Abdul Mukti Bin Harun lahir di Barong, April 1898. Barong adalah sebuah desa di Sawahan, Jawa Timur. Mukti kecil tumbuh dan dibesarkan di sana. Ia mengenyam pendidikan pesantren Jombang, kemudian melanjutkan pesantren di Kauman yang diasuh KH. Yasin, Bangkalan dan pesantren di Nganjuk. Gairahnya untuk terus belajar agama kian menggelora, sehingga menghantarkan dirinya mengenyam pendidikan di Mesir pada 1914.

Karena nilai intelektual Mukti yang tinggi, menjadikan karirnya cemerlang. Ia dikenal luas oleh banyak kalangan sebagai ulama pejuang yang gigih dan ahli budaya pewayangan Jawa. Perjuangan Mukti melawan penjajah Belanda cukup besar. Ia dengan semangat yang tinggi terus melatih dan membina mental para santri. Baginya hal ini penting, sebab manusia memiliki kondisi jiwa yang sewaktu-waktu bisa saja hilang semangat. Untuk mengantisipasi hal itu, setiap saat memasukkan nilai-nilai rohani tentang arti sebuah perjuangan di jalan Allah. Sehingga dengan begitu para santri merasa termotivasi untuk berjihad atas nama Tuhan dengan cara memberantas penjajah dari tanah air yang mereka cintai.

‘’Pernah suatu ketika, sewaktu Kiai Mukti sedang menggembleng sekitar satu kompi atau sekitar 100 tentara di pondoknya. Tiba-tiba tentara Belanda datang untuk menangkap mereka. Mengetahui hal tersebut, Kiai Mukti kemudian mengumpulkan para tentara di belakang langgar Al Mukarromah. Anehnya, sewaktu tentara Belanda mencari mereka di pondok, di rumah Kiai Mukti, dan di langgar  Al Mukarromah tidak ditemukan seorang pun tentara,’’  ungkap Umar Maksum, santrinya yang menceritakan kehebatan yang dimiliki oleh Kyai Mukti.

Tentang kemampuan Mukti yang bisa menghilang dan menembus benda padat sudah diakui di masyakarat. Dengan itu pula ia sangat disegani oleh banyak tokoh dan juga ditakuti oleh tentara lawan.

“Di antara orang yg berguru kepada Kyai Mukti adalah Bung Tomo,” beber Umar Maksum. Bung Tomo, yg memiliki nama asli Sutomo adalah seorang pemimpin pertempuran 10 Nopember yg menggerakkan dan membangkitkan semangat rakyat Surabaya, ketika diserang oleh tentara-tentara NICA. Ia juga dikenang sebagai pahlawan yang bersuara lantang menyeru untuk melawan penjajahan melalui penyiaran di stasiun-stasiun radio Surabaya. ‘’waktu itu, oleh Kiai Mukti, Bung Tomo diberi wirid dan air minum, serta dibekali dengan bambu runcing,’’ lanjutnya.

Semua santri yg digembleng mempercayai bhw Mukti memiliki kemampuan utk menghilang. Ia pernah mjd buron politik selama enam tahun, tetapi selama itu, ia tidak tertangkap sama sekali. Namun setelah itu,  Mukti bersama Moh. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, pernah merasakan dinginnya teralis besi karena bertentangan dgn ideologi Soekarno. Banyak kalangan mengira bhw sebenarnya Muktilah yg menyerahkan diri sama seperti ketika ia mendatangi ketua RT untuk meminta maaf.

Bagi masyarakat Kota Malang, sosok Kiai asal Pandaan ini dikenal sebagai pribadi yang waro’, mukhlis, dan ahli tasawuf. Sejak muda, putra pertama KH Harun dari enam bersaudara ini sudah giat berdakwah, dan mengabdi di Ponpes Kauman (belakang masjid Agung Jami’ Malang), yang dirintis KH. Yasin asal Kuanyar Bangkalan. Selain itu, juga ikut berkiprah di Masjid Agung Jami’ Malang.

Mukti menikah dengan Nyai Zahroh, putri ketiga KH. Yasin. Saat itu banyak warga yang meminta agar dirinya menetap dan membina masyarakat Kasin, pasca wafatnya Mbah Muhammad. Masyarakat merasa membutuhkan figur ulama dan ketokohan seperti Mukti. Demi kecintaannya kepada Mukti, KH. Abdul Karim sekeluarga suka rela memberikan tanahnya untuk dibangun rumah dan pondok pesantren, serta Langgar Al Mukarromah.

Di Ponpes Kasin itulah, Mukti yang ahli hizib itu membangun umat dan memberi semangat kepada tentara Hizbullah untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang. Para santri yang berdatangan ke ponpes, tidak hanya dari Kota dan Kabupaten Malang, seperti Gondanglegi dan Kepanjen. Tapi juga dari Pandaan, Bangil, Pasuruan, Jember, Lumajang, dan beberapa kota lainnya.

Mukti aktif mengajarkan ilmu tasawuf, ilmu fiqih, dan kitab-kitab kuning lainnya kepada para santrinya. Ada hal yang menarik dari para santri yang datang ke pesantrennya. Di antara mereka ada yang datang tidak untuk belajar agama tapi meminta diasuh dan diberikan wirid supaya bisa menjadi tentara yang kuat dan tangguh dalam melawan Belanda. ‘’Sebagian besar tentara Indonesia, yang tergabung dalam barisan Hizbullah selalu minta doa restu, dan penggemblengan agar mereka mempunyai keberanian dan selamat dalam pertempuran,’’ kesaksian H. Umar Maksum.

Mukti juga aktif menjadi Syuriyah NU Cabang Malang. Di sana ia terkenal dengan seorang yang dermawan. Ia juga mengajak dan menyarakan agar melakukan ihtiar dan mencari barokah. Menurutnya kita tidak boleh dalam mencari harta, juga tidak boleh pelit dalam mengeluarkan sedekah. Karena prinsipnya itu, ia sering kedatangngan tamu yang memberikan banyak hadiah-hadiah kepadanya yang kemudian disalurkan lagi kepada orang lain.

Sosok Mukti tidak hanya berkesan bagi masyarakat luas. Tapi bagi para cucunya. Laki-laki yang memiliki putra putri hamper satu setengah lusin ini dinilai sebagai kakek yang penyabar, disiplin, dan tidak banyak bicara, tetapi ia demokratis. Kenang Umi Rosidah, cucu kesayangannya.

Konon, ketika Mukti mengisi pengajian, banyak orang yang berbondong-bondong datang tak peduli bagaimana pun cuacanya. Bagi masyarakat, ceramah Mukti memberikan pencerahan. Seperti air yang diminum ketika dahaga, cahaya dalam kegelapan, dan peta ketika kehilangan arah.

Suatu hari Mukti mengisi pengajian di desa di Koripan, Tegalrejo, Magelang. Ia  menguraikan tentang tingkah laku anak manusia. Menurutnya, saat ini banyak para orang tua mengeluhkan kelakuan anak-anaknya yang tidak memiliki rasa hormat kepada kedua orang tuanya, lupa pada ajaran agamanya, dan jarang mengisi kegiatan di masjid. Sehingga perlaku seperti itu jauh dari harapan orang tuanya tentang anak yang berbakti kepada orang tau dan sholeh seperti doa yang sering dipanjatkan oleh kedua orang tuanya.

Dengan melihat fenomena itu, Mukti tidak lantas menyalahkan anaknya 100%. Sebab menurutnya istilah “woh pelem tibane ora adoh saka wite” banyak benarnya. Pepatah tsb memang mengindikasikan bahwa kebiasaan atau didikan orang di dalam rumah masing2, sangat berpengaruh terhadap perilaku seorang anak. Jika di dalam rumah, seorang anak mendapatkan didikan keluarga yang baik, contoh tindakan kebaikan, dan suasana rumah tangga yang tentrem, damai, harmonis dan bahagia, kemungkinan si anak akan berkembang menjadi orang yg baik. Sebaliknya jika rumah tangga tidak harmonis, si ayah dan ibu sering bertengkar, tidak ada nilai agama ditanamkan, sudah pasti seorang anak cenderung akan menjadi anak nakal, dan kelak setelah dewasa tidak mustahil akan berbuat hal yg merugikan banyak orang.

Banyak kisah nabi dapat dijadikan conoth pembelajaran. Mulai Nabi Adam, bahkan seorang nabi memiliki Habil dan Qobil yg saling bertolak belakang akhlak dan kelakuannya. Habil berhati lurus, jujur, taat, dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Tetapi si Qobil justru menjadi soerang yang culas, licik, dan penuh rasa dengki kepada Habil. Bahkan akhirnya di Qobil tega membunuh saudara sekandungnya demi memperebutkan perjodohan diantara anak-anak Adam dan Hawa. Pembunuhan anak manusia untuk pertama kali justru dilakukan oleh seorang putra nabi atas putra nabi yang lainnya.Apakah Adam dan Hawa telah gagal mendidik putra-putrinya?

Demikiannya halnya kisah Nabi Nuh. Delapan ratus tahun lebih berdakwah hanya mendapatkan 80-an pengikut yang mau mengakui ke-Esa-an Allah SWT. Tidak hanya orang yang mendustakan dakwahnya, justru Kan’an anak kandungnyapun menjadi perintang risalah yang diembannya. Akhirnya tatkala Allah memerintahkannya untuk membuat kapal, Kan’an justru turut mencomooh bahwa bapaknya telah menjadi gila. Akhirnya tatkala air bah benar-benar datang sebagai azab Allah, Kan’an menjadi golongan manusia yang tidak selamat. Bahkan anak-anak seorang nabi pun tidak menjadi jaminan menjadi orang-orang yang taat dan takwa.

Sebaliknya, seorang Nabi Ibrahim dilahirkan di tengah kekufuran keluarganya. Azar, sang ayah, justru adalah seorang pemahat patung berhala yang menjai sesembahan masyarakat mereka saat itu. Namun dari seorang pembuat patung berhala, justru terlahir seorang nabi yang mengemban risalah ketauhidan. Bahkan Nabi Ibrahim mendapatkan kemuliaan menjadiulul ‘azmi yang merupakan bapak para nabi karena memang kemudian dari keturunannyalah terlahir garis silsilah para nabi hingga Nabi terakhir Muhammad saw.

Demikianlah bukti kehebatan sang kyai. Mukti dipanggil menghadap Allah SWT pada 9 April 1963 sekitar pukul 11.00 WIB di kediamannya di Kasin, yang sekarang menjadi Jalan Arief Margono karena sakit panas, dan dimakamkan di pemakaman umum Kasin`

#KagemBeliauLahuAlFaatihah

#SantriBintangSongo

#IhdaKeilaAstaghitsaNgajiSejarah

Sumber: FB Abdie al faqier

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *