Di bagian Kalimantan Tenggara tepatnya di wilayah-wilayah yang sekarang masuk ke dalam Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru dalam catatan sejarah pernah berdiri banyak kerajaan, salah satunya Kerajaan Pulau Laut. Konon kemunculan kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut tidak sertamerta melakukan pembangkangan terhadap kerajaan Banjar, justeru kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Tanah Bumbu dan Kotabaru tersebut berdaulat pada kerajaan Banjar yang merupakan salah satu kerajaan yang berpangaruh di wilayah Nusantara. Keberadaan kerajaan-kerajaan diwilayah tersebut memiliki keterikatan politik, yaitu disatu pihak memiliki hak otonomi dalam hal mengatur pemerintahan ke dalam wilayah kerajaannya sendiri, namun secara umum kedaulatannya dibawah pembinaan dan perlindungan dalam Kerajaan Banjar. Keterikan politik kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut dengan Kerajaan Banjar berlangsung hingga tahun 1787.
Saat meletusnya Perang Banjar pada tahun 1859 dibawah kepemimpinan Pangeran Antasari yang telah berhasil menggalang kekuatan dengan pemuka-pemuka masyarakat di wilayah kedaulatan Kerajaan Banjar yang akan menentang Belanda yang telah merusak dan menginjak-injak aturan tatacara dan kehormatan Sultan Banjar. Seruan Pangeran Antasari ini didengar dan dipatuhi masyarakat Banjar termasuk Pangeran Jaya Sumitra dan Adiknya yang mendukung seruan Pengeran Antasari. Dukungan Pengeran Jaya Sumitra terhadap Pangeran Antasari tercium Belanda, untuk menghindari penangkapan Belanda terhadap dirinya maka Pengeran Jaya Sumitra dan Keluarga pindah ke Salino, sementara pemerintahan kerajaan Kusan diserahkan kepada Arung Abdul Rahim Raja Pagatan.
Silsilah Para Sultan
Masa pemerintahan Kerajaan Pulau Laut diperkirakan berlangsung sekitar sejak tahun 1840 sampai1905. Adapun Raja Pulau Laut yang pernah berkuasa adalah;
1. Pengeran Jaya Sumitra, Raja Pulau Laut I
Pengeran Jaya Sumitra dikenal sebagai pendiri Kerajaan Pulau Laut, yang kemudian, beliau sendiri sekaligus dinobatkan sebagai Raja Pulau Laut I, Pusat pemerintahan setelah di Salino dipindahkan ke Sigam. Raja Pulau Laut I wafat digantikan dengan adiknya Pengeran Abdul Kadir.
2. Pengeran Abdul Kadir, Raja Pulau Laut II
Pada Masa pemerintahan Sultan Abdul Kadir Raja Pulau Laut II sekitar tahun 1870, telah banyak berdatangan pengunsi-pengunsi dari Sulawesi yang kemudian diterima dan mendiami pesisir dan pulau-pulau kecil di wilayah kekuasaan Kerajaan Pulau Laut. Meraka yang datang dari Sulawesi itu umumnya dari Sulewesi Selatan suku bangsa Mandar dan Suku bangsa Bugis Bone. Keberadaan dua suku bangsa ini tidak diterima dengan baik oleh pihak penguasa Kerajaan Pulau Laut dan diberikan hak yang sama untuk tinggal dan membangun pemikiman yang hingga saat ini mereka hidup secara berkelompok sesuai dengan komunitasnya. Perkampungan mereka masih dapat ditemui saat ini di Tanjung Saloka, Pulau Marabatuan, Pulau Mardapan, Pulau Karayaan dan Pulau Kalambau, bahkan berapa wilayah daratan di Pulau Laut sendiri. Mereka semua hidup rukun dibawah kepemimpinan Kerajaan Pulau Laut. Tahun 1873 Sultan Abdul Kadir Raja Pulau Laut II meninggal dunia dan dimakamkam di kampung Sigam. Kemudian setalah Sultan wafat d digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Brangta Kusuma kemudian dinobatkan sebagai Raja Pulau Laut III.
3. Pengeran Brangta Kusuma, Raja Pulau Laut III (1873-1881)
Sultan Berangta Kusuma Raja Pulau Laut III mempersunting Putri Intan Jumantan Putri dari Pengeran Kusuma Indra. Dari perkawinan ini kemudian melahirkan keturunan 4 orang anak laki-laki dan 5 anak perempuan yaitu:
a. Pangeran Amir Husin b. Pengeran Muhammad Seman c. Pengeran Abdurrahman d. Putri Amas e. Pengeran Asmail f. Putri Mas Mirah g. Putri Ratna h. Putri Mulik i. Putri Bungsu. Pada masa pemerintahan Raja Pulau Laut III memindahkan pusat Kerajaan Pulau Laut dari Sigam ke Gunung Balinkar. (Governement Besluit tanggal, 21 Desember 1873. No. 37).
4. Pangeran Amir Husin Kusuma, Raja Pulau Laut IV (1881-1900)
Pada masa pemerintahan Sultan Amir Husin Kusuma sebagai Raja Pulau Laut IV pusat pemerintahan kerajaan Pulau Laut kemudian dipindahkan dari Kaki Gunung Balingkur ke sebelah selatan Gunung Belingkar pesisir pantai menghadap ke Selat Laut Makkasar.
Sultan Amir Husin Kusuma dalam perjalannya melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci kemudian wafat di Makkah, tapi sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci beliau sempat berwasiat bahwa yang akan mengantikan kedudukannya nanti adalah putra sulungnya bernama Pengeran Muhammad Kusuma sebagai Raja Pulau Laut V.
5. Pangeran Muhammad Kusuma, Raja Pulau Laut V (1902-1905)
Masa pemerintahan Sultan Muhammad Kusuma sebagai Raja Pulau Laut V. Saat pemerintahannya adalah masa-masa sulit dikarenakan mulai muncul pengaruh kolonial Belanda menanamkan pengaruhnya di seluruh wilayah kerajaan yang ada di Nusantara tidak terkecuali Kerajaan Pulau Laut. Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Aminullah Kusuma adalah detik-detik akhir berakhirnya pemerintahan sistem kerajaan dikarenakan dominannya pengaruh dan kekuatan kolonial Belanda. Sampai akhirnya kolonial Belanda menghapuskan sistem pemerintahan Kerajaan Pulau Laut tahun 1903, namun Sultan tetap memangku Kerajaan Pulau Laut hingga tahun 1905. Beliau kawin dengan Ratu Tajeng memperoleh anak bernama Putri Jahrah Kusuma. Dari Puteri Jahrah Kusuma melahirkan Gusti Chaldun. Gusti Chaldun kawin dengan Gusti Rohana memperoleh anak 6 orang yakni Gusti Mahrita, Gusti Risnawati, Gusti Megaria, Gusti Helyani, Gusti Helnawati.
dan Gusti Helyadi.
Wilayah kekuasaan kerajaan Pulau Laut yang didirikan oleh Pangeran Jaya Sumitra, yang memindahkan pusat pemerintahannya dari daerah aliran Sungai Kusan, Tanah Bumbu ke Pulau Laut dan Pulau Sebuku. Raja-Raja kerajaan Pulau Laut merupakan trah Sultan Sulaiman bin Sultan Tahmidullah II dari kerajaan Banjar atau kesultanan Banjarmasin.

No responses yet