Kita jangan sampai ketipu ungkapan belum bisa nyunnah, sehingga takut belajar baca siroh nabawiyah karena takut gak bisa mengamalkan. Kalo ketipu, tandanya belum ada mahabbah. Logikanya, belum pernah denger ada orang yang membenci surat cinta dari sang kekasih.
Justru orang yang beribadah dengan motivasi mahabbah pada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi itu lebih baik daripada orang yang merasa bisa melaksanakan isi Qur’an dan sunnah Kanjeng Nabi, mbah.
Dalam Shohih Muslim diriwayatkan.
ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﺃﻥ ﺃﻋﺮاﺑﻴﺎ، ﻗﺎﻝ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﺘﻰ اﻟﺴﺎﻋﺔ؟ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﷺ: ﻣﺎ ﺃﻋﺪﺩﺕ ﻟﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ: ﺣﺐ اﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﻗﺎﻝ: ﺃﻧﺖ ﻣﻊ ﻣﻦ ﺃﺣﺒﺒﺖ. رواه مسلم
“Diriwayatkan dari Sayyidina Anas bin Malik bahwasanya seorang badui bertanya kepada Kanjeng Nabi SAW tentang kapan hari kiamat tiba. Lantas Kanjeng Nabi menjawab: Bekal apa yang kamu siapkan untuk menghadapinya?
Kemudian orang badui tadi menjawab: Saya cuma punya cinta kepada Gusti Allah dan Rosul-nya.
Kanjeng Nabi SAW pun bersabda: Kamu akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai.”
Kenapa orang badui itu menjawab begitu?
Orang badui tadi sadar, mau jungkir balik model apa, amal orang itu tidak akan bisa 100% benar sesuai tuntunan Gusti Allah dan Rosul-Nya. Apalagi menyamai Kanjeng Nabi. Jadi, kecil kemungkinan orang itu bisa selamat dari dahsyatnya hari kiamat kalau hanya mengandalkan amal. Lagipula, sama luar dalam dengan Kanjeng Nabi itu mustahil, karena di lihat dari sisi:
1. Tiap manusia punya sifat berbeda, tidak akan bisa sama persis. Bahkan manusia yg lahir kembar, gak bisa sama persis 100%. Cuma kembar identik. Jadinya, mustahal yang mustahil orang bisa sama persis dengan Kanjeng Nabi.
2. Kanjeng Nabi itu dipelihara dari kesalahan baik gerakan, perilaku maupun ucapan oleh Gusti Allah. Sedangkan kita dipelihara negara aja gak, dipelihara utang negara iya.
Sehingga kalo merasa menyamai ibadah Kanjeng Nabi, seakan mengaku sederajat Kanjeng Nabi. Ini benar2 suul adab pada Kanjeng Nabi. Walau masih mending gak ngaku nabi. Dan kalo merasa sudah nyunnah, artinya ada potensi ujub, sombong dan riya’. Itu jelas nerakanya.
Jadi, kalo kita merasa belum nyunnah itu malah bagus. Artinya sadar diri, jauh dari potensi ngaku nabi, ujub, sombong, riya’.
Maka, saat mempelajari hadits, siroh nabawiyah dan syamail bagi orang awam rea-reo kayak saya dan kalian itu, fungsinya untuk memperbesar mahabbah pada Kanjeng Nabi. Kalo punya mahabbah pada Kanjeng Nabi, kita sudah ada potensi berkumpul sama Kanjeng Nabi di akhirat. Beda kalo buat ulama, belajar hadits untuk mengetahui hikmah dan ilmu tentang syariat lahir batin.
Maka kita gak usah takut buat membaca siroh, hadits atau syamail sambil terus beramal semampunya sesuai tuntunan ulama. Asal diniati memperbesar mahabbah pada Gusti Allah dan Rosul-Nya, biar kita punya potensi kumpul bareng Kanjeng Nabi. Bukan untuk balapan sunnah-sunnahan.

No responses yet