Categories:

Miris…seorang wanita berumu 25 tahun, rela mati setelah sebelumnya menodongkan senjata mainan kepetugas atas nama jihad. Ini terekam dalam surat wasiatnya yang ditulis sebelum aksi ala ‘cowboy’ nya berakhir. Sebelumnya sepasang suami-istri yang baru 6 bulan menikah rela meledakkan diri di depan gereja Katedral Makassar juga atas nama jihad. Lagi-lagi surat wasiatnya melukiskan fakta dibalik layarnya.

*********

Jihad Dalam Qur’an dan Hadits

Jihat menurut al-Qur’an dan Hadits;

وجاهدوا في الله حق جهاد

Berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (al-Hajj: 78)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (at-Taubah: 20)

Perumpamaan orang yang berjihad seperti orang yang berpuasa dan shalat terus menerus, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berjihad (ikhlas). Allah telah menjanjikannya surga jika dia terbunuh atau mengembalikanya dengan selamat serta membawa pahala dan rampasan perang. (al-Bukhari)

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَغْزُو وَنُجَاهِدُ مَعَكُمْ فَقَالَ: لَكِنَّ أَحْسَنَ الجِهَادِ وَأَجْمَلَهُ الحَجّ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Aisyah berkata: Ya Rasulullah, apakah kami boleh ikut berperang dan berjihad bersama kalian? Rasulullah menjawab “Jihad terbaik dan terindah adalah haji mabrur”. (al-Bukhari)

قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُجَاهِدُ قَالَ لَكَ أَبَوَانِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Ada seorang laki-laki bertanya pada Rasul ﷺ: Dapatkah aku pergi berjihad? Rasul menjawab “Apakah engkau memiliki orang tua?”, “ya” jawab lelaki itu, Rasulullah menjawab, “Maka berjihadlah dengan melayani keduanya” (al-Bukhari)

أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Seorang laki-laki bertanya pada Nabi Muhammad: “Jihad apakah yang paling baik?” Rasul menjawab,”Mengatakan kebenaran dihadapan penguasa yang dzalim.” (an-Nasa’ie)

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نفسه لله عز وجل

Mujahid adalah orang yang berjihad melawan nafsunya karena Allah. (Ibnu Hibban)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah berjihad berjuang melawan hawa nafsu.” (ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Jihad adalah mengakatakan kebenaran dan menegur pemimpin yang dzalim lagi diktator. Rasul bersabda (HR. Ahmad)

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Dalam hadits yang lain

أَفْضَلَ الجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Sebaik-baik jihad adalah haji mabrur (al-Bukhari)

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِع

“Siapa saja yang keluar rumahnya untuk menuntut ilmu, maka dia fisabilillah hingga pulang.” (HR. Turmudzi)

*********

Membunuh Non Muslim (Ahlud-Dzimmah)

Imam Abu Daud, bahwa Nabi Saw bersabda;

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ketahuilah, bahwa  siapa yang menzalimi seorang mu’ahad (non-Muslim yang berkomitmen untuk hidup damai dengan umat Muslim), merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat.”

Dalam hadis lain riwayat Imam Thabrani disebutkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda;

مَنْ آذَى ذِمِّيًا فَقَدْ آذَانِيْ، وَمَنْ آذَانِيْ فَقَدْ آذَى اللهِ

“Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non Muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.”

Bahkan dalam sebuah riwayat diancam tidak bisa mencium bau surga.

*********

Bughot Dalam Khazanah Islam

Bughot, dalam khazanah fiqih berarti “pemberontakan”. Berasal dari akar kata bagha, yang berarti “melampaui batas”. Bughot dilarang menurut fiqih dan pelakunya harus diperangi. 

Perlu dibedakan antara kritik dan bughot. Kritik terhadap penguasa adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Banyak sekali hadits yang menyebutkan soal ini, di antaranya: “Seutama-utama jihad adalah menegakkan kalimat haq di hadapan (terhadap) penguasa yang zhalim.”  

Sedangkan yang disebut bughat menurut Khatib Syarbini dalam kitab al-Iqna’ fi Halli Alfazh Abi Syuja’ harus memenuhi tiga syarat: pertama, mereka memiliki kekuatan. Kekuatan dalam bentuk senjata atau, logistik, atau massa, dan sejenisnya. Kedua, mereka keluar dari ketaatan terhadap penguasa yang sah.  Selama penguasa tidak memerintahkan untuk melakukan sesuat yang menentang agama, atau selama kita bisa melaksanakan kewajiban agama, maka taat adalah keharusan.

Ketiga, mereka menggunakan penafsiran atau ta’wil yang batil. Maksudnya, dalam memerangi imam dan penguasa yang sah mereka menggunakan penafsiran tertentu untuk membenarkannya.  Sementara penafsiran itu menyimpang dari metodologi penafsiran yang sudah digariskan para ulama sejak generasi salafunas-sholeh. Dalam soal ini prinsipnya jelas, seperti disebutkan dalam ayat: “Taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa’, 4: 59). Kalau ingin melakukan perbaikan, dalam bahasa Imam al-Ghazali disebutkan, untuk membangun sebuah bangunan, tidak perlu merobohkan sebuah kota. Dan tahapan serta etikanya mengikuti panduan al-Qur’an dan Hadits.

“Hendaklah kamu mendengarkan dan mematuhi biarpun yang diangkat untuk memerintah kamu seorang hamba sahaya bangsa Habsyi, rambutnya bagai anggur kering.” (HR. Bukhari).  Dalam hadits Nabi yang lain berbunyi: “Seorang muslim perlu mendengarkan dan mematuhi perintah, yang disukainya dan tidak disukainya, selama tidak disuruh mengerjakan maksiat (kejahatan). Tetapi apabila dia disuruh mengerjakan maksiat, tidak boleh didengar dan ditatati.” (HR. Bukhari)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *