Salah satu tanda kecerdasan adalah punya rasa kasih sayang pada sesama manusia. Seperti dawuh Sayyidina Umar bin Khattab RA 

حسن التودد نصف العقل

“Mencintai sesama manusia dengan sebaik-baiknya kecintaan, merupakan setengah kecerdasan”

Karena Gusti Allah telah berfirman

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik, artinya kamu mengundang kebaikan bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu kembali pada dirimu sendiri” (Al Israa’ 7)

Seperti satu cerita dalam Sirah Nabawi Ibnu Hisyam. Diceritakan ada seorang bernama Umair bin Wahb, seorang setan Quraisy, orang yang sering menyakiti Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya saat di Makkah. Pasca Badar, dia mendapat kesusahan. Anaknya yang bernama Wahb bin Umair yamg ikut perang Badar di pihak kafir Quraisy, ditawan pasukan Kanjeng Nabi SAW. Dia tidak akan bebas kecuali kalau sudah membayar tebusan. Sementara Umair bin Wahb ini tidak punya apa-apa untuk menebusnya.

Datanglah Shofwan bin Umayyah, seorang gembong kafir Quraisy lainnya, kepada Umair. Umair curhat kepada Shofwan. Shofwan bersedia membantu menebus anaknya, asal Umair berhasil membunuh Kanjeng Nabi SAW di Madinah. Umair setuju untuk melakukannya dan mereka berdua bersepakat untuk merahasiakan perjanjian itu dari khalayak. Hanya mereka berdua yang tahu.

Umair pun datang ke Madinah membawa pedang yang sudah dilaburi racun. Sampai di pintu Masjid Nabawi, Umair bin Wahb pun dicegat Sayyidina Umar bin Khattab dengan pedang terhunus ke leher Umair. 

Sayyidina Umar lalu berseru pada khalayak, “Inilah anjing dan gembong musuh Gusti Allah, Umair bin Wahb. Demi Allah, orang ini pasti datang ke sini mau berbuat jahat. Dia ini orang yang suka menghasut orang-orang untuk berbuat jahat terhadap kita dan membocorkan jumlah kita kepada orang-orang Quraisy!”

“Hei Umar, kamu jangan seenaknya ngomong, ya! Aku ke sini mau bernegosiasi dengan Muhammad tentang anakku!” Jawab Umair bin Wahb.

Sayyidina Umar tidak segera mempercayainya. Sayyidina Umar menyuruh sahabat lain mencegah Umair masuk masjid lalu beliau melapor kedatangan Umair bin Wahb kepada Kanjeng Nabi SAW.

“Oh ya? Bawa dia kemari,” dawuh Kanjeng Nabi SAW setelah mendengar laporan Sayyidina Umar.

Umair bin Wahb pun dibawa Sayyidina Umar menghadap Kanjeng Nabi SAW dengan pengawalan pedang Sayyidina Umar yang terhunus di leher Umair bin Wahb. Sayyidina Umar berseru pada semua sahabat, “Ayo, kawal orang ini menuju Kanjeng Nabi dan duduklah di depan Beliau SAW. Hati-hatilah kalian dengan orang brengsek ini, karena orang ini tidak bisa dipercaya!”

Semua sahabat di masjid pun siaga dan mengawal Umair bin Wahb. Suasana pun mendadak tegang. Tapi Kanjeng Nabi SAW malah menyuruh Umair bin Wahb mendekat dan mengajaknya dialog. 

“Hai Umair, letakkan pedang anda dulu dan mendekatlah pada saya, mari kita berbincang,” dawuh Kanjeng Nabi SAW lembut. 

Mendapat perlakuan lembut dari Kanjeng Nabi, Umair pun melunak dan meletakkan pedangnya, lalu menguluk salam khas jahiliyyah pada Kanjeng Nabi SAW, “‘An ‘imuu shobahan (semoga kalian diberi nikmat pada pagi ini)”

“Wah, Umair, Gusti Allah telah memuliakan kami dengan ucapan salam yang lebih baik daripada ucapan salammu tadi. Yaitu ucapan salam penghuni surga” dawuh Kanjeng Nabi SAW menggojlok Umair bin Wahb, sekedar meredakan ketegangan.

“Lho, jangan salah, Muhammad! Demi Allah, aku ini orang yang paling mengerti dalam hal beramah tamah,” Umair menjawab gojlokan Kanjeng Nabi SAW, tanda ketegangan sudah mencair. 

Kanjeng Nabi SAW pun mulai dialog inti, “Ada apa ini, Pak Umair, kok datang jauh-jauh dari Makkah ke Madinah? Ada keperluan apa?”

“Gini, Muhammad, saya ini datang kepada kalian karena tawanan yang ada di tangan kalian. Berbuat baiklah kepadanya.” Kata Umair bin Wahb.

“Kalau maksud anda ke sini hanya untuk berkata itu, lalu kenapa anda menenteng pedang kemari?”

“Ah, semoga Gusti Allah menjelek-jelekkan pedang ini di antara pedang-pedang yang lain. Masalah pedang yang saya bawa, tidak ada maksud apapun dari ini. Apakah pedang ini berguna buat saya?” 

“Ayolah Pak Umair, jujurlah pada saya, apa tujuan anda datang ke sini?”

“Sumprit, Muhammad! Saya datang ke mari hanya untuk tujuan tersebut.” 

“Saya tahu, bukan cuma itu tujuan anda ke mari,” Kanjeng Nabi Muhammad SAW kemudian dawuh, “Saya tahu, anda pernah duduk bersama Shofwan bin Umaiyyah di dekat Hajar Aswad, kemudian kalian berdua membahas tentang orang-orang Quraisy penghuni sumur, kemudian anda berkata : Seandainya aku tidak  mempunyai  hutang yang harus aku lunasi, dan seandainya aku tidak mempunyai tanggungan anak-anak, aku pasti pergi ke Madinah kemudian membunuh Muhammad!”

Umair bin Wahb langsung kaget mendengar dawuh Kanjeng Nabi SAW tersebut.

Kanjeng Nabi lalu melanjutkan, “Kemudian Shafwan bin Umaiyyah menanggung hutang anda, dan anak-anak tanggungan anda dengan syarat anda membunuh saya untuknya. Namun rupanya Gusti Allah menghalangi anda sehingga anda tidak dapat mewujudkan rencana anda tersebut,”

Umair bin Wahb langsung gemeteran badan dan jiwanya. Tidak lama, Umair bin Wahb pun langsung bersyahadat, “Duh, Muhammad! Saya bersaksi bahwa anda utusan Gusti Allah. Wahai Rasulullah, dulu kami mendustakan berita langit yang anda bawa kepada kami, dan wahyu yang turun kepada anda. Rencana pembunuhan yang anda sebut ini tidak dihadiri kecuali oleh saya dan Shafwan bin Umaiyyah. Sedangkan anda bisa mengetahuinya secara detail. Saya tahu bahwa tidak ada yang bisa memberitahukan rencana ini  kepada anda, kecuali Gusti Allah. Segala puji bagi Gusti Allah yang telah memberi saya petunjuk kepada Islam, dan menuntun saya ke jalan ini,” 

Setelah itu, Umair bin Wahb bersyahadat dengan syahadat yang benar.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW lalu bersabda kepada para sahabat, “Ajarilah saudara kalian ini dalam masalah-masalah agamanya, bacakan Al-Qur’an kepadanya, dan bebaskan tawanan-nya!”  

Para sahabat melaksanakan perintah Kanjeng Nabi SAW. Mendapat kelembutan Kanjeng Nabi, Sayyidina Umair bin Wahb pun trenyuh dan berkata, “Duh  Kanjeng Nabi, dulu saya berusaha keras untuk memadamkan cahaya agama Gusti Allah, dan amat kejam terhadap orang yang memeluk agama Gusti Allah. Sekarang saya ingin anda mengizinkan saya pulang ke Makkah, kemudian saya ajak orang-orang Quraisy kepada Gusti Allah Ta’ala, kepada Rasul-Nya, dan kepada Islam. Mudah-mudahan Gusti Allah memberi petunjuk kepada mereka. Kalau tidak, aku kerasi mereka karena agama mereka seperti dulu saya keras pada sahabat-sahabat anda karena agama mereka.”

Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengizinkan Sayyidina Umair bin Wahb pulang ke Makkah, kemudian Sayyidina Umair pun pulang ke Makkah. 

Sayyidina Umair pun menetapi perkataannya. Ketika Umair bin Wahb telah tiba di Makkah, dia tinggal di sana guna mengajak manusia kepada Islam, dan melawan dengan perlawanan yang keras pada siapa saja yang keras menentangnya. Gara-gara hal tersebut, banyak sekali orang-orang yang masuk Islam karena dakwah Sayyidina Umair bin Wahb RA.

Nah, itulah bukti kecerdasan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Betapapun Kanjeng Nabi sejak semula tahu maksud kedatangan Umair bin Wahb, tapi Beliau SAW tetap menyambutnya dengan ramah, pake acara gojlok-gojlokan, menanyai maksud dengan ramah. Saat Umair berbohong pun, Kanjeng Nabi tetap tenang dan menyebut kebohongan Umair tanpa caci maki. 

Bisa saja saat itu Kanjeng Nabi memerintahkan para sahabat membunuh Umair seketika, lagian Umair datang sendirian. Tapi Kanjeng Nabi ternyata tidak begitu. Karena pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mengampuni dan menyayangi yang lemah. Karena kelembutan dan kebaikan sifat penyayang dari Kanjeng Nabi, justru Umair pun melunak dan ridho untuk bersyahadat dan membantu dakwah Kanjeng Nabi SAW. Kanjeng Nabi pun sudah paham

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik, artinya kamu mengundang kebaikan bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu kembali pada dirimu sendiri” (Al Israa’ 7)

Itulah kecerdasan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *