Setelah mengetahui secara pasti wujudnya Gusti Allah secara akal, sebagai kelanjutannya, Imam Ghozali menetapkan taqdis sebagai hal yang jadi pokok agama. Hal ini untuk menghapus bayangan-bayangan khayali dan materi dalam benak seseorang tentang wujud Gusti Allah dan membersihkan kekacauan berpikir seseorang.

Tanpa taqdis, orang bisa seenaknya mensifati Gusti Allah dengan sifat makhluk. Karena sudah jadi kecenderungan manusia mengukur sesuatu dengan dirinya. Maka dalam membahas taqdis Dzat Gusti Allah, Imam Ghozali mencoba membalik semua pikiran tersebut.

Metode membalik pemikiran atau pembuktian terbalik ini umum jadi cara para ulama untuk mengenali dan mengidentifikasi sesuatu.

Dawuh Syaikh Nawawi Al Bantani dalam Nashoihul Ibad

فإن الشيء إنما يعرف بضده

“Karena sesungguhnya sesuatu kadang baru bisa dikenali melalui kebalikannya”

Contoh saat mendefinisikan kata “terang”, orang medefinisikan dengan “pokoknya keadaan yang gak dilingkupi kegelapan”. Misal lagi kata “ganteng” didefinisikan “pokoknya dilihat mata gak bikin sepet”.

Imam Izzuddin Abdus Salam dalam Syajarotul Ma’arif pun dawuh, untuk mengenal Gusti Allah secara layak dan beradab, pertama harus menafikan (mentiadakan) hal-hal yang tidak layak bagi-Nya. Ada 2 hal yang harus dinafikan

1. Menafikan sifat-sifat yang menunjukkan kelemahan, keterbatasan dan kebaruan dari Dzat, Sifat dan Af’al-Nya.

2. Menafikan adanya sekutu atau yang setara dengan Dzat, Sifat dan Af’al Gusti Allah.

Artinya, lewat kebalikan hal yang tidak layak, kita baru bisa mengenal Gusti Allah.

Maka dalam aqidah 20 sifat wajib 20, ada 5 sifat salbiyah, yang bermaksud mengenyahkan segala celah kelemahan. Lalu ada 20 sifat mustahil bagi Gusti Allah yang menetapkan kemustahilan akan kekurangan dan kelemahan bagi Gusti Allah.

Dalam hal taqdis, Imam Ghozali berpegang pada tafwidh (menetapkan dawuh Gusti Allah tanpa mempertanyakan bagaimana detailnya) dan takwil (mengalihkan makna sehingga dawuh Gusti Allah dianggap majaz).

Misal dalam dawuh Gusti Allah

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Tidak boleh diterjemahkan “Gusti Allah Maha Pengasih Yang bersemayam di atas arsy”. Hal ini jelas merendahkan Gusti Allah karena menyematkan kata “bersemayam” atau “leyeh-leyeh” yang merupakan sifat makhluk kepada Gusti Allah. “Leyeh-leyeh” bermakna “butuh istirahat”. Tentu mustahil Gusti Allah butuh istirahat dan akan bertentangan dengan firman

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

“Gusti Allah Selamanya Tidak pernah capek dan Tidak akan tidur”

Maka yang benar adalah tafwidh, dengan menetapkan “istawa” apa adanya sebagaimana teks firman Gusti Allah tanpa menerjemahkannya dengan kata apapun. Atau dengan takwil, dengan mengalihkan makna “istawa” dengan “irodat” atau “menguasai”. 

Sehingga diterjemahkan “Gusti Allah Yang Maha Pengasih adalah Penguasa ‘arsy”. Bahkan ayat itu bisa dimaknai “Gusti Allah yang punya sifat Ar Rohman, Yang Kasih Sayang-Nya meliputi semua jagat semesta”. 

Hal ini dilakukan sebagai upaya membersihkan Gusti Allah dari sifat-sifat makhluk. Sehingga dengan begini, artinya kita mengenal keagungan sifat Gusti Allah lewat metode melihat kerendahan sifat makhluk. Karena gak mungkin Gusti Allah punya sifat makhluk. Sangat bertentangan secara akal dan ilmu.

Makanya jadi pakem aqidah, bahwa selama bisa dikhayalkan bentuknya oleh pikiran, itu bukan Gusti Allah.

سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Maha Suci Tuhan Sang Pemilik langit dan bumi, Tuhan Yang Memiliki ´Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu” (Az Zukhruf 82) 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *