Orang Jawa menyebut bulan Sya’ban dengan istilah Ruwah. Konon, istilah ini diserap dari arwah, ruh. Intinya, di bulan yang menjadi pintu gerbang ramadan ini, setiap muslim dilatih pemanasan dalam pembersihan jiwanya sebelum benar-benar nyemplung di bulan puasa. 

Disebut Ruwah karena pada bulan ini biasanya masyarakat muslim Jawa melakukan “nyadran” alias ziarah ke makam leluhur, mendoakan arwah mereka sekaligus membersihkan pusaranya. Tentu tak ada kaitannya sama klaim sebagian saudara muslim kita yang menuduh tradisi ini bagian dari jejak Hindu di dalam keberislaman masyarakat Jawa. Sebab, setahu saya saat ini pun tidak ada orang Hindu yang berkunjung ke makam leluhurnya. Mengapa? Karena di dalam tradisi Hindu tidak dijumpai pemakaman, melainkan ngaben, perabuan jenazah.

Soal pusara alias makam, orang Jawa memang nggak bisa dipisahkan dari perkara ini. Ke manapun dan di manapun hidup, manakala pulang ke kampung kelahiran, seorang Jawa bisa langsung menziarahi pusara orangtua dan leluhurnya. Semacam terjadi prinsip bumerang: semakin keras dan jauh dilempar, semakin cepat berbalik.

Dalam tradisi “khususiyah” alias penyebutan nama-nama ahli kubur sebelum tahlilan, kaum muslim tradisionalis seperti saya perlu menyebut nama leluhur hingga generasi ke-enam (Udeg-Udeg) maupun Simbah ke-tujuh atau Gantung Siwur, walaupun kadang sudah kepaten obor alias tidak tahu nama leluhur sepuh.

Tradisi menghafal nama, memfatehahi dan mendoakan arwah leluhur ini memang tidak seketat di dalam komunitas Habāib/Sādāt Alawiyyin, yang secara rapi memang mencatat silsilahnya. Namun, tradisi ziarah kubur leluhur juga di pusara para guru ini memang menjadi kebiasaan yang turun temurun di sebagian komunitas muslim Jawa, maupun di kawasan lain di Indonesia.

Di bulan Ruwah ini pula, selain merayakan Nishfu Sya’ban ada juga tradisi Megengan beberapa hari menjelang Ramadan, yaitu saling mengantar makanan kepada tetangga dan handai tolan. Ini media perekat sosial yang efektif. Selain menu ayam (tadi mau saya ganti bebek goreng, tapi nggak diizinkan sama Nisfu Laili hahaha), juga ada apem dan pisang. Apem, yang juga dijumpai di kawasan muslim India di Kerala, adalah kue perlambang permohonan maaf, sedangkan pisang menyampaikan pesan: hidup sekali harus berarti dan bermanfaat. Saya kira, menu Megengan ini selain bergizi, pesan filosofisnya makpleng banget!

Wilayah tradisi yang berbasis budaya agraris ini nyaris punah akibat kecenderungan egoisme individu, hampir menyamai langkanya pembuat ketupat di kalangan anak muda hehehe.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *