KH. Samlan bin Karman bin Abu Nadir lahir di Kuala Tungkal pada 06 April 1949 M.
Pada tahun 1974 M, beliau menuntut ilmu di Damaskus atas saran dari KH. Idham Chalid (Ketua Umum Tanfidziyah PBNU 1957-1979).
Keterkaitannya KH. Idham Chalid dengan ulama Kuala Tungkal bisa dikatakan berasal dari pernikahan putrinya dengan putra KH. Ali Maksum Teluk Nilau yang mana saat acara pernikahannya di hadiri Presiden Soeharto, tutur Ust. Ahmad Jauhari (Cucu-Keponakan KH. Ali Maksum). Begitu pula KH. Samlan bin Karman saat menjadi pelajar di Damaskus, beliau pernah mendampingi Presiden Soeharto saat kunjungannya ke Damaskus. Saat acara Munas VI Majelis Ulama Indonesia di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta ( 25-29 Juli 2000). KH. Abdul Halim Kasim ulama dari Kuala Tungkal sempat bertemu dan berfoto bersama dengan KH. Idham Chalid.
Selain itu KH. Muhammad Chalid yang tak lain adalah ayah KH. Idham Chalid juga, pernah berkunjung ke Kuala Tungkal.
Setelah menyelesaikan studinya di Damaskus tahun 1993 M, KH. Samlan bin Karman pulang ke Indonesia. Menjadi Dosen di IAIN Antasari Banjarmasin dan menjadi pengajar di Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha), Amuntai yang didirikan oleh Tuan Guru Haji Abdurrasyid (w. 1934 M).
Guru-Guru KH. Samlan bin Karman. Diantaranya:
1. KH Ahmad Dahlan bin Usman Padang Besar Amuntai
2. Syekh Ahmad bin Muhammad Amin Keftaro (w. 2004 M)
3. Syekh Muhyiddin Darwish (Pengarang kitab I’rob Al-Qur’an al-Karim wa Bayanihi, 9 Jilid)
4. Syekh Muhammad Abdul al-Latif bin Shalih al-Farfur
5. Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi (w. 2013 M).
Waallahu ‘Alam
Jambi, 07 April 2021

No responses yet