Nama itu artinya “ya orangtua”. Sebuah nama untuk menyebut kesepuhan sosok yang dinamai. Dikson bilang pada saya, bahwa ia disebut “ju” karena setiap kali ada yang memanggilnya, selalu ia katakan: ju. “Ju” merupakan bahasa halus untuk mengatakan iya. Barangkali kata itu sebanding dengan “dalem” kalau di Jawa. Dikson adalah dosen di IAIN Sultan Amai Gorontalo. Ia lulus tes PNS sebagai dosen tanpa belajar. Sebelum hari ha atau hari waktu ujian, ia hanya menyedekahkan waktu untuk bertawaf dari satu makam wali ke makam wali yang lain.

Bersama Dikson, juga ada Djunawir, Arfan, Amin, dan lainnya. Saya ditemani oleh orang-orang baik itu. Saya membawa dupa sebenarnya. Tapi pintu bagasi mobil tempat saya meletakkan tas tiba-tiba tidak bisa dibuka ketika kami telah menginjak area makam. Saya tahu Ju Panggola hanya mau didatangi dengan ketulusan hati. Tidak perlu dinyatakan dengan simbolnya, dalam hal ini, dupa. Saya menyampaikan hal itu kepada mereka. Ketika saya sudah sampai di dekat pintu masuk makam, Djunawir mengantarkan tas kepada saya dari bagasi yang pintunya sudah bisa dibuka. Ternyata tas yang ia ambil bukan tas saya, tapi tas seseorang di antara kami. Saya tegaskan lagi pernyataan di atas sambil tertawa.

Orang-orang di Gorontalo menghitung Ju Panggola sebagai sulthan awliya Gorontalo. Ia disebut juga Raja Ilato atau raja kilat. Banyak kesaksian dan berita ihwal kejadian aneh menurut otak orang modern di balik sebutan itu. Alkisah, ketika ia dipanggil entah di mana oleh siapa saja yang sedang bertarung dengan kesulitan, Ju Panggola langsung hadir. Ia datang secepat kilat. Kini, ia dipercayai memang dimakamkan di bukit itu. Terletak sekira 7 kilometer dari pusat kota. Berliku. Gegunung. Lelembah. Di pinggir atas danau Limboto.

Banyak orang berziarah ke sana. Banyak pula yang mengambil tanah putih halus harum dari makamnya. Ketika selesai bermantra dalam permohonan ampunan di sana, lalu sraqalan memuji Kanjeng Nabi saw, saya mengeruk tanah halus yang dipatok oleh nisan putih itu. Lalu saya mengoles-oleskannya di pinggang, perut, badan, kaki, dan wajah saya. Arfan dan kawan-kawan menggeleng. Tapi setelah kami menemui seorang ibu yang bertugas sebagai juru kunci, katanya perbuatan saya itulah yang benar. Para sesepuh di Gorontalo selalu berbuat demikian. Saya juga membawa segenggam tanah putih halus dari makam sang wali itu untuk saya bawa pulang ke Jogja. Sesampainya di rumah, tanah putih dari makam sang wali itu saya cemplungkan ke dalam sumur rumah.

Dikson bercerita perihal makam Ju Panggola yang disebut-sebut berada di Mekah. Makam itu sendiri, yang berada di samping mihrab mesjid mungil puncak bukit, dipercayai oleh masyarakat sebagai makam asli Ju Panggola. Sesepuh di desa itu suatu ketika menemukan melalui petunjuk rohani. Lalu ia mendasarkan pada dawuh sang wali besar itu, yang kira-kira berbunyi; di mana ada tanah putih harum, di situlah saya berada. Bagi saya, di mana makamnya, asli atau tidak, jelas itu tidak penting. Kemenyambungan dan ketersambungan pada para wali itulah yang paling penting. Doa melintasi ruang-waktu. Bisa saja tubuh sang wali dimakamkan di Jawa, tapi si pendoa ada di Gorontalo. Doa tetap sampai. Karena ada ketersambungan dan kemenyambungan di sana.

Sebulan sebelum peziarahan itu, bulan Juli, saya bercerita tentang petunjuk untuk berziarah ke makam itu. Saat bercerita itu, langit tiba-tiba menitikkan air lumayan lebat. Hujan. Meski tidak selebat hujan dahsyat. Lalu saya dan para intelektual muda Sultan Amai menghijrahkan badan ke tempat nongkrong bagian dalam cafe di pusat kota Gorontalo. Saya membatin betapa kuat dan kencang sinyal sang wali ini. Begitu namanya disebut, hujan datang menemani. Padahal itu musim kemarau. Sayangnya, saya belum jadi menyambangi Ju Panggola.

Sebulan kemudian, bulan Agustus, saya kembali menyambangi Gorontalo. Sejak berangkat dari rumah, saya sudah meniatkan akan menyowani Ju Panggola, sang wali besar yang namanya disambut oleh hujan itu. Ketika saya baru menginjakkan kaki dari bandara Gorontalo, di tengah perjalanan menjelang tengah kota, tiba-tiba hujan turun. Deras dan lebat. Padahal masih kemarau. Jejak-jejak kekeringan dapat saya tangkap dari kekerontangan pepohonan dan rerumputan di sepanjang perjalanan dari Bandara. Kata si penjemput, sudah ada lebih 2-3 bulan kemarau melanda. Belum ada hujan. Saya bersyukur.

Suatu ketika, Dikson pernah menyowani makam-makam wali di Jawa.  Ia sempat bersowan ke salah satu kyai sepuh di Jawa Timur. Ia bermaksud untuk bertanya perihal makam-makam mana saja yang seharusnya ia datangi di Jawa. Sang kyai lalu diam sebentar sambil memejamkan matanya demi menjawab pertanyaan Dikson itu.

“Asalmu darimana?”, tanya sang kyai

“Dari Gorontalo, Pak Kyai”, jawab Dikson.

Sang Kyai diam lagi sebentar. Setelah itu, Dikson dituturi beberapa baris kalimat singkat. Saya lupa persisnya kalimat itu. Tapi maksudnya masih saya ingat. Kurang-lebih kalimat itu menyatakan bahwa wali-wali di negeri Dikson lebih dulu menjadi sesepuh. Baru kemudian wali-wali di negeri sang kyai. Karena itu, Dikson diberi amanat untuk mengkhatamkan ziarah makam-makam wali di negerinya ketika ia sudah pulang kampung.

Saya berdegup-degup mendengar kisah Dikson. Linnabi wa li Ju Panggola wa lijami’i awliyaillah fi Gorontalo, al-fatihah…

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *