الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ, وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ, فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا, وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ, وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ, هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ, اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ, فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُبِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, وَتَزَوَّدُوا, فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ, وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ. صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ.
Hadirin, jamaah jum’ah as’adakumullah
Marj kita selalu berusaha meningkatkan kualitas ketaqwaan kita dengan cara :
امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ, وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ, سِرًّا وَعَلَانِيَّةً, ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Kita melaksanakan segala perintah Allah SWT, dan kita menjauhi segala larangan-Nya. Sirron wa alâ niyyatan, baik sembunyi2 maupun terang2an. Dhoohiran wa baathinan, lahir maupun batin. Dilihat, maupun tidak dilihat orang. Dipuji, maupun tidak dipuji orang. Kita tetap melaksanakan, apa yg diwajibkan Allah swt kepada kita.
Wasiat taqwa ini, bukanlah sekadar wasiat rutinitas belaka, yg biasa disampaikan, oleh para khotib, di setiap mimbar Jumat. Namun, menurut Waliyyul Quthub wa Shohibur Rotib, Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad rahimahullah (wafat tahun 1720 M di Tarim, Yaman), dalam kitabnya, an-Nashoihud Diniyyah Wal Washoyal Imaniyyah, wasiat takwa adalah:
وَصِيَّةُ اللهُ رَبُّ الْعَالمَين, لِلأَوَّلِيْنَ وَالأخِرِيْن, وَالسَّابِقِيْنَ وَاللَّاحِقِيْنَ.
Wasiat Allah SWT, Tuhan semesta alam, bagi orang2 dahulu, orang2 sekarang, maupun orang2 yg akan datang. Semoga Allah Ta’ala, menerima amal Soleh kita, baik yg wajib maupun yg sunnah. Aamiin yaa Robbal Alamin.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Rajab telah berlalu, umat Muslim sudah memasuki tanggal 8 bulan Sya’ban. Salah satu bulan utama, yg dicintai Rasulullah Saw. Syekh Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Jawi Al-Makki Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 1897 M hu di Jannatul Ma’la Makkah) dalam kitab Nihayatuz Zain syarah Qurratul ‘Ain, menyatakan bahwa, “Bulan yg paling utama adalah Ramadan, kemudian Rajab, lalu Zulhijah, Zulkaidah, dan Sya’ban.”
Kata ‘Sya’ban’ juga berasal dari kata SYI’AB, yg bisa dimaknai sebagai jalan setapak menuju puncak. Artinya bulan Sya’ban adalah bulan persiapan, yg disediakan oleh Allah SWT kepada hambanya, untuk menguatkan keimanannya, sebagai persiapan menghadapi puncak bulan Ramadlan.
Perjalanan menuju puncak, bukanlah hal yang mudah. Pasti butuh persiapan2 matang, yg melelahkan dan menguras energi. Selain berbagai macam pelatihan, disertai kesungguhan hati dan niat yang suci, untuk persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-‘Ankabut ayat 69 :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang2 yg bersungguh2 untuk (mencari keridhaan) Kami, benar2 akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan2 Kami. Dan sesungguhnya Allah benar2 beserta orang2 yg berbuat baik.”
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Sahabat Usamah bin Zaid bin Haritsah RA (wafat 673 M, Madinah), pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, mengapa sering berpuasa di bulan Sya’ban?” Jawab Nabi Saw; “Itulah bulan yg manusia lalai darinya; bulan di antara Rajab dan Ramadan, pada bulan itu, (catatan) amal perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, sehingga aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Imam An-Nasai rahimahullah yg wafat di Makkah tahun 915 M)
Syaikh Shafiyurahman Al-Mubarakfuri rahimahullah (Wafat 2006 M di India) dalam kitab Minnatul Mun’im fii Syarh Shahih Muslim menyatakan, Nabi Muhammad Saw berpuasa sunah di bulan Sya’ban lebih sering dari pada berpuasa di bulan lainnya.
Imam Muhammad as-Sindi Al-Madani rahimahullah (wafat 1760 M Madinah) dalam kitab Syarah Sunan an-Nasai menyatakan, amalan manusia dilaporkan setiap hari, adapun amalan mingguan diangkat setiap Senin dan Kamis, dan amalan tahunan dilaporkan setiap bulan Sya’ban.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Selain keutamaan Amaliah puasa Sunnah, ada satu Amaliah yg juga sering dilupakan oleh kaum muslimin, sebagaimana riwayat 2 ulama tabi’in, yg keduanya bergelar abu Yahya, yaitu Imam Abu Yahya Salamah bin Kuhail bin Husain rahimahullah (wafat 738 M di Kufah) dan Imam Abu Yahya Habib bin Abi Tsabit bin Qais bin Dinar rahimahullah (wafat 737 M di Kufah), yg menyebut bulan Sya’ban dgn “SYAHRUL QURRO’ (bulan khusus membaca al Qur’an), untuk persiapan memasuki bulan Ramadhan.
Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Hasani Al-Makki (wafat 2004 M, di Jannatul Ma’la Makkah), dalam kitab kitab Maa Dzaa fi Sya‘ban, menceritakan bahwa, Orang2 salafus saleh terdahulu, lebih banyak membaca Al-Quran pada bulan Sya‘ban. Kebiasaan mereka kemudian ditandai oleh masyarakat sbg tradisi Amaliah. Tidak heran, kalau banyak ulama menamai bulan Sya‘ban sebagai syahru qiroatil Qur’an, “bulan para pembaca Al-Quran”.
Dalam kitab Latho’iful Ma’arif fima li Mawasimil Aami minal Wadho’if, Karya Imam Ibnu Rajab al Baghdadi al Dimasyqi al Hanbali rahimahullah (wafat tahun 1393 Mp, Damaskus, Suriah), meriwayatkan beberapa Amaliah para salafus sholeh, seperti Imam Amr bin Qais Al-Mala’i rahimahullah (wafat 763 M) mengurangi aktivitas bisnisnya di bulan Sya‘ban, hanya untuk meluangkan waktu untuk perbanyak tadarus Al-Quran. Beliau juga mengatakan bahwa, “Sungguh bahagia, orang yg memperbaiki dirinya dalam membaca Alquran, sebelum tiba bulan Ramadhan.”
Imam Hasan bin Sahal Az-Zaghuni Al-Baghdadi Al-Hambali rahimahullah (wafat 1132 M), guru dari Imam Ibnu Asakir ad-Dimasqi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 1176 M, Damaskus, Suriah), Syaikhul Islam Abul Faraj Ibnul Jauzi al-hambali rahimahullah (wafat 1201, Bagdad), Imam Ibnu Thobarzad al-Baghdadi rahimahullah (wafat 1210 M), meriwayatkan bahwa bulan Sya‘ban pernah bertanya kepada Allah, mengapa ia ditempatkan di antara dua bulan agung, yaitu Rajab dan Ramadhan? “Aku menjadikanmu sebagai bulan untuk umat-Ku bertadarus,” jawab Allah SWT.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Selain tadarus, umat Islam juga dianjurkan untuk banyak bersedekah kepada kalangan dhuafa. Hal ini dimaksudkan, agar kelompok penghasilan rendah dan tidak menentu dapat menyambut gembira bulan puasa ramadhan sebagaimana umat Islam menengah ke atas.
Dalam kitab Ma Dza fi Sya‘ban, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi bin al-Maliki al-Hasani rahimahullah, mengutip keterangan dari Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah yg mengatakan, ‘Kami menerima riwayat dgn sanad dari sahabat Anas bin Malik RA, yang mengatakan bahwa ketika masuk bulan Sya‘ban umat Islam tertunduk pada mushaf Al-Quran. Mereka menyibukkan diri dgn tadarus dan mengeluarkan harta mereka, untuk membantu kelompok dhuafa dan orang2 miskin dalam menyongsong bulan Ramadhan.
Tampaknya, selain Amaliah puasa Sunnah dan memperbanyak sholawat, ada dua amalan utama salafus saleh di bulan Sya‘ban, yaitu memperbanyak membaca Alquran dan bersedekah, yg perlu dihidupkan kembali, di tengah masyarakat sekarang. Keduanya merupakan ibadah yang mencakup aspek ritual dan sosial.
Dalam kitab Hilyatul Auliya wa thobaqotul asfiya, karya Imam Abu Nu’aim Al-Isfahani Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 1038 M, Isfahan, Iran), menyebutkan bahwa Ada dua ulama besar tabiin mulia yaitu Imam Yahya bin Abi Katsir Al Mutawakkil Ath Tha’i Al Bashri rahimahullah (wafat 749 M) dan Imam Makhul Asy Syami Ad-Dimasqi rahimahullah (wafat 730 M, murid Watsilah bin Al-Asqa’ bin ka’ab bin ‘Amir atau Abul Asqa’ Radhiyallahu Anhu, sahabat nabi yg wafat terakhir di Syam tahun 704 M), kedua ulama kibar tabiin tersebut, ketika menjelang bulan Ramadhan memperbanyak membaca doa :
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, jaga diriku hingga aku dapat memasuki bulan Ramadhan, jagalah bulan Ramadhan itu untukku (hingga aku tidak merusak puasa di bulan itu), dan terimalah dariku amal2ku.”
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Demikian khutbah ini, mudah-mudahan pada bulan sya’ban ini, kita senantiasa diberi kekuatan, kemudahan dan kemampuan, untuk memperbanyak kebaikan dan ketaatan, kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiiin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا, وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اَكْرَمَنَا بِالْإِيْمَانِ، وَاَعَزَّنَا بِالْإِسْلاَمِ، وَرَفَعْنَا بِالْإِحْسَانِ، اَحْمَدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ، اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ, وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ, وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّابَعْدُ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ – أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى :أَعُوْذُبِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ, حَقَّ تُقَاتِهِ, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ, وَاَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ, وَمَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ, وَاَهْلَ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ, وَارْضَ مَعَهُمْ, بِرَحْمَتِكِ, يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ, وَعَافِنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ, وَاعْفُ عَنَّا وَعَنِ الْمُسْلِمِيْنَ, وَقِنَا وَاِيَّاهُمْ, شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا, وَلِاَبَائِـنَا وَاُمَّهَاتِنَا, وَلِاَوْلاَدِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا, وَلِمَشَايِخِنَا, وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهَ وَسَلَّمَ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Masjid Miftahul Huda Pangsud Gresik
Jum’at 19 MARET 2021 M / 5 Sya’ban 1442 H
Written by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet