Kesultanan Kutai atau lebih lengkap disebut Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martadipura adalah kerajaan Melayu yang bermula dari kerajaan Hindu pada tahun 400M di Kutai Lama dan berubah menjadi kerajaan Islam pada 1575M serta berakhir pada 1960M, Ibu kota kerajaan ini pada awalnya berada di Jaitan Layar sebelum berpindah ke Tepian Batu, kemudian ke Pemarangan-Jembayan hingga Tepian Pandan. Kerajaan Kutai Kertanegara juga menganeksasi Kerajaan Kutai Martadipura pada tahun 1635M sehingga wilayah Kerajaan Kutai Kertanegara bertambah luas dan jadilah sebagai kesultanan Kutai Kertanegara ing Martadipura.
Berbicara, kerajaan Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.
Informasi yang ada diperoleh dari Yupa/ prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para Brahman atas kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama Hindu sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat Islam. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Dapat diketahui bahwa menurut Buku Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno yang ditulis oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto transliterasi prasasti di atas adalah sebagai berikut: Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Asmawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.

Putra Asmawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur serta aman sentosa. Mulawarman adalah anak Asmawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Asmawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Hindu pada saat itu.
Nama-Nama Raja Kutai Martadipura
Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri), Maharaja Asmawarman (anak Kundungga), Maharaja Mulawarman (anak Asmawarman), Maharaja Marawijaya Warman, Maharaja Gajayana Warman, Maharaja Tungga Warman, Maharaja Jayanaga Warman, Maharaja Nalasinga Warman, Maharaja Nala Parana Tungga Warman, Maharaja Gadingga Warman Dewa, Maharaja Indra Warman Dewa, Maharaja Sangga Warman Dewa, Maharaja Candrawarman, Maharaja Sri Langka Dewa Warman, Maharaja Guna Parana Dewa Warman, Maharaja Wijaya Warman, Maharaja Sri Aji Dewa Warman, Maharaja Mulia Putera Warman, Maharaja Nala Pandita Warman,
Maharaja Indra Paruta Dewa Warman, Maharaja Dharma Setia Warman.
Nama Maharaja Kudungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sanskerta. Kata itu biasanya digunakan untuk akhiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.
Kerajaan Kutai Martadipura berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kertanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kertanegara yang saat itu ibukotanya di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kertanegara inilah, pada tahun 1365M, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama, masa kerajaan Majapahit. Kutai Kertanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735M kerajaan Kutai Kertanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kertanegara hanya bertambah ing Martadipura.
Bisa dikatakan, kerajaan Kutai Kertanegara ini adalah kerajaan yang mengambil alih kekuasaan dari Kutai Martadipura, yang pernah memiliki raja Mulawarman, juga kerajaan yang mempunyai peninggalan tujuh Yupa. Kekuasaan diambil alih melalui pertempuran yang terjadi pada abad XVII, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Kutai Kertanegara yang ke-8, yaitu Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa (1605-1635M). Sejak saat itu, generasi Kutai Martadipura mengalami kemunduran dan digantikan oleh generasi Kutai Kertanegara.
Pendiri Kerajaan Kutai Kertanegara adalah Raden Kesuma yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dengan pusat pemerintahan pertama terletak di daerah Kutai Lama. Lokasi kerajaan tersebut sangat strategis karena terletak di pinggiran Sungai Mahakam. Kerajaan Kutai Kertanegara pada abad ke-18 di bawah kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Idris (1732-1739M) berubah menjadi kesultanan Islam.
Dalam buku silsilah Kutai arti khoe yaitu kerajaan dan arti thai adalah besar berdiri di tahun 1300M. Maharaja, Aji Batara, Agung Dewa Sakti Raja pertama, Kutai Kartanegara berkuasa, di tahun 1300M di Kutai lama lalu, beristeri Putri Karang Melenu memiliki anak tunggal yaitu Aji Batara Agung Paduka Nirah yang berkuasa di tahun 1325-1360M masehi memiliki anak diantaranya yaitu a. Aji Maharaja Sakti b. Aji Maharaja Darmawangsa c. Aji Maharaja Surawangsa d. Aji Maharaja Indrawangsa e. Aji Maharaja Sultan f. Aji Raja Putri g. Aji Dewa Putri. Diantara 7 anaknya ini yang menjadi raja bernama Aji Maharaja Sultan dan adapun kakaknya bernama, Aji Maharaja Sakti menjadi penasehat kerajaan Kutai Kertanegara. Adiknya Raja Putri dinikahi anak kepala suku Dayak Tunjung bernama Puncak Karna.
