Doyle Paul Johnson, menjelaskan bahwa  solidaritas sosial merujuk pada suatu hubungan antar individu atau kelompok yang berdasar pada moral dan kepercayaan yang dianut bersama, serta pengalaman emosional bersama.

Solidaritas yang dipegang, yaitu kesatuan, persahabatan, saling menghormati, rasa saling percaya yang muncul akibat tanggung jawab bersama, dan kepentingan bersama di antara para anggotanya.

*******

Emile Durkheim membuat dua tipe solidaritas, yaitu: a) Solidaritas mekanik. Tipe ini merupakan  solidaritas yang ditentukan oleh kesadaran individu, diikat oleh karakteristik yang sama dan menganut kepercayaan serta pola normatif yang sama pula.

Solidaritas mekanik biasanya muncul dari pedesaan. Solidaritas tersebut akan terbangun pada kelompok masyarakat yang sederahana dan memiliki ikatan yang erat, kuat mempertahankan adat-istiadat, tidak individualis

B) Solidaritas organik. Tipe solidaritas yang berkembang dalam kelompok masyarakat yang kompleks. Seperti pada masyarakat perkotaan di mana para anggotanya disatukan oleh rasa saling membutuhkan.

Didalam solidaritas organik, pembagian kerja merupakan unsur utama untuk masing-masing anggota kelompok. Bahkan disesuaikan dengan bidang atau keahlian masing-masing.

Dalam solidaritas organik, masyarakat saling membutuhkan dan berhubungan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Bukan karena asas kebersamaan ataupun ikatan normatif dan moral.

*******

Belakangan ini kita dipertontonkan oleh drama rapuhnya solidaritas sosial. Saling hujat, saling intrik, saling telikung, saling jegal, dan lain-lain menjadi ritual yang dipertontonkan baik didunia nyata maupun dunia maya.

Hal ini diperparah dengan hadirnya komunitas mabuk agama yang mendestorsi idiom-idiom agama seperti bid’ah, khurafat, khilafah, syariah, jihad, hijrah. Bukannya solidaritas (ukhuwah) yang ada, tapi perpecahan dimana-mana.

Juga kaum oponturir yang bersembunyi dibalik nalar kritis, tapi menyimpan ambisi politik luar biasa. Maka hari-harinya penuh hujatan, cercaan dan makian. Bukan kritik membangun (konstruktif) yang ada, tapi penggerogotan pilar-pilar kebangsaan (destruktif) yang membahayakan keutuhan NKRI.

Tentu yang lebih mengerikan lagi adalah perselingkuhan antara kelompok mabuk agama yang bermodalkan pemahaman keagamaan yang instan, dengan kelompok oponturir ini.

*******

Bukankah Rosulullah telah mengajarkan kita bagaimana membangun solidaritas. Jauh sebelum Emile Durkheim bicara solidaritas, Rosulullah telah mempraktikannya. Lewat persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor, beliau perkokoh solidaritas mekanik. Solidaritas yang berpijak diatas kerangka ukhuwah normatif dan primordial.  Lewat Piagam Madinah, beliau perkuat solidaritas organik sehingga masing-masing elemen yang beragam latar-belakang bekerjasama secara proporsional dan profesional. Pedomannya adalah kesepakatan besama dalam bingkai konstitusi Madinah

*******

Masih beruntung kita hidup dilingkungan masyarakat muslim tradisional. Lewat kecerdasan-spiritualnya, kearifan lokal dibentuk menjadi bahasa keagamaan sekigus bahasa sosial. Kembang tujuh rupa, aroma buhur (kemenyan) dan syair-syair pujian dalam mahallul qiyam menjelma menjadi pijakan solidaritas mekanik dalam wajah nilai-nilai luhur agama. Jangan kaitkan mereka dengan perilaku khurafat, bid’ah dan animisme sebab mereka paham betul bagaimana memformulasi sibghah Islam dalam bahasa lokal. Dibalik kebersahajaanya, tersirat penguasaan ajaran agama secara mendalam.

Mereka sangat mumpuni menerapkan kaidah : AL-MUHAFADA ALAL QODIMIS SHOLEH wal AKHDZU bil JADIDIL ASLAH.

Bahkan seorang pemimpin rawi (pemandu mahallul qiyam), pembaca doa kaffarotul majlis, pengisi taushiah, semuanya berjalan secara proporsional sesuai kompetensinya. Tidak saling jegal dan saling cerca. Bukankah ini makna dari LIKULLI MAQOMIN MAQOLUN wa LIKULLI MAQOLIN MAQOMUN.

Ternyata kembang tujuh rupa (sesuai ‘tafa-ulan’ jumlah hari) -kemenyan dan syair mahallul qiyam telah menjadi washilah solidaritas mekanik. Serta proporsionalitas ustadz, muallim, mursyid, tuan guru, menjelma menjadi washitah yang mengajarkan solidaritas organik.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *