Oleh: Diana Wulandari

Sinar mentari kembali masuk ke celah di ruang sunyi itu. Sudah belasan tahun Pak Hasan dan Bu Laras menjalani kehidupan berumah tangga. Hidup dari keluarga kaya tak membuat Bu Laras memiliki kehidupan yang kaya pula. Ya, itulah piihan hidupnya yang ingin memulai kehidupan baru tanpa bergantung kepada orang lain. Setiap pagi sang istri membawakan bekal untuk suaminya di tengah persiapannya untuk bekerja juga. Tentu saja karena uang yang mereka miliki pas-pasan, sehingga membawa bekal menjadi kebiasaan keduanya.

 “Cepat Bu, sebentar lagi angkutan pasti sulit dicari.” kata Pak Hasan cukup tergesa-gesa.

“Iya Pak tunggu bekalnya sebentar lagi jadi.” Bu Laras tampak sibuk di meja makan.

Hari ini seperti biasanya. Setelah pulang bekerja mereka pergi ke ladang menanam ubi untuk dijual dan dapat menambah penghasilan. Hingga mentari kembali ke peraduannya, suami istri itu pulang ke rumah. Tampak keduanya berbincang di ruang tamu. Menghilangkan rasa lelah setelah seharian bekerja.

“Besok Bapak akan berangkat ke kantor lebih pagi, Bu.” ujar Pak Hasan sembari meneguk segelas kopi.

“Apa ada acara kantor, Pak?” tanya Bu Laras.

“Ya. Akan ada rapat penting besok jadi semua karyawan diharuskan berangkat lebih awal dari waktu yang ditentukan.” jelas Pak Hasan kepada istrinya.

“Baiklah, Pak. Besok Bapak berangkat duluan saja nanti Ibu akan mencari angkutan lain.” tampak Bu Laras menjawab lirih.

Sore harinya tampak Pak Hasan pulang kantor dengan wajah yang terpancar bahagia. Hingga ia memanggil istrinya terus-menerus. Bu Laras yang sedang memasak di dapur berjalan dengan langkah cepat menuju suara suaminya itu.

“Assalamu’alaikum. Bu… Bu… Bu… kemarilah.” suara Pak Hasan nyaring di telinga.

“Wa’alaikum salam. Sebentar Pak ibu sedang memasak.” sahut Bu Laras memegang pisau tengah memotong sayuran.

“Cepat Bu ini penting aku tidak menyangka ini benar-benar terjadi.” tampak Pak Hasan duduk di ruang keluarga.

“Bicaralah Pak apa yang terjadi sehingga Bapak tampak bahagia begini.”

“Ya, Bu. Bapak punya kabar bahagia untuk Ibu. Bapak diangkat sebagai pegawai tetap di perusahaan dan Bapak akan dipindahkan di kota.” Pak Hasan menjelaskan dengan penuh haru.

“Alhamdulillah. Ibu ikut senang dengan pencapaian Bapak. Tapi jika kita pindah ke kota bagaimana dengan pekerjaan Ibu, Pak?” Bu Laras sedikit bimbang.

“Ibu tidak perlu khawatir. Lebih baik Ibu ikut pindah ke kota dan tidak usah bekerja. Biar Bapak saja yang mencari uang.” tegas Pak Hasan.

“Baiklah, Pak. Ibu akan menuruti perkataan Bapak.”

Pagi itu di bulan Desember disambut dengan rintikan hujan deras. Keberhasilan dalaam pekerjaan sudah didapatkan, tetapi belum lengkap karena kesepian yang dirasakan. Hingga kini mereka masih belum memiliki buah hati. Suatu saat saudara Bu Laras datang ke kota berkunjung ke rumahnya. Bu Mirna merupakan kakak dari Bu Laras yang memiliki 4 anak. Sekarang ini, ia dan suaminya sedang sulit dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Inilah yang membuat Bu Laras merasa tersentuh hatinya untuk membantu sang kakak. Dia berniat untuk merawat, membesarkan, dan memenuhi kehidupan anak dari Bu Mirna yang masih bayi. Bayi itu sudah tumbuh dewasa bahkan sudah mengenyam bangku perkuliahan. Tepat 21 tahun yang lalu, bayi itu dititipakan kepada Bu Laras. Bahagia tiada henti terus dirasakan oleh sepasang suami istri itu. Bayi mungil yang bernama Kania kini sudah tumbuh dewasa. Bahkan, ia sudah mengenyam bangku perkuliahan.

“Nak, ini uang semesteran mu. Belajar lah yang sungguh-sungguh hingga kau lulus mendapatkan gelar sarjana dan pekerjaan sesuai keinginan mu.” kata Pak Hasan sambil mengelus kepala anaknya.

“Tentu, aku akan berusaha mencapai cita-cita ku dan tidak akan mengecewakan ayah dan ibu.” jawab Kania tampak tersenyum.

“Kania sejak kehadiran mu keluarga ini semakin bahagia.” Bu Laras memandang kania hingga matanya berkaca-kaca.

“Aku juga sangat beruntung memiliki orang tua seperti Ayah dan Ibu. Hmmm… tapi kenapa Ibu terlihat sedih?” tanya Kania heran melihat tingkah ibunya.

“Ah tidak nak. Ibu hanya teringat masa kecil mu yang selalu membuat ceria.” Bu Laras memalingkan pembicaraan.

Semakin hari keluarga itu hidup tentram. Bu Laras mendapatkan kabar bahwa Bu Mirna telah meninggal pagi ini dan membuatnya merasa bersalah karena belum mengungkapkan apa yang seharusnya diketahui oleh Kania. Kini saat yang tepat untuk mengatakan kenyataan jati diri anaknya. Semua keluarga berkumpul dan suasana membuat Kania merasa tidak nyaman.

“Ada apa Ayah, Ibu, Pak dhe kenapa terlihat serius sekali?” Kania duduk merasa bingung.

“Kania, maafkan kami yang sudah menyembunyikan kenyataan hingga kamu sudah sebesar ini.” Pak Hasan terbata-bata mengucapkan.

 “Maksud Ayah kenyataan tentang apa. Bicaralah Ayah, jangan buat Kania bingung ditengah-tengah pembicaraan ini.” menjawab Pak Hasan dengan penasaran.

“Ya, Ayah akan ceritakan semuanya. Sebenarnya Ayah dan Ibu bukanlah orang tua kandung mu Kania. Kami sudah menikah belasan tahun, tapi belum juga memiliki anak. Hingga Ibu mu berniat untuk merawat bayi cantik anak dari Pak dhe Harso dan Budhe Mirna. Bayi itu kami beri nama Kania.” Pak Hasan menjelaskan semuanya dan air matanya mengalir.

“Tidak mungkin, pasti semua ini tidak benar. Aku anak Ayah dan Ibu kan?” suara Kania terdengar keras.

“Maafkan kami Kania baru memberitahu mu. Semua yang dikatakan oleh Ayah benar, putri kecil yang kami rawat sejak bayi sebenarnya anak kandung dari Pak dhe Harso dan Budhe Mirna. Tapi Ibu dan Ayah tidak pernah menganggap kamu sebagai anak angkat kami. Kehadiran mu memberikan kelengkapan kebahagiaan di keluarga kami.” Bu Laras memeluk Kania dengan erat sambil menangis.

“Mengapa kalian semua baru memberitahuku. Sungguh aku tidak pernah menyangka.” Kania melepaskan pelukan Bu Laras.

“Meskipun kamu dibesarkan oleh mereka, tapi aku ini ayah kandung mu dan ibu kandung mu baru saja dimakamkan. Nak, bukan maksud kami untuk tidak mau merawat dan melakukan kebohongan ini. Pada saat itu, masalah keuangan membuat kami terpuruk dan bingung harus melakukan apa. Mas Hasan dan Mba Laras telah banyak membantu kami, jadi janganlah kamu marah kepada mereka. Kami semua bersalah pada mu karena merahasiakan semuanya, tapi kami lakukan demi kamu Kania.” jelas Pak Harso kepada Kania.

Waktu terus berjalan dan semua kembali baik-baik saja. Perlahan Kania mulai bisa menerima Pak Harso dan almarhumah Bu Mirna sebagai orang tua kandungnya. Sekarang, Kania membagi waktunya bersama dengan orang tua kandung dan orang tua angkatnya. Kania memiliki adik kandung bernama Elena. Kehidupan Kania yang serba berkecukupan membuatnya merasa tak beruntung dan ia pun melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan dengan meminta uang terus-menerus kepada Kania. Minggu ini Kania berkunjung ke rumah Pak Harso untuk menghabiskan waktu bersamanya. Begitu sering Elena meminta uang kepada Kania. Tabungannya semakin menipis karena adiknya yang minta. Kebaikan yang diberikan oleh Kania tetap saja membuat Elena semakin bertindak tidak baik. Perilakunya tidak mau berubah, dia lebih suka menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya. Suatu saat Elena mengalami kecelakaan dan membuat kakinya lumpuh.

“Sekarang aku tidak bisa apa-apa. Mengapa aku harus mengalami semua ini, sungguh tidak adil aku yang selalu tidak beruntung.” terdengar suara Elena yang terus mengeluh.

“Kakak akan terus merawat mu sampai sembuh Elena. Kamu pasti bisa melewati cobaan ini, ada kakak dan Ayah yang akan membantu mu dan jangan pernah merasa sendiri.” Kania tampak menenanngkan adiknya.

Sudah beberapa bulan sejak kecelakaan yang membuat kaki Elena lumpuh tampak Kania yang selalu merawat adiknya. Kasih sayang dan kesabaran yang diberikan oleh Kania dapat meluluhkan hatinya.

“Maafkan aku kak. Aku sudah banyak salah kepada mu, padahal kakak sudah sangat sabar merawat ku dan memberikan kasih sayang yang sangat aku butuhkan semenjak Ibu meninggal.” pandangan Elena hingga berkaca-kaca menyadari kesalahannya.

“Kalian anak-anak yang baik. Setiap manusia pasti punya kesalahan dan ketika menyadarinya harus berubah memperbaiki semua yang telah dilakukan. Sekarang kamu harus fokus pada kesembuhan mu dulu. Tidak usah memikirkan yang lainnya, kami akan selalu ada untuk kamu. Bibi sangat sayang kepada mu dan Kania.” ujar Bu Laras memeluk Elena dan Kania.

“Terima kasih atas kebaikan yang Paman dan Bibi selalu berikan kepada ku dan Ayah. Aku sadar telah berbuat salah dan mulai sekarang aku berjanji akan hidup lebih baik.” Elena terbaring sambil memandang Pak Hasan dan Bu Laras.

Terucap rangkaian kata tanpa menyakiti hati yang lain hingga mampu membangkitkan suasana yang sejak beberapa bulan lalu telah redup. Kania, Elena, Pak Hasan, Bu Laras, dan Pak Harso menjadi keluarga yang memupuk kebersamaan. Semua membaik dan merasakan kehangatan keluarga.

Biodata Penulis

Diana Wulandari, lahir di Cilacap 11 November 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP. Ia saat ini tinggal di Paketingan, Sampang, Cilacap. Karyanya yang sudah dimuat pada media massa berupa esai berjudul “Pembelajaran Daring Pengaruhi Keefektifan Belajar” dalam rubrik Harian Bhirawa Surabaya. Ia dapat dihubungi melalui ig: dianawulann_, email: wulandarinaa11@gmail.com

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *