Seorang jamaah senior mendatangi Paijo dan mencurahkan kegelisahannya. “Kang saya sedih sekali dengan sikap anak saya yang tiba2 berubah dan tidak lagi menghargai dan menghormati orang tua. Dia menyalahkan pandangan keagamaan saya yang saya pelajari dari para ulama pesantren dengan pandangan-pandangan yang dia dapat dari internet. Kenapa anak sekarang begitu mudah berubah karakternya?”
Paijo terdiam sejenak kemudan berujar: “Kang zaman sekarang adalah zaman instan semua bisa berubah dengan sangat cepat. Termasuk pikiran, perasaan dan bahkan watak yang kemudian diekspresikan dalam sikap dan perilakunya. Persis seperti yang sampeyan rasakan dengan anak sampeyan. Ada beberapa keadaan yang bisa merubah manusia dengan sangat efektif. Pertama adalah pengetahuan yang mereka dapat atau pelajari (jenis dan kualitas informasi). Bisa jadi mereka membaca atau mendengar dan mempelajari informasi yang bersifat doktriner. Ini sangat efektif buat mereka yang sedang mengalami kegalauan hati dan pikiran (entah karena gagal sekolah, kerja, cinta ataupun ketidakharmonisan keluarga). Kedua adalah figur yang sedang diidolakan karena kedekatan pertemanan atau hubungan kerja, hubungan guru murid, ataupun karena figur itu menarik karena begitu banyak kesamaan visi yang bisa mengurangi rasa gelisah tersebut. Ketiga adalah aktivitas yang sedang dilakukan secara berulang, entah terkait dengan pekerjaannya ataupun kebiasaannya, terutama yang dilakukan secara berkelompok.
Terakhir yang paling sering terjadi sekarang ini adalah menguatnya dorongan bawa sadar yang dimunculkan oleh “sihir” lingkungan pertemanan. Saya menyebut ini sebagai “hipnotis komunitas”. Hal ini yang mendorong anak sampeyan lebih berani melawan karena merasa aman dengan adanya jaminan teman2nya yang dia kira akan membela jika dia konfliks dengan orang tuanya. Padahal jika itu terjadi, temannya tidak akan menolong dalam waktu lama. Justru dia akan ditingalkan oleh komunitasnya karena sesungguhnya mereka juga sibuk dengan problem hidup masing-masing. Kalau sudah frustasi mereka akan memunculkan pandangan-pandangan yang sangat ekslusif dan reaktif, sehingga merusak hati mereka. Mereka akan menjadi orang yang kaku dalam beragama dan pergaulan sosialnya cenderung menyalahkan orang lain yang tak senasib. Mereka akan sangat malu untuk kembali menjadi “normal”. Inilah dampak hipnotis lingkungan di zaman yang serba instan dan penuh informasi yang bisa jadi sangat menyesatkan meskipun terlihat sangat bernuansa agama. Faktor eksternal (hipnotis lingkungan) inilah yang mendorong mereka lebih berani untuk mengungkapkan perasaan meskipun itu bertentangan dengan keadaban umum. Sebagaimana anak sampeyan yang mulai berani melawan pendapat orang tua karena merasa hal itu tidak lagi melanggar etika dan kesopan santunan.” #SeriPaijo

No responses yet