Karena di dalamnya ada doa mohon petunjuk pada jalan yang lurus..
إهدنا الصراط المستقيم. صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم و لا الضالين.
Allah dapat mencabut hidayah dari seseorang kapan saja dan itu merupakan hak mutlak Allah. Kewajiban manusia hanya menyampaikan ajaran-Nya.
Mayoritas Ulama berpegang teguh pada manhaj ini. Mereka tidak pernah menggunakan kekerasan dalam berdakwah. Mereka mengetuk pintu langit dengan berdoa di tengah keheningan malam.
Mereka tidak terjerumus dalam kubangan aliran Khawarij, Murjiah, Jabariyah, Mu’tazilah, Manunggaling Kawula Gusti, Syiah dan lainnya.
Abdurrahman bin Muljam, pembunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, adalah sosok yang agamis lahiriah-nya. Namun, pikirannya penuh dengan paham takfiri sehingga menghalalkan darah muslim lainnya. Pasca membunuh Sayyidina Ali, kedua tangan dan kakinya dipotong. Lidahnya tidak dipotong karena ingin ia gunakan berdzikir.
Jadi, umat Islam harus mempelajari tiga ilmu: Akidah/Tauhid, Syariat/Fiqih dan Tasawuf/Akhlak. Ketiganya tidak boleh dipisahkan karena akan berakibat fatal. Imam Malik berkata:
من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق.
و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق.
و من تصوف و تفقه فقد تحقق.
Tasawuf tidak bisa terlaksana kecuali dengan suluk. Oleh karenanya, Ulama mendirikan Tarekat. Ada Qadiriyah, Jusytiyah, Naqsyabandiyah, Alawiyah, Maulawiyah, dan lain-lain. Walaupun ‘nama-nama’ tarekat tersebut masih belum ada pada masa Rasulullah. Seperti Naqsyabandiyah, pada masa awal bernama Shiddiqiyah, Thaifuriyah, Khajakaniyah, lalu Naqsyabandiyah.
Naqsyabandiyah ada yang Mujaddidiyah melalui jalur Syaikh Ahmad as-Sahrandi. Ada juga jalur lainnya. Silsilah Mujaddidiyah, ada yang jalur Ahmadiyah Muzhariyah. Ada Khalidiyah.
Naqsyabandiyah Khalidiyah menyebar ke pelbagai negara, termasuk Eropa. Kalau di Indonesia, ke Sumatera, melalui Syaikh Ismail.
Wallahu a’lam.

No responses yet