Pada tahun 1360M naik tahta menjadi raja ke-3 yaitu Aji Maharaja Sultan. Aji Maharaja Sultan kawin degan Paduka Suri menurunkan anak
Aji Maharaja Mandarsyah. Raja ke-4 Aji Maharja Mandarsyah menikah dengan Ratu Suri menurunkan anak Aji Raja Putri. Raja ke-5 Aji Raja Putri binti Adji Maharaja Mandarsyah menikah dengan Aji Pangeran Tumenggung Baya-Baya (cucu Adji Batara Agung Dewa Sakti) menurunkan anak a. Aji Maharaja Mahkota Mulia Islam b. Aji Raden Wijaya c. Aji Maharaja Mahkota Mulia Islam. Raja ke-6 Aji Maharaja Mulia Islam menikah dengan Ratu Agung menurunkan anak a. Aji Dilanggar b. Aji Ratu Mangkurat c. Aji Digedong. Raja ke-7, Aji Dilanggar menikah dengan Tuan Rimah binti Adji Raden Wijaya menurunkan anak a. Ki Dipati Jaya Perana/Aji Pangeran Sinum Panji Kendapa b. Aji Rubat. Raja ke-8, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa kawin dengan Ratu Suri menurunkan anak bernama Aji Pangeran Dipati Agung. Sultan ke-9, Aji Pangeran Dipati Agung menikah dengan Ratu Suri menurunkan anak bernama Aji Pangeran Mojo Kesumo. Raja ke-10, Aji Pangeran Kojo Kesumo menikah dengan Ratu Suri menurunkan anak a. Aji Ragi/Aji Ratu Agung b. Aji Pangeran Dipati Tua. Raja ke-11, Aji Ragi/Aji Ratu Agung tidak menikah dan tidak mempunyai keturunan. Raja ke-12, Aji Pangeran Dipati Tua menikah dengan Ratu Suri menurunkan anak bernama Aji Begawan/Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Raja ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa menikah dengan Aji Dene Coket menurunkan anak bernama Aji Sultan Muhammad Idris. Raja ke-14 Aji Sultan Muhammad Idris menikah dengan Aji Putri Agung binti Petta Seberangeng bin Arung Madukleng Raja Paniki Wajo (Sulawesi Selatan) menurunkan anak a. Aji Imbut/Aji Sultan Muhammad Muslihuddin b. Aji Kensan/Aji Putri Intan. Raja ke-15, Aji Sultan Muhammad Muslihuddin menikah degan Aji Tatin/Aji Ratu Agung Kesuma mempunyai anak bernama, Aji Kuncar/Aji Sultan Muhammad Salehuddin. Sultan ke-16, Aji Sultan Muhammad Salehuddin menikah dengan Aji Mudra/Aji Ratu Zuziah binti Aji Pangeran Beraja Nata menurunkan anak a. Aji Biduk/ Aji Sultan Muhammad Sulaiman b. Aji Ainun Jariah/Aji Ratu Rubayah Agung c. Aji Beleng/Aji Raden Mas Cili. Raja ke-17, Aji Sultan Muhammad Sulaiman mempunyai istri sebanyak 50 org dan mempunyai anak 27 orang. Diantaranya, menikah dengan Aji Ratu Rubijah menurunkan anak a. Aji Sultan Muhammad Alimuddin b. Aji Pangeran Kesuma Adiningrat. Menikah dengan Aji Soja menurunkan Anak bernama Aji Amiddin gelar Aji Pangeran Mangkunegoro. Menikah lagi dengan Ratu Purnama dari Muara Kaman turunan dari kerajaan Kutai Martadipura menurunkan anak a. Aji Amir Hasanuddin gelar Aji Pangeran Soesronegoro b. Aji Raden Wasito
Raja ke-18, Aji Sultan Muhammad Alimuddin (1899-1910M) memiliki 25 orang istri dan mempunyai 14 orang anak diantaranya: Menikah dengan Dayang Tjekki menurunkan anak bernama Aji Lobak gelar Aji Raden Lasminingputri. Menikah dengan Dayang Redaj menurunkan anak a. Aji Sauggo gelar Aji Raden Retnowati b. Aji Dudje gelar Aji Raden Siti Sundari. Menikah lagi dengan Dayang Sangko menurunkan anak bernama Aji Ndoro gelar Aji Raden Siti Sendoro. Menikah lagi dengan Dayang Rekiah menurunkan anak bernama Aji Saidah gelar Aji Raden Djuwito Utomo Putri. Menikah lagi dengan Aji Gibek menurunkan anak a. Aji Illy Yasin gelar Pangeran Soemantri b. Aji Mariyam. Menikah lagi dengan Aji Limah menurunkan anak a. Aji Meleng b. Aji Sultan Muhammad Parikesit. Menikah lagi dengan Dayang Betje menurunkan anak a. Aji Baduj gelar Aji Raden Anggoro Sari b. Aji Machmud gelar Aji Pangeran Soesronegoro. Menikah lagi dengan Dayang Ebek menurunkan anak bernama Aji Addin gelar Aji Pangeran Tumenggung Pranoto (Gubernur pertama Kal-Tim). Menikah lagi dengan Dayang Minot menurunkan anak bernama Aji Masiah gelar Adji Raden Sinto Putri. Menikah lagi dengan Dayang Sulu menurunkan anak bernama Aji Udin gelar Aji Pangeran Karta. Raja ke-19 Aji Sultan Parikesit (1920-1981M), merangkap sekaligus sebagai Kepala Daerah Istimewa Kutai, Kabupaten Tenggarong. Sultan ke-20, Aji Muhammad Salahudin II (1999-2018M). Berikutnya Sultan ke-21, M. Aji Muhammad Arifin (2018-Seterusnya).
Demikian riwayat singkat kesultanan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur, yang kembali eksis meskipun hanya di wilayah kebudayaan. Salam Sejarah wahai sidang pembaca.

No responses yet