Masa Kecilnya

Pada Bulan Agustus atau April tahun 1949 ( Selisih beberapa bulan dengan Kyai Kamuli) lahir seorang anak yang bernama “Habib” di desa Watu Galuh, desa yang berada di baratnya Tebuireng. Bayi yang lahir itu kelak akan menjadi pemegang estafet pengajian Sohihain di Pesantren Tebuireng. Kyai Habib dilahirkan dari keluarga yang Ahli Ibadah dan Tirakat. Ibunya merupakan sosok yang ahli puasa juga seorang pedagang yang ulung di pasar cukir. Setiap kali ibu beliau melintasi pesantren Tebuireng, beliau selalu berhenti di gerbang pesantren, seraya berdoa agar kelak putra2nya bisa mengaji di Tebuireng, dan menjadi insan yang selalu memberi manfaat bagi nusa, dan bangsa. Dengan tirakat dan riyadohnya Kedua orang tua tak heran jika beliau menjadi tokoh yang berpengaruh dan menjadi manusia yang bermanfaat kepada orang lain. Ulama berkata:

ﺻﻼﺡ ﻭﺗﻘﻮﻯ ﺍﻵﺑﺎﺀ ﺗﻨﻔﻊ ﺍﻷﺑﻨﺎﺀ ﻭﺫﺭﻳﺎﺗﻬﻢ ﻭﺗﻘﻮﻯ ﺍﻷﺑﻨﺎﺀ ﻳﻌﻮﺩ ﺍﻟﻰ ﺍﺑﺎﺀﻫﻢ ﻭﺍﺻﻮﻟﻬﻢ

kebaikan dan ketaqwaan Orang tua akan berpengaruh sangat besar terhadap anak dan keturunannya, sebaliknya kesalihan anak juga kembali kepada orang tuanya.

Habib kecil mula-mula belajar membaca Al-Qur’an kepada salah satu kyai di Watu Galuh. Dan pada waktu paginya juga belajar di SD Watugaluh. Setelah lulus dari SD dan menginjak dewasa beliau memiliki keinginan kuat untuk belajar agama. Dipilihlah pesantren Tebuireng sebagai tempat belajar agama. Karena ada keinginan dari ibu kandungnya untuk memondokan putra nya di Tebuireng, serta Tebuireng pada kala itu masih diajar oleh Kyai-kyai yang pernah belajar langsung kepada Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, tokoh pergerakan dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Juga karena dekat dari rumah beliau.

Mengembara Ke Tebuireng

Setelah selesai menyelesaikan studinya di SD Watugaluh, Kyai Habib melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke pesantren Tebuireng. Kala itu masih diasuh oleh KH. Kholiq Hasyim, Kyai yang ahli ilmu dalam atau ikmu Kanuragan. Saat di Tebuireng beliau masuk di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng. Pada masa itu yang menjadi kepala madrasahnya adalah KH. Syansuri Badawi. Semenjak masuk ke Tebuireng, Habib remaja sudah menunjukkan kecerdasan nya. Beliau lahap dengan mudah semua pelajaran yang diajarkan oleh gurunya. Imrithi, Jauharul Maknun, Alfiyah Ibnu Malik, Alfiyah Suyuti, hingga Uqudul Juman beliau pelajari semua.

Pada zaman itu rata-rata staf pengajar di Madrasah MASS adalah santri-santri Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Seperti, Kyai Ilyas, Kyai Syansuri Badawi, Kyai Shobari, Kyai Saerozi (Imam Sibawihnya Tebuireng), Kyai Mahsun, dan kyai-kyai yang lain. Mereka semua telah menguasai materi pelajaran yang diampunya. Jadi tak heran jika pada masa itu banyak yang jadi, karena mengambil ilmu dari Ahlinya.

Kyai Habib termasuk santri yang ekonominya menengah kebawah. Jadi, beliau juga membagi waktunya, antara waktu untuk belajar, ngaji, dan mutollah dengan waktu untuk mencari maisyah. Beliau rela menjadi buruh masak dari teman-teman beliau. Siang dan sore beliau merelakan waktunya untuk memasak nasi. Karena beliau sendiri dari kelompok masaknya yang sama sekali tidak iuran. Beliau diberi tugas untuk memasak.

Untuk makan saja beliau kesulitan, apalagi untuk membeli kitab yang berjilid-jilid. Beliau hanya mampu beli kitab yang tipis-tipis saja. Pada saat seperti itu beliau terpaksa meminjam kitab kepada sahabtanya. Gus Hakam adalah salah satu sahabatnya yang selalu beliau pinjami kitabnya. Memang pada saat itu Gus Hakam terkenal santri yang banyak mengkoleksi kitab. Tak hayal, banyak teman-teman nya pinjam kitab kepadanya.

Ilmu itu di dalam hati, bukan pada tulisan. Itu adalah salah satu prinsip beliau. Kitab yang kyai Habib pinjam itu pasti akan kembali kepada pemiliknya. Dari itu, beliau menghapalkan kitab-kitab tersebut agar ilmu yang diperoleh selalu bersama nya dimana pun berada. Ada cara unik belajar nya santri Tebuireng tempo doelo yang pernah diceritakan Kyai Junaidi Hidayat. Yaitu dengan menutupi lampu minyak dengan kertas, lantas kertasnya dilobangi kecil. Dari lobang itulah muncul sorotan cahaya dari lampu minyak itu. Sorotan cahaya kecil tersebut diarahkan ke teks sebuah kitab yang akan dihapal atau dimutollah. Dengan itu, pembaca hanya fokus pada teks itu bukan hal lain.

Di Aliyah Tebuireng

Sejak di Aliyah Tebuireng, Habib remaja semakin matang pengetahuan dan keilmuannya. Di Madrasah ini beliau belajar berbagai fan ilmu dari berbagai kitab turast, seperti Alfiyah dan Asybah wa Nadzoir-nya Imam Suyuti, Fathul Muin-nya Al-Malibari, Al-Luma’-nya As-Syairozi, Nahjut Taisir-nya Az-Zamzami, Isaguji-nya Zakariya Al-Ansori, Al-Hikam-nya Ibnu ‘Atoillah, Tajrid Sorih-nya Zabidi, dan kitab-kitab mu’tabaroh lain.

Kyai Syansuri Badawi sebagai guru senior, juga sebagai kepala Madrasah Aliyah, menaruh simpatik yang mendalam kepada satu santri ini, Habib. kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan-nya dalam mencari ilmu menyebabkan dia dikenal sebagai santri teladan. Akhirnya pada suatu saat jika para guru ada udzur, ditunjuklah santri yang berasal dari Watu Galuh ini untuk mem-badali-nya atau mengisinya. Kyai Syansuri dan Kyai Sobari sering menunjuk Habib untuk membaca kitab di depan. Sungguh, ini adalah isyarah bahwa kelak beliau akan menggantikan sang guru, saat mereka wafat.

Sebagai gudangnya ilmu, Tebuireng juga memiliki kualifikasi santri yang berhak lulus dan mendapatkan Ijazah. Walaupun sebenarnya Ijazah itu tidak begitu urgen bagi santri zaman dulu, yang penting bagi mereka adalah mendapatkan ilmu yang manfaat dan barokah. Itu yang mereka cari. Akan tetapi sebagai motivasi atas semangat-nya dalam belajar, para pimpinan Madrasah memberikan mereka Ijazah sebagi penghargaan dan untuk motivasi belajar meraka.

Di Aliyah Tebuireng ujian akhir santri kelas tiga adalah membaca kitab kuning. Kitab yang dipakai adalah kitab karya Ulama dari Malibari India, yaitu kitab Fathul Muin. Kitab ini tergolong kitab yang rumit, karena susunannya rumit dan terkadang sulit dipahami dengan hanya sekilas membaca. Penempatan tarkib, semisal mubtada dan khabar, fi’il dan Fa’il, syarat dan jawab, athof dan ma’tuf-nya bisa berada pada barisan kalimat yang jauh sekali. Maka dari itu banyak kyai yang beranggapan bahwa jika seseorang bisa baca kitab Fathul Muin layak disebut Kyai. Dan di Aliyah Tebuireng kala itu kitab tersebut adalah sebagai standar kualifikasi lulusan Aliyah.

Membaca dengan kitab menghadap ke pembaca itu hal yang lumrah. Khusus Ujian akhir di Aliyah Tebuireng kitab Fathul Muin tersebut harus dibalik, membelakangi pembaca. Bayangkan kitab yang terkenal rumit membacanya, dibaca dengan membalikan kitabnya. Bukan hanya sekedar itu, diujikan dihapadan santri-nya Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, Kyai Syansuri Badawi dan Kyai Shobari. Beliau berdua adalah yang menguji para santri. Makna, murud, pertanyaan seputar teks dan nahwu sorof harus mereka Jawab. Jika mereka belajar nya sungguh-sungguh pasti akan bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

Kyai Habib memang sejak masuk di Tebuireng sudah memiliki Himmah dan semangat yang tinggi. Jadi mengikuti ujian akhir Madrasah beliau lampui dengan lancar dan mendapat nilai yang memuaskan. Sebagai santri yang mendapatkan nilai mumtaz atau cumlaude beliau tidak tinggi hati, tetap mengedepanakan akhlak dan Tawadu’ yang tinggi.

Gagal kuliah

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah pada tahun 1967, Kyai Habib muda ingin melanjutkan studinya di perguruan yang lebih tinggi. Dipilihlah Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) sebagai tempat belajar yang baru. Universitas ini didirikan pada tahun 1967 dan diresmikan oleh menteri agama kala itu, KH. Saifudin Zuhri. Rektor pertama UNHASY adalah Kyai Ilyas. Kyai Ilyas merupakan ponakan dari Bu Nyai Nafiqoh, istri Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

Bersama teman-temanya Habib muda mendaftarkan diri untuk masuk di Universitas yang baru tersebut. Seperti umumnya Universitas yang lain, syarat masuk harus melengkapi administrasi yang ditentukan dan membayar uang untuk administrasi, SPP bulanan, hingga uang gedung. Sebelum mendaftar Habib dan teman-teman nya melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan. Hingga pada akhirnya berkas tersebut dibawa teman beliau. Dan naasnya berkas tersebut tidak dikembalikan lagi, entah berkasnya itu hilang atau bagaimana. Setelah mencoba untuk mencarinya juga belum ketemu. Pada akhirnya beliau mengurungkan niatnya untuk daftar di UNHASY. Karena berkas persyaratan pendaftaran hilang, juga biaya yang dikeluarkan cukup banyak. Saat itu memang keadaan beliau dalam kekurangan ekonomi.

Dengan cukup menyesal tidak bisa daftar di UNHASY akhirnya Habib muda memutuskan untuk ikut di kelas yang paling eksklusif di Tebuireng. Ya, kelas yang didik langsung oleh Kyai asal Cirebon, Kyai Idris Kamali. Beliau faham bahwa setiap sesuatu itu pasti hikmah. Tidak jadi kuliah tidak jadi masalah, yang terpenting tetap selalu belajar terus menerus. Belajar tidak hanya dibangku sekolah dan kuliah saja. Ikut di Halaqohnya Kyai Idris itu juga salah satu media belajar. Dengan mengikuti halaqoh tersebut bisa lebih dekat bercengkrama dengan kitab turast yang diasuh oleh menantu pendiri pondok. Beliau berkata, “Kabeh iku ono hikmah e, aku ditekdirno Allah dadi wong seng tafaqquh fid dien. Aku syukur tenan iso melok ngaji neng Kyai Idris”.

Memang untuk menjadi santrinya Kyai Idris harus loyal dan patuh kepada Kyai. Syarat-syarat yang ditentukan oleh kyai harus dijalankan dengan ikhlas. Tidak semua santri Tebuireng bisa belajar langsung kepada Kyai Idris, karena memang kyai Idris itu sangat selektif dalam memilih santri. Hanya santri yang memiliki ketekunan, kesabaran, ketaatan dan keikhlasan yang bisa beliau terima. Dan Kyai Habib adalah salah satu santri istimewanya Kyai Idris.

Tulisan ini berdasarkan informasi penulis langsung dari beliau ketika mendampingi pulang pergi ngaji Bukhori dari rumah ke Ma’had Aly.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *