Bagian paling sulit untuk diketahui dari jiwa rendah (nafs) adalah kemunafikan. Sebagian besar tindakan dijustifikasi dengan cara kemunafikan. Seseorang bisa saja mengatakan bahwa ia bekerja di jalan Allah (fi sabilillah), tetapi sebenarnya ia ingin memperoleh ketenaran, atau ingin menjadi imam sebuah komunitas, atau juga menjadi pemimpin suatu negara. 

Jika tindakan-tindakannya dilakukan demi Allah semata, tentunya segala penderitaan dari orang-orang malah akan mendekatkannya pada sumber kebenaran, menukik ke relung dirinya yang paling dalam, dan membuatnya bergantung pada Tuhan Yang Mahabenar. Banyak manusia tidak menyadari bahwa mereka tak lain hanyalah refleksi dari Tuhan Yang Mahabenar. Inilah yang diyakini kaum mukmin.

Karena refleksi itu mungkin tidak bisa dilihat dengan jelas, orang-orang yang lemah keimanannya dan tidak mampu mengambil hikmah dan pertumbuhan spiritual dari berbagai peristiwa yang ada mungkin mengartikan kesengsaraan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia sebagai tanda bahwa Allah tengah menghukum mereka, bahwa Allah tidak memberi mereka ganjaran lantaran berada di jalan keimanan.

Orang-orang berhati lemah mencari-cari ayat-ayat untuk melemahkan diri mereka sendiri lebih jauh. Manusia yang bisa membedakan kebaikan dari keburukan akan mengabaikan begitu saja kejadian-kejadian semacam itu. 

Imposisi, atau kejadian alamiah, inilah yang memperkuat iman orang-orang yang berhati tegar dan beriman kuat, serta melemahkan orang-orang yang berhati lemah.

Inilah cara alami untuk menyeleksi orang-orang yang tidak memiliki kebijaksanaan. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *