Suatu hari, beberapa puluh tahun lalu, aku singgah di rumah seorang Kiyai di pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur untuk silaturrahim kepada kiyai dan ibu nyai, sekaligus mengantarkan anak perempuanku mesantren di situ.

Di pintu masuk pesantren itu aku membaca sebuah syair/ puisi pada sebuah papan dengan khat (kaligrafi) yang indah. Puisi ini  pernah aku hapal saat mondok di pesantren Lirboyo. Puisi itu gubahan Abu Tamam, seorang penyair besar asal Damaskus, penulis “Diwan Hamasah”. Bunyinya : 

كَم مَنزِلٍ في الأَرضِ يَألَفُهُ الفَتى

وَحَنينُهُ أَبَداً لِأَوَّلِ مَنزِلِ

“Sudah berapa banyak rumah di bumi yang disinggahi anak muda

Tetapi rindunya selalu kepada “rumah yang pertama”.

Sebelumnya dia mengatakan :

نَقِّل فُؤادَكَ حَيثُ شِئتَ مِنَ الهَوى

ما الحُبُّ إِلّا لِلحَبيبِ الأَوَّلِ

“Silakan kau pergi ke mana saja yang kau suka

Tetapi ingat kau pasti kembali kepada  kekasih pertama”

Seorang teman bertanya, apa maksud ” rumah yang pertama;?. 

Aku bilang karya sastra terutama puisi selalu bermakna ambigu. Kita tak tahu pasti apa makna yang dimaksud penulisnya. Ia adalah ekspresi simbolik atas pengalaman spiritual yang tersebunyi di lubuk jiwa. 

Lalu aku bilang saja : ia bisa berarti “kekasih pertama”, bisa juga berarti tempat kita berasal”, kampung halaman tempat kita bermain dan berlari-lari dalam hujan dan bisa pula tempat ruh kita berasal.

Waalahu A’lam.

Catatan: Kiyai yang aku silaturrahim di rumah itu akhirnya jadi mertua adikku. Dan kini dia membangun pesantren sendiri. Alhamdulillah. Semoga berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat. 

10.06.2021

HM

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *