Categories:

Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Mbah Arwani Kudus dan Mbah Abdullah Salam, Kajen, Pati(murid dan besan Kiai Arwani Kudus). Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Yaitu Kiai Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Menurut riwayat khadimnya, semasa belajar ilmu Qiraat di Krapyak Yogyakarta Kiai Arwani selalu datang dua jam sebelum setoran ngaji dimulai. Jam 11 malam beliau sudah ada di majelis, padahal setoran dimulai jam 1 dini hari. .

.

Selain itu, beliau selalu menyimak dengan seksama, menulis semua yang diucapkan oleh gurunya, sebab proses belajarnya dengan metode Talaqi Qiraah. Catatan tulisan tersebutlah yang menjadi kitab Faidh al-Barakat tiga puluh juz lengkap. .

.

Tidak heran diantara murid-murid Mbah Kiai Munawir hanya Kiai Arwani yang diberi ijazah Qiraah Sab’ah. Bahkan di depan para muridnya Mbah Kiai Munawir dawuh untuk belajar kepada Mbah Kiai Arwani saja jikalau beliau wafat.

Gus Baha’ kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur’an di bawah asuhan ayahnya sendiri, KH Nursalim Al-Hafidz.

Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

KH. Bahauddin Nur Salim ( Gus Baha ) :

” Jasanipun Mbah Arwani mempopulerkan Qira’ah Sab’ah teng Indonesia nerusaken gurunipun: Mbah Munawwir mugi-mugi diwales Pengeran: “Jazaan Hasanan”. Umpono mboten wonten Mbah Arwani, mboten Wonten Mbah Munawwir mungkin Qira’ah Sab’ah di Indonesia tidak ada. Barokahe beliau-beliau ada “

“Kiai Arwani dan Kiai Munawwir punya peran besar dalam mempopulerkan Qira’ah Sab’ah di Indonesia”

الفاتحة لهم

Sumber : FB Ngaji kyai

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *