Kalam Jati bagi orang Jawa itu sesuatu yang sakral. Untuk menggambarkan kesakralannya, banyak bentuk laku tirakat dan suluk yang dilakoni oleh pelakunya demi sekedar memperoleh keistimewaan menyaksikan sendiri Kalam Jati yang jadi Titah Agung Sang Moho Wenang, Gusti Allah.
Keputusan tentang hal penting seperti pernikahan, membangun rumah, mbabat deso, peperangan hingga memilih haluan politik, gak marem kalo belum dapat petunjuk Kalam Jati lewat berbagai tirakat. Berbagai karya sastra Jawa yang ditulis oleh sastrawan Jawa menjadi tetenger bahwa Kalam Jati itu memang sesuatu yang sakral. Seperti kitab Serat Wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito, menyebut keyakinan tentang Kalam Jati ini dikaitkan kepada ajaran walisongo yang dalam rantai sanadnya mengitkan Imam Ghozali sebagai salah satu mata rantainya. Di sini bisa dilihat bahwa Kalam Jati adalah produk Islam Madzhab Asy’ariyah yang di-Jawa-kan.
Sampai ada lagu berkudul Kidung Wahyu Kolosebo yang konon ciptaan Sunan Kalijogo. Kidung Wahyu Kolosebo secara bahasa dapat diartikan sebagai : Kidung berarti syair, tembang atau mantra. Wahyu bermakna pencerahan, petunjuk. Sedangkan Kolosebo gabungan dari dua kata “Kolo” dan “Sebo”. Kolo sendiri memiliki arti waktu, masa ataupun saat. Sedangkan Sebo dalam bahasa Jawa artinya menghadap. Maka dalam jaman kerajaan ada istilah Paseboan Agung yang artinya perkumpulan bersama sama menghadap raja. Sehingga Kidung Wahyu Kolosebo bermakna Syair lagu tentang petunjuk-petunjuk yang diperoleh ketika menghadap Sang Maha Agung.
Kalo terminologi Islam bisa berarti saat sholat kalo bagi umat Islam pada umumnya, karena sholat itu mi’rojnya orang mukmin. Dan bagi Para Nabi dan Rosul bisa berarti saat mereka mendapat wahyu. Khusus bagi Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bisa mencakup saat Isro’ Mi’roj dan menuju Sidrotul Muntaha dan bertemu Gusti Allah untuk menerima titah-Nya berupa sholat.
Ada lagi ajaran tentang Qur’an garing (kering) dan Qur’an teles (basah). Qur’an garing berarti Qur’an yang tertulis di mushaf Qur’an yang bisa dibaca dan ditirukan oleh semua orang, dari orang hebat hingga orang bejat. Sedangkan Qur’an teles adalah Kalam Jati yang sudah menyatu dalam jiwa raga seorang manusia, tidak tertulis tapi bisa dibaca. Yaitu Qur’an sebagai Kalam Gusti Allah yang telah menjadi kepribadian atau akhlaq seorang manusia. Di sini, figur Kanjeng Nabi Muhammad menjadi penting sebagai role model Qur’an teles.
Sehingga bisa dilihat, bahwa orang Jawa dulu memaknai Kalam Jati sudah lebih canggih dari orang sekarang. Mereka memandang agama sebagai Kalam Gusti Allah dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya sebagai kepribadian yang harus malakah, meresap nyungsum balung, sebagai hal yang tidak boleh terpisahkan dalam kehidupan. Tidak cukup hanya satu aspek yang dikuasai, tapi agama harus dikuasai secara menyeluruh lahir batin, sehingga mendapat hidayah dan ilham dari sejatinya Kalam yaitu Kalam Adz Dzati Gusti Allah Ta’ala.

No responses yet