Jamaah : “Jo aku merasa pesimis bisa memiliki anak sholeh dan sholihah, karena saya dihadapan anak-anakku dikenal sangat keras dalam mendidik. Dulu tidak jarang aku menggunakan kekerasaan untuk mendisiplinkan mereka. Sebagai ayah saya berniat ingin memastikan keadaan mereka bisa lebih baik dari diriku. Sayang sekali cara yang kulakukan ternyata salah”
Paijo : ‘Kang setiap ayah memiliki kerakter dan masa yang saling berkaitan dengan tindakan yang dilakukan terhadap keluarganya. Bagi mereka yang punya latar keluarga kaya,tidak begitu sulit menghadirkan “ketenangan” dalam keluarga. Tetapi bagi para karyawan rendahan kayak kita ini, hidup itu seperti roller coaster, berjalan begitu cepat naik dan turun dan menguras emosi. Ketika ekonomi belum mapan, kita dihadapkan pada kewajiban dan kadang tututan anak istri yang melampaui pendapatan. Akibatnya kita jadi mudah tersinggung dan marah pada keadaan diri kita sendiri dan kita lampiaskan pada anak dan istri, yang secara tradisi sering disalah pahami sebagai “milik atau properti suami”.
Jamaah : “Kamu betul Jo, aku dulu prajurit rendahan dengan penghasilan pas-pasan. Aku menyesal telah salah memperlakukan anak dan istriku. Meskipun aku tetap bersyukur mereka tidak meninggalkan aku hingga saat ini. Seandainya aku dulu memperlakukan anak-anakku sebagaimana aku memperlakukan cucu-cucuku saat ini, mungkin anak-anakku akan menjadi orang sukses. Aku berharap cucu-cucuku tidak diperlakukan sama seperti aku memperlakukan anakku dengan penuh kekerasan. Kenapa aku baru sadar sekarang ya Jo? Kenapa nggak sadar ketika pertama kali menjadi ayah? Aku benar-benar menyesal Jo”
Paijo : “Sudahlah kang, yang lalu biarlah jadi pelajaran kita dan anak-anak kita. Sekarang fokus saja pada pertaubatan, dengan meminta maaf pada anak-anak kita dan pasangan kita. Semoga saja mereka mau memaafkan kita dan membangun kembali cinta yang rapuh, menjadi inspirasi buat anak dan cucu kita. salah satu satu rahasia kenapa nabi dihadrikan Allah sebagai yatim piatu sejak kecil adalah agar Nabi Muhammad bisa lebih “bebas” dari intervensi manusia dan hanya menjadi “murid” Allah melalui para “malaikat” penjaganya. Nabi kita mendapatkan Cinta dari banyak orang mulai dari ibu, kakek dan paman-pamannya, serta para malaikat. Sebelum kemudian mendapatkan Cinta dari Khadijah yang bukan saja berperan menjadi seorang istri, tetapi sekaligus “ibu” yang tahu bagaimana memanjakan “anaknya” dengan ketulusan kasih sayang. Akang sudah menjadi sorang kakek, sudah tentu jauh lebih dewasa dan panjang cara berpikirnya. Tidak seperti ketika menjadi seorang ayah muda yang masih dikuatirkan dengan karir dan nasib keluarganya di masa depan. Sehingga mudah tersulut emosi dan mempengaruhi jiwa anak-anaknya. Sekarang mari kita fokus pada cucu kita kang, mari kita limpahi mereka dengan ketulusan Cinta, kita ajak mereka ke masjid, kita panggilkan guru ngaji, kita ajak jalan-jalan atau rekreasi sesering mungkin. Jangan kita bebani dengan cita-cita kita yang gagal. Nabi pernah bersabda yang artinya ; “Di sorga ada sebuah istana yang indah yang dissebut istana kebahagiaan (ad dar al faroch), tidak bisa seseorang masuk ke istana itu kecuali mereka yang selalu (berusaha istiqomah) membahagiakan anak-anak. Banyak cerita yang menggambarkan betapa seorang cucu jauh lebih alim atau shaleh dari sang anak, itu karena peran kakeknya yang bisa mengimbangi cinta dan ketegasan sang anak terhadap cucunya. Aku adalah anak yang tidak pernah punya kesempatan mendapatkan kasih sayang kakek, aku sering cemburu dengan teman-temanku yang bahkan bisa mudik ke rumah kakek-nenek mereka ketika lebaran. Begitu juga dengan anak-anakku kang. Jadi aku sedang berusaha menjadi seorang ayah dan juga seorang kakek. Apalagi zaman sekarang ini kang, dimana anak dan menantu kita sama sibuknya mencari nafkah, sehingga menitipkan anak mereka ke kita. Ini kesempatan buat kita untuk mendidik dengan Cinta kepada cucu kita, sebab dalam al-Qur’an disebutkan bahwa kita bisa dapat “syafaat” dari anak atau cucu kita atau dari kakek buyut kita yang keshalehannya lebih baik dari kita.”
Jamaah : “Begitu ya Jo, jadi aku tidak boleh terus merasa bersalah dan harus fokus mendidik cucu agar lebih baik tingkat keimanan dan ketaqwaanya dari pada kita.”
Paijo : “Betul Kang, meskipun tidak mudah tetapi harus kita ikhtiarkan sekuat tenaga, siapa tahu Allah menerima Taubat kita dan menjadikan cucu keturunan kita orang-orang yang akan menjadi Kekasih Nya.” #SeriPaijo

No responses yet