Oleh Flara Annisa Putra
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Kecemasan dan persoalan psikologis lain hanya mungkin terjadi akibat perbuatan dosa yang
dilakukan oleh manusia. Beberapa peneliti menilai bahwa merasa berdosa dan merasa
bersalah adalah sesuatu yang alami yang itu lebih baik dari pada tidak merasa bersalah.
Todd LeRoy Perreira adalah seorang profesor dari San Jose University, CA United States
melakukan studi tentang pengelolaan emosi melalui konsep ‘mistisisme Islam’ dengan
pendekatan ‘meditasi’. Dia berusaha membuktikan secara psikologis bahwa latihan-latihan
dzikir dengan bermeditasi mampu mempengaruhi emosi seseorang. Gabungan antara
konsep meditasi dengan mistisisme Islam dengan cara dzikir dapat mengahasilkan
penguatan yang signifikan kepada pengalaman jiwa yang memberikan perubahan besar
kepada emosi dan interpretasi.
Perilaku keberagamaan yang keliru dapat berpengaruh buruk pada kondisi mental
Seseorang. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa seseorang yang merasa dijauhi oleh
Tuhan dan memiliki konflik religius akan terkait dengan depresi yang diderita. Kekeliruan
terjadi saat mereka Meyakini suatu dosa yang tidak dapat diampuni. Dengan hasil ini, pola
keberagamaan dapat dijadikan indikasi penting pada permasalahan psychological distress
(Exline, Yali, & Sanderson, 2000). ketenangan hati dapat diperoleh dengan berbagai hal
yakni: tasawuf,berzikir, Bertaubat, Bertawakal dan membaca Al-Quran.
Ketenangan hati dengan berzikir
Setiap bacaan zikir mempunyai makna dan keyakinan terhadap Allah SWT. Seseorang yang
mempunyai spiritual yang tinggi berarti seseorang tersebut mempunyai keyakinan yang
tinggi terhadap Allah. Keyakinan tersebut akan mengarahkan seseorang kepada hal-hal yang
bersifat positif (Kumala, Kusprayogi, & Nashori, 2017). Seseorang yang mempunyai
ketenangan hati yang rendah perlu diberikan pelatihan zikir. zikir akan membuat hati
seseorang menjadi tenang, damai, tentram, serta tidak mudah berubah sesuai dengan
pengaruh lingkungan sekarang ini. Penelitian lain yang dilakukan oleh Supradewi (2008),
menjelaskan bahwa pelatihan zikir dapat menurunkan bahkan menghilangkan afek negatif
serta dapat meningkatkan emosi positif seseorang.
Salah satu bentuk upaya melaksanakan taubat adalah berzikir untuk mendapat ampunan
Allah SWT. Zikir terebut adalah berbentuk istigfar. Istighfar hendaknya dilakukan oleh orang
yang bertaubat agar terjadi pengulangan-pengulangan kata yang menunjukkan penyesalan
dan permohonan ampunan. Pada saat hamba Allah mau bertaubat maka ada jenis taubat
yang dianjurkan adalah taubat nasuha yang mencakupi tiga unsur: Pertama, ia mencakup
seluruh dosa sehingga tidak ada satupun dosa yang tertinggal. Kedua, kebilatan tekad untuk
itu sehingga tidak tersisa lagi keragu-raguan dan kebimbangan. Ketiga, menirukannya dari
berbagai hal yang bisa merusak keikhlasan taubat tersebut.
Ketenangan hati dengan tawakkal
Tawakkal, membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan
menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepadanya. Sikap tawakkal sangat bermanfaat
untuk mendapatkan ketenangan hati, sebab apabila seseorang telah berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu dengan mengarahkan segala tenaga dan
membuat perencanaan yang sangat cermat dan detail melaksanakannya dengan penuh
disiplin, dan melakukan pengawasan dengan ketat, kemudian kalau mengalami kegagalan
dia tidak akan berputus asa. Dia menerimanya sebagai musibah, ujian dari Allah SWT yang
harus dihadapi dengan sabar.
Ketenangan hati dengan Tasawuf
Tasawuf merupakan jalan yang ditempuh seorang hamba agar bisa lebih mendekat kepada
sang pencipta alam semesta. Untuk mengimplementasikan ilmu tasawufnya, seseorang
harus berusaha mengatasi berbagai rintangan yang akan menghambat laju pertemuannya
dengan Tuhan, cara ini biasa disebut dengan “tazkiyatun nafs” atau “penyucian diri” yang
berupa menahan diri dari hawa nafsu, syahwat, dan amarah. Membersihkan diri dari sifat-
sifat tercela, atau melakukan latihan-latihan jiwa seperti puasa, berkhalwat, dan tafakkur.
Jika dalam bertasawuf ia bersungguh-sungguh, maka akan memperoleh ketenangan hati
yang diiringi dengan perasaan tentram karena telah dekat kepada Tuhan. Itu merupakan
hasil dari tasawuf yang bersungguh-sungguh dengan keyakinan kuat akan Tuhan sebagai
tujuan utamanya. Jadi seseorang yang ingin memperoleh ketenangan hati di dalam
hidupnya, maka sebelum itu sejak awal bertasawuf, ia benar-benar membersihkan hatinya
semata-mata ingin lebih dekat kepada Tuhan.
Referensi :
Abdul Kallang , TEORI UNTUK MEMPEROLEH KETENANGAN HATI, Institut Agama Islam
Negeri Bone.
Tania Singer and Claus Lamm (2009) University of Zurich, Laboratory for Social and Neural
Systems Research, Zurich, Switzerland : The Social Neuroscience of Empathy.
Basuki dan Miftahul Ulum (2007) Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta
Azhari, Novi Nurjannah (2019) Ketenangan Hati dalam Alquran: Telaah Pemikiran Syaikh
Najmuddin al Kubro. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

No responses yet