_”Dia pergi mencari kayu semoga Allah tidak mengembalikan ia”_

Istri Dari Suami Penyabar

Allah meciptakan manusia berpasang-pasang. Sepasang suami dan istri yang kemudian melahirkan keturunan hingga penuh sesak bumi ini. Pasangan yang kemudian saling melengkapi satu sama lain. Menyempurnakan kelemahan satu sama lain.

Di sisi lain, berpasangan dalam bingkai pernikahan merupakan sunah Nabi Saw. Nabi Saw., memerintahkan untuk mengikuti sunahnya yakni menikah, untuk kemudian memperoleh keturunan. Hingga kemudian mewujudkan harapan terciptanya suasana rumah tangga yang harmonis, saling mengasihi, dan menyayangi–sakinah, mawaddah, rahmah.

Semua pasangan suami istri pasti berharap kegiduan rumahtangganya aman, damai sejahtera. Namun tidak sedikit di antara pasangan suami istri itu dipenuhi dengan ujian dan cobaan. Termasuk goncangan rumah tangga. Entah karena suatu hal yang menjadi pemicu tertentu, atau karena kekurangsabaran salah satu pihak antara suami dan istri. Serta minusnya kedewasaan dalam menyikapi suatu masalah yang timbul antar satu dengan yang lainnya.

Bertalian dengan kesabaran dalam menjalani rumah tangga, penulis teringat kisah suami yang sangat penyabar menghadapi istrinya. Saking sabarnya si suami tadi, hingga ia diakruniai suatu keistimewaan yakni dikawani harimau yang senantiasa membawakan kayu yang ia cari di hutan. Mungkin ini adalah keramat sebab kesabarannya menerima perlakuan buruk dari istri. 

Kisah suami penyabar ini dapat kita baca dalam suatu kitab yang sangat masyhur yakni, _Uqudullijain._ Di dalam kitab itu dikisahkan, suatu hari datang seornag kawan karib yang mengunjugi kawannya. Kebetulan si kawan tadi adalah sosok suami yang amat sangat penyabar. Sesampainya di rumah si karib tadi mendengar bahwa istri kawannya mendoakan jelek pada suaminya, sembari tak henti-hentinya memaki suaminya. 

Karena tidak menemukan kawannya tadi di rumah, si karib beranjak pergi hingga kemudian ia berpapasan dengan kawannya yang pulang dari mencari kayu. Si karib tadi melihat ada yang ‘aneh’ pada kawannya, sebab kayu yang ia cari dibawakan oleh harimau. Kemudian si karib tadi diajak masuk ke rumah oleh kawannya. Sembari si karib tadi terheran-heran atas kesabaran kawannya yang mendapat prilaku buruk dari istrinya–sabar dimaki. 

Setelah pertemuan pertama ini usai, pada tahun berikutnya berkunjunglah lagi si karib tadi. Sembari mendatangi rumah kawan yang penyabar itu. Kali ini si karib menemukan hal berbeda dengan sebelumnya. Jika yang lalu ia disambut dengan makian istri karibnya, kali ini tidak. Ia diperlakukan baik, oelh istri kawannya. Dan keanehn itu berlanjut hingga ia mengetahui kebiasaan kawan pencari kayu tadi tak lagi ditemani oleh harimau untuk mengangkut kayu hasil dari hutan. 

Merasa belum menemukan jawaban si karib bertanya pada kawannya–mengenai harimau pengangku kayu. Singkat cerita, si kawan penyabar tadi berkisah bahwa istri yang begitu galak pada dirinya telah tiada. Si kawan tadi sangat sabar atas prilaku jelek istrinya. Sebab itulah Allah memberiku keistimewaan berupa harimau pengangkut kayu. Si kawan tadi juga bercerita bahwa kini kehidupannya berubah. Kini ia memiliki istri salehah, dan baik prilakunya. Sebab inilah harimau itu pergi. 

Dari kisah di atas banyak pelajaran yang dapat dimabil. Di antaranya, bagaimanapun sekuat tenaga baik suami atau  istri harus menjaga kodusifitas keluarga. Meskipun herus dengan meningkatkan saraf-saraf kesabaran mengahadapi pasangan. Kemudian, bagaimanapun istri suami harus sabar. Dengan kesabaran ini akan berbuah manis. Termasuk dengan memperoleh pasangan hidup yang lebih baik. 

Demikianlah sekilas tentang kesabaran suami. Meski tak harus memiliki keramat, dan tidak harus bernasip seperti kisah suami di atas, kita harus berupaya maksimal. Upaya menjaga kondusifitas kehidupan dalam rumah tangga dengan berbagai cara. 

Wallahu A’lam Bisshawab. 

Kediri, 08-02-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *