Ilmu Bbukan Di Catatan

Imam Syafi’i pernah berkata, “Ilmu itu tempatnya ada di dalam hati, bukan di kitab, catanan, maupun tulisan-tulisan”. Quote itu sangat meng-ilhami Kyai Habib untuk bisa melakukan seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’i. Yaitu ilmu itu bertempat di dalam hati. Alias telah hapal, faham, dan menguasai betul ilmu yang telah diperoleh. Cara mendapatkan ilmu yang menancap di dalam hati itu dengan meninggalkan maksiat. Imam Waki’ pernah diminta wasiat oleh Imam Syafi’i bagaimana cara untuk mendapatkan ilmu yang bertempat di hati? “Tinggalkan maksiat”, jawab Imam Waki’.

Hal ini mungkin sudah diketahui banyak santri Tebuireng, bahwasanya ketika yai Habib Ahmad ngaji beliau tidak pernah membawa kitab sendiri. Biasanya beliau pinjam, atau sudah disediakan kitab oleh santrinya. Dan kitab yang disediakan itu masih “bau kertas”, alias masih “new”. Tentu kitabnya tidak ada goresan pena sedikit pun, masih kosong tanpa ada makna satu kata pun. Dan kitab-kitabnya yang dikaji oleh beliau itu bukan kitab yang hanya memiliki ketebalan 1 cm bahkan kurang. Akan tetapi kitab yang dikaji itu kitab yang memiliki ketebalan “satu bata” atau tebal, dan berjilid-jilid. Seperti Sohih Bukhori, Sohih Muslim, Abu Dawud, Jalalain, dan kitab lain. Semua itu beliau kaji dengan kitab “kosongan”.

Dan uniknya lagi, tidak ada yang lupa atas makna atau arti dari satu kalimat pun. Padahal kitab hadis itu termasuk kitab yang sukar untuk dibaca. Banyak kata-kata yang sangat tidak familiar di telinga kita. Tapi dengan mudahnya beliau baca satu persatu teks di dalam kitab dengan tenang, tanpa bingung sedikit pun, hingga kitab itu khatam. Iya, karena beliau bermadzhab ilmu itu di dalam hati. Beliau tidak ter-dekte dengan makna-makna kitab yang kadang tidak bisa dibaca. Wkwk

Kok bisa seperti itu, kyai Habib pernah dawuh “kalau membawa kitab itu diletakan di dada, karena itu tempatnya ilmu. Jangan bawa kitab seperti bawa kresek jajan, apalagi ditaruh di bokong. Ya ilmunya jatuh di jalan”. Itulah sedikit gambaran bagaimana beliau mendapatkan ilmu yang banyak dan dalam, karena beliau menge-depankan akhlak dan tata kerama dalam membawa kitab. Sebab barokahnya adab membawa kitab itu mungkin beliau bisa membaca kitab yang berjilid-jilid tanpa makna. Beliau mengamalkan hal itu semenjak awal kali belajar di Tebuireng.

Dan satu hal lagi yang terpenting, kyai Habib mendapatkan aliran ilmu itu dari sumber yang jernih. Dari sumber yang jernih dan tempat yang jernih pula, itulah mengapa beliau mendapatkan ilmu yang manfaat dan barokah. “Ilmu yang disampaikan dari qolbin yang mukhlis kepada qolbin yang mukhlis, jadinya ilmunya juga jernih” dawuh beliau. Antara guru dan santri harus sama-sama ikhlas. Agar ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang jernih. Beliau juga sering dawuh kepada penulis, “dadio wong seng ikhlas, seng ikhlas ya, ikhlas”.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *