Pertama, aksi bom bunuh diri dengan melibatkan keluarga, termasuk di dalamnya ada anak-anak dipengaruhi perubahan strategi-taktik oleh kelompok ISIS di internasional. Jadi sudah bisa dipastikan pelaku bagian dari ISIS atau jikalau pelaku bukan bagian dari afiliasi kelompok ISIS, mereka dipengaruhi oleh cara-cara ISIS dalam melakukan aksinya yang sudah dipraktekan di konflik Suriah. Sebelumnya, aksi bom bunuh diri tidak melibatkan keluarga. Istri-istri atau keluarga dari pelaku bom tidak diajak dan tidak dikasih tahu.
Kedua, strategi taktik ini bukan hanya memengaruhi sebagian kecil masyarakat Indonesia, tapi warga negara lain yang memiliki simpatik terhadap ISIS. Beberapa contoh aksi teroris yang melibatkan keluarga diantaranya aksi teroris Charlie Hebdo Magazine, Bom boston, serangan di Brusel dan Indonesia ada bom Surabaya yang melibatkan seluruh keluarganya pada 2018.
Ketiga, dengan melakukan aksi teroris bom bunuh diri dengan melibatkan keluarga, maka mereka yakin akan masuk surga bersamaan. Sebab jika tidak bersamaan, maka istri atau saudaranya masih tetap hidup dan dipastikan akan mendapatkan perlakuan atau ikutserta program deradikalisasi baik dari pemerintah ataupun non pemerintah yang kemudian, keluarganya menjadi kafir. Dalam kasus ini, mereka sering merujuk kepada keluarga pelaku bom Bali Mukhlas di Lamongan yang menurut mereka keluarga dari pelaku bom bali karena terlibat counter narasi terkait dengan aksi teroris, maka mereka disebut kafir sehingga merusak perjuangan Mukhlas dan kawan2 terkait jihad di Indonesia.
Keempat, ini lebih ke alasan strategis dimana, laki-laki dalam mengemban jihad perang melawan orang-orang kafir untuk tujuan menegakan kerajaan Tuhan telah gagal. Oleh karena itu, mereka harus menggunakan seluruh sumberdaya yang tersedia. apapun itu, termasuk istri dan anak-anak. Pada 2015, PBB mencatat ada sekitar 270an anak terlibat dalam aksi terorisme.
Salam Damai
Robi Sugara, pemerhati terorisme
Depok, Jawa Barat

No responses yet