bernama Nyai Fatimah. Tidak ada yang menyangka, bahwa rencana besar Mbah Hasyim tidak sekadar mendudukkan Mbah Dim sebagai sesepuh NU, tapi juga menjalin hubungan besan demi memperkokoh ikatan lahir batin dalam membangun perjuangan dakwah di bawah panji NU.
Hubungan lewat pernikahan ini memberi bukti penting posisi Tremas dalam lingkaran Jamiyyah Nahdlatul Ulama, termasuk pernikahan Kiai Ahmad Athaillah bin Bisri
Syansuri dengan Nyai Mahmulah binti Kiai Masyhud, -yang merupakan putri angkat Kiai Abdur Razzaq, adik Mbah Dimyathi,- menjadikan Tremas juga punya tanggungjawab besar membesarkan NU sebagai salahsatu ikhtiar menjaga tanah air dari segala bentuk ancaman dan rongrongan kelompok transnasional yang anti NKRI dengan berkhidmah lahir batin berjuang di bawah panji Jamiyyah Nahdlatul Ulama.
KHR. Muhammad Dimyathi wafat pada hari Jumat, 17 Muharam 1352 H (1934) dan dimakamkan di Maqbarah Gunung Lembu, Tremas.
Mengembalikan Pamor Pesantren
Dulu, pola pikir selembar kertas bernama ijazah menjadikan banyak kiai dijauhkan dari posisi strategis di birokrasi, dunia kampus dan TNI. Tapi kualitas keilmuan produk pesantren tetap terjaga dan pamornya tetap jadi primadona di masyarakat.
Kini, banyak santri dan kiai muda mengejar sekadar selembar kertas bernama ijazah. Sebagai tuntutan karir dan menyesuaikan zaman yg telah berubah, oke lah. Tapi kalo dampaknya kualitas keilmuan di pesantren dan madrasah dinomortigabelaskan, ini yg disayangkan, kata Kiai Ahmad Baso.
Bagaimanapun, sistem pendidikan ala pesantren memiliki keunggulan, spt diakui Ki Hajar Dewantoro dan dr Sutomo. Tapi kemudian pemerintah kolonial, yg ketakutan akan kekuatan sistem pesantren, buru2 memberi stigma negatif, bahwa pesantren itu kumuh, tradisional dan ketinggalan zaman.
Sebagai referensi, dulu kampus Oxford, Cambridge atau Harvard, itu semua model pesantren dan dirintis kalangan swasta, dengan kurikulum dan ijazah sendiri yg dikeluarkan. Lama lama muncul negara modern yg kemudian aparatnya tinggal melegalisir standar dan ijazah lembaga kuno tersebut. Bukan malah birokrat negara bikin standar baru, ijazah baru dan juga kampus baru pengganti sistem lama model Oxford dst.
Itu sebabnya kini ketiga kampus itu jadi hebat seperti sekarang. Karena tidak dirusak oleh para birokrat pendidikan yg sok tahu.
Apa yg terjadi di negeri ini justru sebaliknya. Sistem pesantren yg mengajarkan berbagai bidang ilmu dianggap kuno. Kita kadang lebih percaya Otak Kompeni anti pesantren daripada nalar para intelektual produk Nusantara.
Akhirnya, kini kita seolah tak berguna bila tak memiliki ijazah dari lembaga pendidikan yg kurikulumnya morat marit dan tak memiliki standar baku layaknya model pendidikan di pesantren.
Tidak heran bila sekarang banyak santri ikut ikutan koleksi gelar sepanjang rel kereta: SAg, Dr. dr. Drs. MSc. M, Phil. PhD bla bla
Ada juga para dosen, rektor, gus, ning, hingga kiai muda bergelar Prof Dr, berbondong-bondong ngaji kepada Gus Baha’ yang notebene hanya berlatar belakang pendidikan pesantren.
Karenanya, ayo kita kembalikan kejayaan sistem pendidikan ala pesantren yg sejatinya model kurikulumnya layak dijadikan kiblat sistem pendidikan nasional.
Baca kisah-kisah menarik lainnya di buku #Manuskrip_Tremas. pesan Di SINI

One response
Semoga sejarah tremas dan tebu ireng bisa diulang oleh para pengasuh penerus kini dan nanti aamiin