Pas ngopi pagi kemarin, saya bertemu “orang cilik” yang secara ekonomi lemah, pendidikan formal juga tidak lulus SD, tapi dalam dimensi lain kuat, sebut saja Kang Dul. Kang Dul bilang, “Gus, mau beli rumah yang pekarangannya luas? Ada lurah yang mencalonkan tapi gagal dan mau menjual rumahnya?” Saya jawab singkat “Gak pengen Kang, uang darimana kok mau beli.”
Pembicaraan lalu beralih kepada si lurah (saya tidak mau tanya ke Kang Dul siapa nama lurahnya, saya hanya ingin tahu kisahnya). Sebelumnya si lurah ini sudah dua kali nyalon dan berhasil. Pencalonan yang ketiga kalinya gagal. Padahal sudah diingatkan oleh Kang Dul untuk apa bolak balik mencalonkan. Dalam penglihatan Kang Dul, warga desanya pokoknya pengen ganti lurah itu saja, pertimbangannya bukan yang lain. Karena kalau pertimbangan uang, nyatanya lurah yang jadi “hanya” memberi 100 ribu. Kalau pertimbangan kualitas, ternyata banyak yang gremeng-gremeng (bisik-bisik) bahwa lurah baru tidak lebih baik dari yang lama.
Si lurah ini habis-habisan dalam pencalonan yang ketiga. Beberapa mobil Elf yang biasanya direntalkan sudah dijual untuk modal pencalonan. Ternyata modal untuk setingkat lurah saja sangat besar, hampir satu milyar. Saya setengah tidak percaya, maka minta penjelasan lanjut ke Kang Dul.
Kang Dul menguraikan, si lurah yang gagal ini memberi sembako ke penduduk (beras 5 kg, mie 4 biji, minyak 1 kg, gula 1 kg). Sembako itu diberikan per wuwung atau per rumah. Lalu gongnya adalah mengedarkan uang 150 ribu per orang. Kalau masyarakat desanya sekitar 4000 saja sudah setengah milyar lebih. Belum lagi biaya-biaya untuk jagongan ngopi yang biasanya hampir tiap malam dan berlangsung agak lama.
Saking bangkrutnya si lurah ini sampai terpaksa hutang ke Kang Dul yang ekonomi lemah itu. Kapan hari hutang 500 ribu dan dicarikan oleh Kang Dul, lalu baru saja mau hutang lagi 1 juta tapi tidak dikasih karena memang Kang Dul belum punya uang.
Rumahnya lurah gagal ini cukup mentereng, karenanya dijual seharga setengah milyar lebih. Si lurah terpaksa hendak menjualnya karena hutangnya menumpuk, ratusan juta. Saat Kang Dul bertanya, “Nanti mau bertempat dimana kalau dijual?” Jawabnya, “Ya tidak tahu.”
Nalar awam saya merenung:
- Urusan politik menggunakan uang kayak bukan suatu aib.
- Kalau seperti itu, maka hanya yang beruang (entah hutang atau kaya) yang bisa mencalonkan, urusan si calon “bloon” politik bukan pertimbangan.
- Setingkat lurah saja menghabiskan segitu, lha kalau caleg, cabub, cawalkot bagaimana ya?
- Sangat mungkin muncul kalap politik, yakni bila jadi akan kalap cari pengganti atas biaya pencalonan, dan kalau tidak jadi akan menjual apapun dan berhutang kepada siapapun. Kalap politik juga bisa berakibat stres bahkan gendeng dan bunuh diri.
- Di luar itu, saya tetap optimis ada calon dalam berbagai tingkatan yang tidak mengandalkan uang, itulah manusia hebat dalam politik.
***
Foto lawas saat ngopi hanya sebagai pemanis dari dua orang manis hehe.. kiriman Gus Jabbar Hubbi.

No responses yet