(1) SYEKH ABDURRAHMAN AL-KHALIDI (1777-1899) “BALIAU BATUHAMPAR”, PAYAKUMBUH

Batuhampar-Payakumbuh ialah pusat ilmu al-Qur’an dan Qira’at Sab’ah di Minangkabau pada abad 19 hingga awal abad 20. Ulama besar di Batuhampar ialah Syekh Abdurrahman al-Khalidi Naqsyabandi, yang tak lain ialah kakek dari Moh. Hatta (Proklamator RI). Dalam menuntut ilmu, beliau ialah ulama yang sangat gigih. Beliau berpamitan kepada ibunya untuk pergi menuntut ilmu dalam usia 15. Bekal yang beliau bawa hanya berupa sedikit beras, uang sepiak, dan satu buah Mushaf al-Qur’an. Beliau lalu berjalan seorang diri. Tempat yang beliau kunjungi buat pertama kali ialah Galogandang, Batusangkar. Dari Galogandang beliau berangkat ke Mekkah bersama gurunya. Bertahun-tahun di Mekkah, beliau pulang ke Aceh, yaitu daerah Tapak Tuan. Dari Tapak Tuan, beliau kembali ke Mekkah. Itu semua dilakukannya dalam rangka menuntut ilmu. Dari Mekkah lalu pulang ke Batuhampar. Ketika beliau pulang, usianya ketika itu sudah 63 tahun.

Dalam usia yang sudah tua, beliau dikabarkan tidak begitu ingat jalan ke Batuhampar. Sampai di Barulak, beliau melihat dari kejauhan seorang perempuan tua berusia di atas 80 tahun. Dengan maksud ingin bertanya jalan ke Batuhampar, beliau hampiri perempuan itu. Tak disangka, ternyata perempuan itu tak lain ialah ibunya sendiri yang sedang mengambil upah menuai padi. Keduanya lalu berpelukan haru. Sang ibu tak menyangka akan bertemu anaknya, karena mengira si anak sudah wafat. Maka Syekh Abdurrahman menggendong ibunya itu dari Barulak ke Batuhampar.

Sampai di Batuhampar, Syekh Abdurrahman mendirikan kampung dagang (kota santri, dagang = perantau), yang terbesar pada abad 19 (semua bangunan surau itu tak kurang dari 30 bangunan, dengan jumlah anak siak ratusan orang). Di sana ia mengajar al-Qur’an, Qira’at Sab’ah, dan Suluk hingga akhir hayatnya.

(2) SYEKH ABDURRAHMAN (w. 1932) “BALIAU KUMANGO”

Ulama besar sufi, pencipta silek Kumango, Syekh Abdurrahman Kumango, setelah insaf dari hidup sebagai parewa berniat ke Mekkah sesuai pesan gurunya. Dari Padang, tempat ia berjualan, ia pulang ke Kumango minta izin kepada orang tuanya untuk ke Mekkah. Setelah izin didapat, pergilah beliau berjalan kaki ke Mekkah. Mula-mula ke Medan, dari Medan menyeberangi Selat Malaka, terus Malaya, Pattani, hingga ke Mekkah. Tidak sedikit rintangan dan cobaan yang beliau hadapi, semuanya tidak mengurungkan niatnya buat beribadah dan menuntut ilmu agama di Mekkah. Di Mekkah beliau menuntut ilmu puluhan tahun lamanya, hingga memperoleh ijazah dari Syekh Muhammad Amin Ridhwan al-Madani di Madinah. Pulang ke Kumango, beliau dirinya surau bergonjong, yang kemudian dikenal dengan Surau Subarang, tempat beliau berkhitmat, mengajar agama.

(3) SYEKH SULAIMAN ARRASULI CANDUNG (1871-1970)

Syekh Sulaiman Arrasuli, salah satu pendiri PERTI, ketika menuntut ilmu di Halaban (kepada Syekh Abdullah Baliau Halaban, w. 1926) mengambil upah menseterika baju sebagai biaya hidup. Kesungguhannya menuntut ilmu tidak membuatnya putus asa meski kekurangan harta benda. Hasil kesungguhannya itu beliau diangkat sebagai “guru tuo” (wakil) Syekh Abdullah. Tidak main-main, tidak sembarangan orang bisa menjadi wakil Syekh Abdullah, sebab Syekh Abdullah ialah ulama kritis, ahli Mantiq dan Ushul Fiqih, yang telah mengalahkan ulama-ulama Luhak Limapuluh dalam berdebat (hanya Syekh Sa’ad Mungka yang mampu mengimbanginya), sangat selektif menerima guru tuo. Selain jadi guru tuo, Syekh Sulaiman dinikahkan oleh gurunya itu dengan anaknya yang bernama Siti Bagoyah. Dari Siti Bagoyah lahirlah Syaikhah Halimah Arrasuli, pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah Batubolang.

(4) SYEKH ABDUL LATIF SYAKUR (1889-1963), BALAI GURAH

Syekh Abdullatif Balaigurah, pendiri madrasah klasikal pertama, Tarbiyah Hasanah, dibawa ayahnya untuk belajar di Mekkah dalam usia yang belum genap 10 tahun. Karena tidak ada kapal ketika itu. Ayahnya membawa Abdullatif naik kapal ke Pulau Pinang. Setelah itu naik kapal ke Bombay. Setelah itu ke Habasyah. Lalu ke Jeddah. Meski susah dalam perjalan, ayahnya tidak putus asa. Malah selama perjalanan Abdullatif kecil mempelajari bahasa Urdu. Sampai di Mekkah beliau bernaung dibawah pengawasan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Waktu kecil ia sudah mulai belajar, mula-mulai dengan Syekh Khatib Alim Kumango, ulama asal Kumango (Batusangkar) yang ketika itu sudah mengajar di Mekkah 40 tahun lamanya.

(5) ABDUL JALIL “ANGKU MUDO BONJOL”

Abdul Jalil pernah belajar di Pattani, Thailand. Kegigihannya belajar, ketika menghafal Matan Ajurumiyah, ia membawa kelapa sebagai bantal tidur. Gunanya apa? Ini supaya ia tidak tidur sampai dapat hafal Matan Ajurumiyah. Karena bulat, setiap mengantuk berat, kepala Abdul Jalil jatuh ke lantai sehingga ia bangun lagi dan terus menghafal.

(6) SYEKH MUHAMMAD ISA AL-FADANI dan SYEKH MAHMUD “ANGKU HITAM”

Dua ulama asal Kayutanam ini besar niatnya untuk ke Mekkah, berhaji dan untuk menuntut ilmu. Maka dipilihlah hari yang tepat. Ketika masa tiba, keduanya berangkat ke Mekkah berjalan kaki. Bertahun-tahun lamanya baru sampai di Mekkah, karena setiap uang habis, mereka berhenti untuk bekerja. Uang dapat, baru mereka melanjutkan perjalanan. Begitu seterusnya. Sampai di Mekkah, setelah beribadah haji, mereka menuntut ilmu. Syekh Isa menetap sampai akhir hayatnya di Mekkah, sedangkan Syekh Mahmud pulang kembali ke Kayutanam. Syekh Isa tak lain ialah ayah dari ulama besar dunia abad 20 yaitu Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki.

(7) ABUYA SYEKH AIDARUS GHANI “BATU BASUREK”

Sebagai putra dari Syekh Abdul Ghani “Baliau Batubasurek”, ulama besar Kampar, Abuya Aidarus mempunyai minat yang besar untuk menuntut ilmu. Sebelum ke Aceh, beliau sempat menuntut ilmu ke Payakumbuh, yaitu kepada Syekh Ibrahim Harun “Baliau Bomban”. Adalah beliau pergi ke Payakumbuh dengan bersepeda, dari Batubersurat.

Dapatkah kita bayangkan, betapa gigihnya mereka bertalaqqi menuntut ilmu?! Sedangkan kita?!

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *